Berita Bekasi Nomor Satu

Melihat Lebih Dekat Kedai Inspirasi di Rawalumbu yang Mematahkan Stigma Disabilitas: Dari Keterbatasan Lahir Semangat untuk Berkarya

MEMBUKA KESEMPATAN: Berangkat dari pengalaman menghadapi diskriminasi, ia membangun usaha yang mempekerjakan penyandang disabilitas sebagai wujud pemberdayaan dan kemandirian. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tak banyak tempat yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Di sebuah kedai sederhana di Jalan Tawang Mangu, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, kesempatan itu justru menjadi alasan utama tempat ini berdiri. Di balik sajian makanan dan minuman, ada semangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan seseorang kehilangan masa depan.

Pintu Kedai Inspirasi terbuka menyambut setiap pengunjung yang datang. Meja dan kursi tertata sederhana. Seorang pelayan menghampiri tamu yang baru duduk, mencatat pesanan, lalu menyampaikannya ke dapur. Tak lama kemudian, makanan dan minuman diantar ke meja dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah para pekerja.

Suasana itu tak berbeda dengan kedai-kedai lainnya. Percakapan pelanggan terdengar mengalir, sesekali diselingi tawa. Namun, ada satu hal yang membuat Kedai Inspirasi berbeda. Sebagian besar orang yang bekerja di tempat itu merupakan penyandang disabilitas.

Ada yang bertugas melayani pelanggan, ada yang membantu di dapur, ada pula yang mengurus minuman dan kebutuhan operasional. Mereka bekerja sesuai kemampuan masing-masing, saling melengkapi dalam setiap aktivitas di kedai.

MELAYANI DENGAN SEMANGAT: Wiwin (42), penyandang disabilitas, mengantarkan pesanan kepada pelanggan di Kedai Inspirasi, Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (5/7). (Insert) Paini (55) berpose di Kedai Inspirasi, Rawalumbu, Kota Bekasi. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

Di balik berdirinya tempat itu, ada sosok Paini (55). Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang menetap di Bekasi sejak 1992 itu bukan hanya pemilik kedai, tetapi juga penyandang disabilitas sejak lahir. Tangan dan kakinya tidak tumbuh sempurna.

Pengalaman hidupnya membuat Paini memahami betul bagaimana sulitnya penyandang disabilitas memperoleh kesempatan. Selama bertahun-tahun ia merasakan sendiri bagaimana masyarakat sering memandang sebelah mata.

“Selama ini penyandang disabilitas masih kurang dipercaya, kurang diberi ruang. Bahkan banyak yang menganggap kami tidak mampu melakukan apa-apa,” katanya.

Perlakuan itu yang kemudian mengusik pikirannya. Ia tak ingin penyandang disabilitas terus hidup bergantung kepada orang lain hanya karena tidak memiliki akses terhadap pekerjaan.

Tekad itu melahirkan Rumah Singgah Disabilitas Mandiri pada 2007. Tempat tersebut menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk belajar keterampilan sekaligus mempersiapkan diri agar mampu hidup mandiri.

Hampir dua dekade kemudian, Paini merasa pembinaan saja belum cukup. Para penyandang disabilitas membutuhkan ruang untuk benar-benar bekerja. Dari situlah lahir Kedai Inspirasi yang mulai beroperasi pada Januari 2025.

Baginya, kedai itu bukan semata tempat menjual makanan dan minuman.

“Tujuan kami adalah bagaimana teman-teman disabilitas bisa hidup mandiri dan produktif,” ujarnya.

Saat ini terdapat tujuh pekerja di Kedai Inspirasi. Lima orang merupakan penyandang disabilitas, sedangkan dua lainnya non-disabilitas.

Mereka berasal dari berbagai ragam disabilitas. Ada penyandang disabilitas fisik, tuli, grahita, hingga netra. Masing-masing diberi tanggung jawab sesuai kemampuan yang dimiliki.

Ada yang melayani pelanggan, mengatur penyajian makanan, membantu di dapur, hingga menangani kebutuhan operasional. Pembagian tugas itu dilakukan agar setiap orang dapat bekerja dengan nyaman sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.

Paini mengatakan, proses rekrutmen di tempatnya tidak pernah melihat keterbatasan seseorang. Tidak ada syarat pendidikan tinggi maupun pengalaman kerja.

Yang paling utama, kata dia, adalah kemauan untuk belajar.

“Syaratnya hanya mau, sungguh-sungguh, dan siap berproses. Kami percaya kalau ingin berhasil memang harus siap berjuang lebih dulu,” ucapnya.

Bagi Paini, pekerjaan bukan hanya soal memperoleh penghasilan. Kesempatan bekerja juga menjadi jalan untuk mengembalikan rasa percaya diri para penyandang disabilitas yang selama ini kerap dipandang tidak mampu.

Ia mengaku bangga melihat perubahan yang dialami para pekerjanya. Mereka yang semula minder perlahan menjadi lebih percaya diri ketika berinteraksi dengan pelanggan maupun masyarakat.

Meski demikian, perjuangan membangun usaha yang memberdayakan penyandang disabilitas bukan perkara mudah.

Berbagai keterbatasan masih dihadapi, mulai dari fasilitas, biaya operasional hingga stigma yang belum sepenuhnya hilang. Namun Paini memilih terus berjalan.

Menurutnya, perubahan tidak bisa terjadi hanya dengan menunggu masyarakat mengubah cara pandang. Penyandang disabilitas juga harus diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Upaya itu perlahan membuahkan hasil.

“Alhamdulillah sekitar 90 persen respons masyarakat sangat baik. Banyak yang mendukung keberadaan kami,” katanya.

Dukungan juga datang dari lingkungan sekitar. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan pada awal berdiri, keberadaan Kedai Inspirasi kini diterima sebagai bagian dari upaya memberdayakan penyandang disabilitas.

Namun Paini menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Ia menyebut jumlah penyandang disabilitas di Kota Bekasi mencapai sekitar 7.000 orang. Sayangnya, tidak sedikit yang masih hidup dalam garis kemiskinan karena minimnya akses pendidikan maupun pekerjaan.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat lebih serius memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas, termasuk mendukung pelaku usaha yang membuka kesempatan kerja bagi mereka.

“Saya berharap pemerintah bisa bergandengan tangan dengan kami. Beri ruang dan kesempatan, maka penyandang disabilitas akan bisa maju dan berkarya,” ujarnya.

Harapan itu sederhana. Ia ingin semakin banyak penyandang disabilitas yang tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai pribadi yang mampu bekerja, menghasilkan karya, dan hidup mandiri.

Di Kedai Inspirasi, setiap pesanan yang tersaji bukan hanya tentang makanan atau minuman yang dinikmati pelanggan. Ada perjuangan panjang yang ikut dihidangkan dalam setiap pelayanan. (rez)