Berita Bekasi Nomor Satu

Dosen Geografi UM.ID Ungkap Faktor Sulitnya Akses Air Bersih di Bojongmangu

POMPA AIR: Warga memancing pompa air di areal persawahan di Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Rabu (12/8/2026). FOTO: ARIESANT RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM.ID), Yoga Chandra Maulana, mengungkap faktor sulitnya akses air bersih di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi.

Yoga menyampaikan topografi wilayah selatan Kabupaten Bekasi merupakan dataran paling tinggi dan jauh dari aliran sungai besar. Kondisi itu membuat persediaan air bergantung pada hujan. Struktur batuan juga membuat sumber air bersih sulit didapat dari lapisan tanah dangkal.

Berdasarkan penelitian, struktur batuan Bojongmangu terdiri atas sedimen kala neogen-miosen di lapisan atas, endapan vulkanik muda di lapisan tengah, dan formasi karst cibukalan di lapisan bawah.

“Kemudian ada faktor lain secara geologis yaitu patahan baribis, yang mengakibatkan terpotongnya akuifer,” katanya kepada Radar Bekasi, Kamis (13/8/2026).

Sumur warga dengan kedalaman 10 hingga 50 meter hanya menjangkau air tanah dangkal. Sementara lapisan air tanah dalam dapat dijangkau pada kedalaman 150 hingga 200 meter.

BACA JUGA: 76 Tahun Kabupaten Bekasi, Air Bersih Belum Tuntas di Bojongmangu

“Memang air tanah dangkal itu sangat fluktuatif terkait dengan asupan air hujan atau sungai, itu memang sangat terbatas. Contoh saat musim kemarau suplai air berkurang atau berhenti, otomatis sumur akan cepat kering,” ungkapnya.

Sebagai solusi, pemerintah dapat membangun embung untuk menjadi cadangan air permukaan, seperti yang dilakukan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dosen Geografi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM.ID), Yoga Chandra Maulana

“Pertama dengan pembuatan embung, hanya saja memang ada treatment khusus seperti dilapisi geomembran,” ujar Yoga.

Selain untuk kebutuhan irigasi, air tersebut dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pemerintah dapat berinvestasi melalui perusahaan daerah atau PDAM untuk mengolah dan menyalurkan air tersebut.

Solusi lain yakni membangun sumur bor hingga mencapai lapisan air tanah dalam. Cara ini sulit dilakukan masyarakat secara mandiri karena membutuhkan biaya besar. Karena itu, diperlukan intervensi pemerintah, termasuk dalam operasional dan pemeliharaannya.

“Cuma ini kalau untuk masyarakat sendiri lumayan berat, karena memang biaya untuk pengeboran ratusan meter itu kan cukup besar,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, dapat bekerja sama dengan pihak swasta atau perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung penyediaan sarana air bersih di Bojongmangu. (sur)