Berita Bekasi Nomor Satu

Sutrimo Winda

 

Oleh: Dahlan Iskan

Winda Lorenza Gowasa tewas ditembak di kamar mandi di rumah bekas mertua di Medan.

Sutrimo, penjaga rumah Febrie Adriansyah, juga meninggal dunia secara mencurigakan di Jakarta.

Tragedi Winda bisa saja kriminal murni. Bunuh diri. Kematian Sutrimo bisa saja akibat sakit mendadak. Tapi jagat medsos heboh: menghubungkannya dengan korupsi tingkat tinggi.

Sutrimo dikaitkan dengan ditemukannya uang Rp 460 miliar dan emas 74 kg di rumah (saat itu) pejabat tertinggi di pusat komando pemberantasan korupsi Kejaksaan Agung: Febrie Adriansyah.

Winda dihubungkan dengan kasus korupsi besar di Ditjen Bea Cukai di mana dia jadi salah satu saksi yang sudah diperiksa KPK.

Soal bea cukai, sudah lima orang dinyatakan sebagai tersangka. Tiga-tiganya pejabat tinggi Ditjen Bea Cukai: Rizal, direktur penindakan dan penyidikan; Sisprian Subiaksono, kepala Subdirektorat Intelijen; dan Orlando Hamonangan, kepala seksi intelijen.

Dua orang lagi dari perusahaan impor/ekspor PT Blueray Cargo: John Field selaku pemilik, Andri yang bertanggung jawab atas dokumen importasi; dan Dedy Kurniawan, manajer operasional.

Di kalangan pengusaha cargo nama Blueray melejit setahun terakhir. Dulunya Blueray tergolong perusahaan cargo menengah kecil. Lalu naik daun. Itu karena Blueray bisa memberikan jasa impor ekspor lebih murah. Dan lagi bisa cepat lolos di bea cukai.

Anda sudah tahu: dari hasil pemeriksaan, miliaran uang mengalir dari Blueray ke para pejabat di Ditjen Bea Cukai. Setiap bulannya. Sejauh ini dirjennya sendiri, Letjen Djaka Budi Utama, masih aman. Namanya sudah sering disebut tapi belum ada pengumuman jadi tersangka.

Anda masih ingat: Presiden Prabowo sangat geram akan praktik penyelundupan. Pengangkatan Letjen Djaka diharapkan akan mampu ”membongkar habis” praktik patgulipat di bea cukai. Karena itu yang ditunjuk sebagai pejabat baru sampai jendral berbintang tiga.

 

Awalnya masih dipertanyakan: apakah Winda yang tewas akibat tembakan itu sama dengan Winda yang jadi saksi di KPK dalam kaitan dengan Blueray. Bisa saja namanyi sama. KPK tidak segera memberikan klarifikasi. Maka spekulasi di medsos terus mengatakan yang tewas itu nama yang sama dengan yang jadi saksi di KPK.

Sebenarnya lebih rumit dari itu. Winda tewas di kamar mandi di rumah bekas mertua. Dikatakan ”bekas” karena Winda sudah bercerai dengan suami: seorang polisi di Medan.

Tapi malam itu Winda tidur di rumah mertua. Mantan suami juga masih ada di rumah itu. Menurut sumber tepercaya Disway, keduanya masih tidur satu kamar. Anak mereka pun masih tinggal di rumah itu.

Dilihat dari lokasi rumah mertua ini, tampak mertua Winda orang berada. Kompleks perumahan ini tergolong perumahan cukup mahal di Medan: di Helvetia. Sedang Winda sendiri berasal dari daerah jauh di luar kota Medan.

Hasil lab menunjukkan bahwa Winda tewas akibat tembakan pistol revolver milik mantan suami. Si mantan memang seorang polisi yang punya wewenang untuk membawa pistol ke rumah. Semuanya sesuai prosedur. Masalahnya, lab mengatakan Winda tewas akibat tembakan tempel (ujung pistol menempel di kepala Winda). Pistol itu milik mantan.

Sang mantan kini sudah diamankan di Propam Polda Sumut. Pengakuannya: Winda tewas karena bunuh diri. Sumber itu menyebut Winda sebelum itu pun memang pernah berusaha bunuh diri.

Komisi III DPR sampai ke Medan untuk menjernihkan persoalan ini. Komisi III (bidang hukum) minta agar tewasnya Winda diungkap secara transparan. Termasuk bagaimana pistol sang mantan bisa dipakai untuk ”bunuh diri”.

Juga harus transparan: apa hubungan Winda dengan Blueray.

Yang jelas, di kalangan bisnis cargo, nama Blueray identik dengan harga murah. ”Harga lebih murah” itulah yang menjadi awal ”iri hati”: pasti ada apa-apanya.

Anda sudah tahu: setiap produk bermerk asal luar negeri pasti sudah ada agen resminya di Indonesia. Bahkan ada agen tunggalnya. Sejak Blueray merajalela, para agen tunggal itu menjerit dalam bisik-bisik: kok barang yang diageninya beredar di pasar dengan harga jauh lebih murah. Termasuk I-Phone terbaru. Pun baju-baju bermerek.

Para agen itulah yang kemudian melacak: ada apa di balik itu. Mereka menemukan ada Blueray yang memasukkannya. Mereka pun lapor polisi. Dilakukanlah penggerebekan. Sampai ditemukan ribuan HP selundupan yang sudah bisa langsung dipakai tanpa mengurus IMEI yang mahal itu.

Pun di bidang ekspor. Sarang burung adalah komoditi yang ekspornya dibatasi. Dikenakan pula pajak ekspor. Lewat Blueray sarang burung Anda bisa diekspor dengan harga lebih baik.

Dan banyak lagi.

Lepas ada hubungan atau tidak tewasnya Winda telah ikut jadi bumbu perkara ini.

Pun meninggalnya Sutrimo. Orang Banyumas ini sudah diminta pulang ke kampungnya setelah dilakukan penggeledahan di rumah Febrie.

Tapi beberapa hari kemudian Sutrimo diminta balik ke Jakarta. Ketika ia beralasan tidak punya uang, pihak Jakarta kirim uang untuk beli tiket kereta. Bahkan kirim dua orang yang menemani Sutrimo kembali ke Jakarta.

Sayang Sutrimo kemudian meninggal dunia. Kita tidak bisa bertanya kepadanya: sebagai penjaga malam di rumah pejabat tinggi yang begitu penting mengapa ia meloloskan petugas penggeledah masuk ke rumah Febrie.

Anda bisa bantu menjawabnya seolah-olah Anda Sutrimo. (Dahlan Iskan)