RADARBEKASI.ID, BEKASI – IPB University melalui Program Dosen Pulang Kampung yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University mendorong pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat melalui pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) dan budidaya ayam petelur di Kebun Merdesa, Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor.
Kegiatan bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Ekonomi Sirkular Berbasis Budidaya Maggot BSF dan Ayam Petelur di Kebun Merdesa” tersebut menghadirkan Prof Dr Sofyan Sjaf, M.Si, Ketua Tim Riset sekaligus Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, sebagai narasumber.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan yang terdiri atas anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Cikarawang, Karang Taruna Desa Cikarawang, kader dan ibu-ibu Posyandu, serta sejumlah mahasiswa IPB University. Dalam pemaparannya, Prof Sofyan menjelaskan bahwa pemilihan Kebun Merdesa sebagai mitra pelaksanaan Program Dosen Pulang Kampung memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar lokasi kegiatan.
Menurutnya, konsep “pulang kampung” tidak semata-mata dimaknai sebagai kembali ke tempat kelahiran. Secara sosiologis, kampung juga dapat dipahami sebagai ruang tempat seseorang hidup, berinteraksi, membangun relasi sosial, serta melakukan berbagai aktivitas bersama masyarakat.
“Kampung secara sosiologis bukan hanya tempat seseorang dilahirkan, tetapi juga tempat seseorang beraktivitas dan membangun kehidupan sosial di suatu wilayah. Karena itu, Kebun Merdesa menjadi salah satu ruang yang tepat untuk membangun proses pembelajaran dan pemberdayaan bersama masyarakat,” ujar Prof Sofyan.
Maggot dan Ayam Petelur Jadi Rantai Ekonomi Sirkular
Prof Sofyan mengatakan pengembangan budidaya maggot BSF yang dikombinasikan dengan peternakan ayam petelur memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai model ekonomi sirkular berbasis masyarakat desa.
Sampah organik rumah tangga maupun sisa bahan pangan dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot BSF. Maggot yang dihasilkan kemudian berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pakan ternak, termasuk ayam petelur.
Pendekatan tersebut memungkinkan limbah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi diolah kembali menjadi sumber daya produktif. Dengan demikian, model ekonomi sirkular tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga membuka peluang terciptanya kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ekonomi sirkular memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal sekaligus mengurangi persoalan sampah. Material yang sebelumnya dianggap limbah dapat diolah kembali sehingga mempunyai manfaat dan nilai ekonomi,” jelasnya.
Melalui pengembangan model tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat persoalan sampah dari perspektif yang berbeda. Sampah organik tidak lagi dipandang semata sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses produksi yang terintegrasi.

Kebun Merdesa Disiapkan sebagai Learning Center
Selain sebagai lokasi pengembangan budidaya maggot BSF dan ayam petelur, Kebun Merdesa juga diarahkan menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Prof Sofyan menegaskan bahwa Kebun Merdesa tidak hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Kawasan tersebut terbuka bagi masyarakat, kelompok tani, pemuda, mahasiswa, maupun berbagai pihak yang ingin berbagi pengetahuan dan mempelajari praktik pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
“Kebun Merdesa sangat terbuka bagi siapa saja. Harapannya, tempat ini dapat berkembang menjadi learning center, tempat masyarakat, mahasiswa, maupun berbagai kelompok lainnya belajar bersama, bertukar pengetahuan, dan mengembangkan inovasi,” katanya.
Konsep learning center tersebut sekaligus menempatkan Kebun Merdesa sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan kampus diharapkan tidak berhenti pada aktivitas akademik, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan bersama masyarakat sesuai kebutuhan di tingkat lokal.
Keterlibatan KWT, Karang Taruna, Posyandu, dan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang inklusif. Kolaborasi lintas kelompok tersebut diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan program sekaligus memperluas manfaat ekonomi maupun lingkungan bagi masyarakat Desa Cikarawang.
Melalui Program Dosen Pulang Kampung, IPB University terus mendorong dosen dan sivitas akademika untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, inovasi, serta teknologi tepat guna lebih dekat dengan masyarakat.
Program pengembangan ekonomi sirkular di Kebun Merdesa diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya model pemberdayaan masyarakat yang mampu mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, budidaya maggot BSF, peternakan ayam petelur, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penciptaan nilai ekonomi lokal secara berkelanjutan. (*)











