Berita Bekasi Nomor Satu

Quba, Masjid Takwa Pertama

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kamis pagi menjadi salah satu momen berkesan selama perjalanan ibadah saya di Tanah Suci. Sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi, saya bersama rombongan berkesempatan menziarahi Masjid Quba, salah satu masjid paling bersejarah dalam peradaban Islam.

Sejak turun dari bus, suasana di sekitar masjid sudah tampak begitu ramai. Ribuan jemaah dari berbagai negara memadati kawasan tersebut. Tidak hanya jemaah haji asal Indonesia, tetapi juga peziarah dari berbagai penjuru dunia yang datang untuk merasakan langsung jejak sejarah yang ditinggalkan Rasulullah SAW.

Bangunan Masjid Quba yang didominasi warna putih terlihat megah sekaligus menenangkan. Saya memasuki area masjid melalui pintu utama, sementara istri saya masuk melalui pintu 7 dan 8 yang memang dikhususkan bagi jemaah perempuan. Pemisahan jalur masuk membuat arus jemaah tetap tertib meski jumlah pengunjung sangat banyak.

Sesampainya di dalam, saya dan rombongan langsung melaksanakan salat tahiyatul masjid dilanjutkan salat duha. Suasana khusyuk begitu terasa. Di antara ribuan orang yang hadir, setiap jemaah tampak larut dalam doa dan harapan masing-masing.

Usai beribadah, saya menyempatkan diri berkeliling area masjid. Di beberapa sudut terlihat aktivitas pembangunan dan perluasan yang masih berlangsung. Tumpukan pasir dan tanah tampak berada di halaman depan, menandakan upaya pemerintah Arab Saudi untuk terus meningkatkan kapasitas dan kenyamanan masjid bersejarah tersebut.

Pemandu rombongan kami menjelaskan bahwa kawasan Masjid Quba memiliki kehidupan yang berbeda saat malam hari.

“Kalau malam di sini ramai sekali. Biasanya warga asli sini banyak keluar malam hari karena sekarang sedang musim panas,” ujar pemandu kepada rombongan.

Di halaman masjid juga terdapat sejumlah fasilitas pendukung seperti coffee shop dan toko-toko suvenir yang ramai dikunjungi jemaah. Banyak peziarah memanfaatkan kesempatan itu untuk membeli oleh-oleh atau sekadar beristirahat setelah beribadah.

Bagi umat Islam, Masjid Quba bukan sekadar destinasi wisata religi. Masjid yang berjarak sekitar empat kilometer dari Masjid Nabawi ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Masjid Quba dipercaya sebagai masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Sejarah mencatat, ketika Rasulullah tiba di kawasan Quba, beliau singgah selama beberapa hari sembari menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib. Di tempat itulah pembangunan masjid dimulai bersama para sahabat.

Keistimewaan lainnya, Masjid Quba disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa. Penyebutan tersebut terdapat dalam Surat At-Taubah ayat 107 hingga 110 yang membedakan Masjid Quba dengan Masjid Dirar, sebuah bangunan yang didirikan oleh kelompok munafik untuk memecah belah umat Islam.

Kini, Masjid Quba terus berkembang tanpa meninggalkan nilai sejarahnya. Luas kompleks masjid mencapai sekitar 50 ribu meter persegi dengan kapasitas hingga puluhan ribu jemaah. Kubah-kubah putih, menara yang menjulang, serta halaman marmer yang luas menjadi pemandangan yang memikat setiap pengunjung.

Berdiri di pelataran Masjid Quba pagi itu, saya merasakan bahwa tempat ini bukan hanya bangunan bersejarah. Ia adalah saksi perjalanan hijrah, perjuangan, dan keteladanan Rasulullah SAW yang tetap hidup hingga hari ini.

Di tengah keramaian ribuan peziarah, saya menatap bangunan putih itu sejenak sebelum meninggalkan kawasan masjid. Dalam hati, saya bersyukur dapat menapakkan kaki di tempat yang dibangun atas dasar takwa, tempat yang menjadi salah satu tonggak penting lahirnya peradaban Islam.(*)