RADARBEKASI.ID, BEKASI – Wisata pesisir di perbatasan Kecamatan Tarumajaya dan Babelan kini berada di titik nadir. Hantaman alih fungsi lahan perlahan mematikan magnet pelesiran bahari lokal yang sempat jaya pada masanya.
Ikon legendaris Jembatan Cinta di TPI Paljaya, Desa Segarajaya, kini rusak parah. Nasib serupa dialami objek wisata Sunge Jingkem yang sudah tidak lagi beroperasi. Di tengah meredupnya destinasi wisata pesisir tersebut, ekowisata Sungai Rindu masih bertahan sebagai satu-satunya wisata alam yang aktif menyambut wisatawan maupun para pemancing.
Secara administratif, gerbang utama dan jalur jelajah Sungai Rindu berada di kawasan perbatasan Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, dan Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya. Pengunjung dapat mengakses lokasi dari TPI Paljaya dengan menaiki perahu wisata seharga Rp25 ribu. Dalam perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan mangrove yang rimbun dan asri.
Pengelola Wisata Sungai Rindu, Putra Rimba, mengatakan objek wisata berbasis konservasi alam ini mulai dirintis pada pertengahan 2018 atas inisiatif para pemuda setempat. Mereka terinspirasi dari kejayaan Jembatan Cinta yang saat itu menjadi destinasi favorit. Nama Sungai Rindu dipilih agar tetap memiliki keterkaitan dengan Jembatan Cinta, dengan harapan setiap pengunjung selalu rindu untuk kembali.
Daya tarik utama yang ditawarkan adalah pengalaman menyusuri kawasan mangrove melalui paket wisata bertajuk Sisir Susur Sungai. Pengelola membangun jembatan anyaman bambu sepanjang sekitar 700 hingga 800 meter yang membelah rimbunnya hutan mangrove. Jalur tersebut memungkinkan wisatawan menikmati keindahan muara tanpa mengganggu ekosistem di bawahnya.
“Karena wilayah kita di sini masuknya hutan mangrove, jadi kita manfaatin potensi yang ada,” ujar Putra, pekan kemarin.
Selain panorama alam, Sungai Rindu juga menjadi surga bagi para pencinta olahraga memancing. Kondisi hutan mangrove yang masih terjaga membuat berbagai jenis ikan air payau dan laut berkembang biak dengan baik.
“Kalau untuk pemancing biasanya targetnya Baramundi atau Kakap Putih, Bandeng, Peropak, Sembilang, Mujair Nila, Ikan Kiper, kalau di sini orang-orang bilang Lundu. Dan ikan-ikan laut lainnya juga ada,” tutur Putra.
Wisatawan umum dikenakan tiket masuk Rp5 ribu, sedangkan pemancing membayar Rp10 ribu. Untuk menunjang kenyamanan, pengelola juga menyediakan area kuliner khas pesisir dan bilik karaoke keluarga.
Ke depan, pengelola berencana menambah berbagai fasilitas, mulai dari penginapan khusus pemancing hingga area berkemah lengkap dengan perlengkapan tenda.
“Rencananya ke depan bakalan ada spot penginapan khusus untu pemancing. Dan yang hobi camping nanti kita siapin tendanya, jadi satu paket,” katanya.
Putra mengakui, menjadi satu-satunya wisata pesisir yang masih bertahan bukan perkara mudah. Bersama para pemuda setempat, ia terus berupaya menjaga kawasan mangrove di tengah derasnya alih fungsi lahan menjadi kawasan industri maupun proyek pembangunan agar tidak bernasib sama seperti destinasi pesisir lain yang perlahan menghilang.
“Kalau bicara mempertahankan, kami para pemuda berusaha membangkitkan lagi wisata di Bekasi. Saat ini pembangunan tetap berjalan, tapi wisata tetap kami buka untuk para pengunjung dan angler,” katanya.
Melalui keberadaan Sungai Rindu, para pengelola ingin membuktikan bahwa potensi wisata bahari Kabupaten Bekasi masih ada dan layak dipertahankan.
“Kita berharap wisata di Bekasi ini semuanya bisa eksis lagi, bisa ada pendapatan untuk daerah maupun masyarakat setempat. Dan wisatawan pun bakalan bisa nikmatin hutan mangrove di Kabupaten Bekasi itu masih aktif, masih ada, masih bagus,” pungkasnya. (ris)











