Berita Bekasi Nomor Satu

Kampung Korod Cibarusah Bakal Jadi Kampung Bernuansa Sunda, Pertahankan Persawahan hingga Leuit

DILIRIK JADI WISATA: Warga berada di sekitar leuit tua di Kampung Korod, Desa Ridogalih, Cibarusah, Rabu (2/9). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kampung Korod di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, bakal ditata menjadi kampung bernuansa Sunda.

Penataan kawasan ini akan mempertahankan persawahan, tradisi gotong royong, serta keberadaan leuit atau lumbung padi yang masih bertahan di tengah perkembangan kawasan industri.

Plt Sekretaris Kecamatan Cibarusah, Wowo Fadillah, mengatakan karakter lokal Kampung Korod menjadi pertimbangan utama dalam rencana penataan. Pemerintah ingin pengembangan kawasan tidak menghilangkan potensi dan tradisi yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

“Penataan Kampung Korod sebagai kampung bernuansa Sunda tentunya tidak terlepas dari potensi dan tantangan yang dimiliki, baik dari aspek fisik maupun nonfisik,” ujar Wowo, Rabu (2/9/2026).

Sekitar 40 kepala keluarga di Kampung Korod masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Karena itu, hamparan persawahan dinilai menjadi salah satu potensi yang perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan, termasuk untuk mendukung sektor pariwisata.

“Sebagian besar masyarakat masih bekerja sebagai petani, sehingga persawahan ini menjadi potensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi lingkungan yang sudah ada,” katanya.

Selain persawahan, keberadaan leuit tua menjadi potensi budaya yang akan tetap dipertahankan. Bangunan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras dan bahan makanan, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya.

“Leuit yang masih ada memiliki nilai historis dan budaya, sehingga dalam penataan nanti keberadaannya jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi bagian dari karakter Kampung Korod,” tutur Wowo.

Rencana tersebut sejalan dengan gagasan penataan lima desa di wilayah Cibarusah dan Bojongmangu yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam rapat paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi, 15 Agustus 2026. Konsepnya menekankan pembangunan kawasan pedesaan tanpa menghilangkan identitas lokal.

Wowo mengatakan gagasan pengembangan Kampung Korod juga berasal dari aspirasi warga. Salah satunya pembangunan jalur penghubung yang dapat digunakan untuk mobilitas warga sekaligus menjadi trek olahraga dan rute wisata berbasis lingkungan.

Keberadaan jembatan gantung hasil program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang menghubungkan Desa Ridogalih dengan Desa Wibawamulya dinilai dapat memperkuat konsep tersebut.

“Warga sudah memiliki angan-angan membuat akses jalan sebagai destinasi wisata dan olahraga dengan konsep yang mencontoh Lembur Pakuan, dari pintu gerbang kemudian menyusuri kampung hingga ke area persawahan. Menyusuri area persawahan, menikmati kuliner warga, kemudian sampai ke jembatan gantung sebagai salah satu daya tarik,” kata Wowo.

Namun, penataan Kampung Korod masih menghadapi sejumlah persoalan. Krisis air bersih yang terjadi setiap tahun serta kondisi akses jalan utama menjadi pekerjaan yang perlu diselesaikan bersamaan dengan pengembangan kawasan.

“Persoalan air bersih dan infrastruktur dasar menjadi tantangan yang harus diperhatikan, karena penataan bukan hanya soal memperbaiki wajah kampung, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” tegas Wowo.

Dia berharap penataan Kampung Korod dapat mengintegrasikan fasilitas publik, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian tradisi sehingga menjadi contoh pembangunan desa modern tanpa kehilangan jati diri.

“Harapannya, Kampung Korod tetap memiliki jati diri sebagai kampung Sunda, lingkungannya terjaga, potensi wisatanya berkembang, kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan penataan ini pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” pungkasnya. (ris)