Berita Bekasi Nomor Satu

Warga Ende di Pengungsian Pascagempa NTT Terserang Gangguan Kulit hingga Diare

Kepala Dinas Kesehatan, Ende Fransisca Nusanumba. FOTO: TANGKAPAN LAYAR VIDEO

RADARBEKASI.ID, ENDE – Warga yang masih bertahan di tenda pengungsian pascagempa bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai mengalami sejumlah gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Ende menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, dan gangguan kulit mulai meningkat.

Kepala Dinas Kesehatan, Ende Fransisca Nusanumba, mengatakan peningkatan kasus tersebut terjadi karena sebagian warga masih takut kembali ke rumah dan memilih tinggal di tenda pengungsian, baik secara mandiri maupun terpusat.

“Dampak kesehatan masyarakat Kabupaten Ende saat ini, kasus penyakit mulai meningkat seperti ISPA, diare, dan penyakit kulit. Ini terjadi karena warga takut masuk rumah dan memilih tidur di pengungsian, baik mandiri maupun terpusat,” ujar Fransisca kepada Tim Jurnalis Gerakan Anak Negeri, Sabtu (22/8/2026).

Berdasarkan data Dinkes Ende, tiga orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara itu, korban luka ringan telah mendapatkan penanganan dan kembali ke rumah masing-masing, sedangkan korban luka berat masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Fransisca menuturkan, gempa juga berdampak pada sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Ende. Dari 28 puskesmas dan satu Rumah Sakit Pratama Tangali, sebanyak 12 fasilitas kesehatan terindikasi mengalami kerusakan kategori sedang. Adapun sisanya mengalami kerusakan ringan.

BACA JUGA: Tiba di Ende, Relawan Gerakan Anak Negeri Disambut Kadinkes, Siap Turun ke Lokasi Terdampak Gempa NTT

“Kalau di lapangan di Puskesmas di Ende ini ada 28 Puskesmas dan satu Rumah Sakit Pratama Tangali kondisi dari faskes-faskes ini ada 12 yang masuk kategori rusak sedang dan sisanya itu rusak ringan,” katanya.

Selain itu, untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan, Dinkes Ende telah menyurati Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan analisis teknis dan memberikan rekomendasi kelayakan gedung.

Dari sisi tenaga kesehatan, terdapat dua petugas, yakni satu perawat atau bidan dan satu dokter, yang mengalami cedera akibat panik saat gempa terjadi. Selain itu, sejumlah tenaga kesehatan di lapangan mulai mengalami kelelahan dan penurunan daya tahan tubuh akibat tingginya beban pelayanan.

“Hanya mungkin karena melayani banyak kasus sekarang mulai ada (nakes) yang kelihatan daya tahan tubuhnya menurun karena kelelahan,” jelasnya. (zak)