Oleh: Dahlan Iskan
Hanya sekali saya bertemu Zhu Rongji. Di Nanjing, Jiangshu. Sudah lama sekali. Itu pun bukan pertemuan khusus. Tepatnya: saya hanya melihat beliau. Menghadiri pidatonya. Tidak lebih dari itu.
Setelah tidak menjabat perdana menteri Zhu Rongji seperti hilang dari bumi. Dari orang yang amat populer menjadi tidak sekali pun muncul di media.
Selama 23 tahun orang tidak tahu lagi di mana Zhu Rongji. Orang juga tidak tahu apa saja yang dilakukannya setelah tidak jadi perdana menteri.
Itulah budaya politik di Tiongkok: yang sudah pensiun tidak pernah mau tampil di publik. Mereka konsisten menjadi pertapa. Pun orang yang menjadi presiden di saat Zhu Rongji jadi perdana menteri: Jiang Zemin.
Presiden Jiang tidak pernah muncul di permukaan. Padahal kurang hebat apa Presiden Jiang. Ia adalah presiden yang mengubah Partai Komunis Tiongkok dari partai berkaki dua –buruh dan tani– menjadi partai berkaki tiga: buruh, tani, pengusaha.
Pasti Jiang adalah orang yang sangat kuat: bagaimana bisa membuat pengusaha menjadi soko guru partai komunis. Bukankah komunis lahir sebagai alat perjuangan kelas melawan kapitalisme? Bagaimana bisa kapitalis (pengusaha) justru jadi soko guru komunis di Tiongkok?
Orang sekelas Presiden Jiang Zemin pun tidak diketahui di mana keberadaannya dan melakukan apa. Setelah tidak jadi presiden namanya hilang sehilang-hilangnya. Begitu juga Zhu Rongji. Tiba-tiba saja ada berita di media, kemarin, Zhu Rongji meninggal dunia: 12 Agustus 2026. Di usia 97 tahun.
Kalau pun nama Zhu Rongji sering muncul di media, itu media di luar negeri. Seperti media di Indonesia. Nama Zhu Rongji sering disebut sebagai contoh ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Anda sudah hafal kata-kata Zhu Rongji ini: “sediakan 100 peti mati. Yang 99 untuk koruptor. Yang satu untuk saya”.
Artinya: ia sudah siap mati dibunuh oleh orang-orangnya koruptor sebagai bentuk balas dendam mereka atas ketegasan Zhu dalam memberantas korupsi di Tiongkok.
Kata-kata Zhu Rongji itu sudah seperti mantera di mana-mana. Rasanya kata-kata itu hanya kalah populer dengan apa yang dipidatokan Presiden Prabowo: “Akan saya kejar koruptor sampai ke Antartika”.
Tentu meninggalnya Zhu Rongji tidak membuat istilah ‘100 peti mati’ ikut terkubur. Kata-kata itu akan terus hidup dan diucapkan oleh orang yang ingin korupsi diberantas sampai Antartika. Pun kata-kata Prabowo akan terus dikutip orang di Indonesia.
Meninggalnya Zhu Rongji juga tiba-tiba mengingatkan saya ke Nanjing. Itu tahun 2001. Tiga bulan sebelum Tiongkok masuk organisasi perdagangan dunia (WTO).
Waktu itu dunia Barat sedang merayu Tiongkok untuk mau masuk WTO. Maksudnya agar Tiongkok bisa ‘didisiplinkan’ lewat WTO. Tiongkok harus tunduk pada cara-cara dagang dunia.
Terasa sekali Tiongkok sedang meyakinkan rakyat mereka: masuk WTO itu baik. Kelihatan sekali pengusaha di sana takut kalau Tiongkok masuk WTO tidak bisa bebas lagi berdagang ke seluruh dunia. Sangkaan yang tentu saja salah.
Kota Nanjing sendiri –pernah jadi ibukota Tiongkok– waktu itu masih kumuh. Masih di awal pembangunan menuju modernisasi. Jalan-jalan dalam kota baru dilebarkan. Masih berdebu. Pohon-pohon di pinggir jalan baru ditanam. Masih tampak baru tumbuh. Inilah kali pertama saya melihat: pohon yang baru ditanam tapi besarnya sudah sebesar tubuh orang Indonesia. Waktu itu di kita masih terbiasa menanam pohon itu menanam bibit pohon yang masih kecil.
Apa yang saya lihat di Nanjing itu terus hidup di benak saya. Kelak, setiap kali membangun gedung baru saya minta agar pohon yang ditanam di halamannya adalah pohon yang sudah besar. Saya ikut tidak sabar menunggu rindangnya pohon yang memakan waktu sampai lebih 10 tahun.
Di pertemuan besar di Nanjing itu delegasi dari Indonesia lebih 200 orang. Dari Surabaya saja 40 orang. Satu bus penuh. Meski itu pertemuan besar pengusaha Tionghoa sedunia –hua shang da hui/ 华商 大会– saya bisa menjadi delegasi Indonesia.
Di tahun itu saya sudah dianggap keluarga Tionghoa –lima tahun sebelum menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok.
Sejak itu saya beberapa kali kembali ke Nanjing. Setiap kali pula saya lihat perubahan yang amat besar. Pun di seluruh Tiongkok. Dua tahun kemudian saya ikut sekali lagi 华商大会: di Kuala Lumpur.
Zhu Rongji adalah salah satu pemimpin besar Tiongkok modern. Semua pemimpin Tiongkok tidak lagi ikut cawe-cawe di urusan negara setelahnya. Tidak ada misalnya mantan presiden yang bikin partai politik untuk anaknya. (Dahlan Iskan)











