RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Istilah “ubi bombing” belakangan menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam kebakaran berbasis tepung ubi atau singkong untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, teknologi tersebut ternyata tidak sesederhana menjatuhkan tepung singkong dari udara ke lokasi kebakaran. Periset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Julinton Sianturi, menjelaskan bahwa pati singkong hanya menjadi salah satu bagian dari formulasi bahan pemadam yang sedang dikembangkan.
Agar dapat bekerja secara efektif dalam menghambat kebakaran, pati singkong perlu dikombinasikan dengan sejumlah bahan lain, seperti ammonium polyphosphate (APP), wetting agent, dan air.
Campuran tersebut dirancang untuk menghasilkan mekanisme perlindungan ketika terkena suhu tinggi, salah satunya melalui pembentukan lapisan karbon atau char pada material yang terbakar.
Bukan Sekadar Tepung Singkong
Julinton menjelaskan bahwa gagasan pemanfaatan singkong sebagai salah satu bahan pendukung teknologi pemadam api memiliki dasar ilmiah yang dapat dikembangkan melalui rekayasa kimia dan formulasi yang tepat.
“Pernyataan Bapak Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur,” ujar Julinton, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (27/8/2026).
Pati singkong atau tepung tapioka memiliki karakteristik alami yang mampu menyerap air dan mengikat berbagai bahan. Melalui proses pengolahan dan modifikasi tertentu, sifat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pengembangan material pemadam kebakaran.
Dalam teknologi yang tengah diteliti, pati singkong tidak bekerja sendirian. Material tersebut dipadukan dengan APP, air, serta wetting agent dalam konsentrasi rendah.
Cara Kerja Formulasi Pati Singkong Memperlambat Api
Setiap komponen dalam formulasi tersebut memiliki fungsi berbeda yang saling melengkapi.
Air berperan menyerap panas dan membantu menurunkan suhu pada material yang terbakar. Sementara itu, pati singkong yang telah dimodifikasi membantu cairan menempel lebih lama pada permukaan vegetasi.
Kemampuan tersebut membuat cairan tidak mudah hilang dari permukaan bahan yang berpotensi terbakar.
Di sisi lain, wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus vegetasi dengan lebih efektif. Sedangkan APP berfungsi memberikan mekanisme perlambatan reaksi kimia ketika material terkena panas tinggi.
Baca Juga: Cara Melindungi Bayi dari Kabut Asap Karhutla, Ini 8 Tips yang Bisa Dilakukan
“Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas,” jelas Julinton.
APP Membantu Membentuk Lapisan Pelindung
Melansir dari Kompas.com, APP atau ammonium polyphosphate merupakan senyawa yang tersusun dari komponen berbasis fosfat dan amonia. Bahan ini telah dikenal dalam berbagai aplikasi, termasuk material tahan api.
Ketika terkena suhu tinggi, APP dapat mengalami perubahan dan menghasilkan senyawa berbasis asam fosfat serta polifosfat.
Senyawa tersebut kemudian membantu mempercepat proses dehidrasi pada material alami seperti selulosa dan polisakarida yang terdapat pada tumbuhan.
Proses ini mengubah cara vegetasi mengalami penguraian akibat panas. Material seperti daun dan kayu yang seharusnya menghasilkan gas mudah terbakar dapat diarahkan untuk membentuk residu karbon padat atau char.
Lapisan char tersebut berfungsi seperti pelindung pada permukaan material. Selain membantu menghambat perpindahan panas, lapisan ini juga dapat mempertahankan kelembapan serta membatasi akses panas dan oksigen ke bahan bakar di bawahnya.
Dengan mekanisme tersebut, formulasi pemadam berbasis pati singkong diharapkan dapat memperlambat laju penyebaran api dan membantu mencegah kebakaran berkembang semakin luas.
Pati Singkong Dimodifikasi Secara Khusus
Proses pengembangan bahan ini tidak berhenti pada penggunaan tepung singkong biasa.
Julinton menjelaskan bahwa penelitian dimulai dari proses ekstraksi pati singkong mentah. Setelah dimurnikan, pati tersebut kemudian dapat dimodifikasi secara kimia untuk memperoleh karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan formulasi pemadam.
Beberapa metode yang sedang dievaluasi antara lain fosforilasi, cross-linking, dan berbagai bentuk modifikasi fungsional lainnya.
Tujuannya adalah meningkatkan kestabilan bahan, kemampuan membentuk lapisan, daya menahan air, serta interaksi antara pati singkong dan APP.
Setelah melalui proses modifikasi, pati kemudian dicampurkan dengan APP atau komponen fosfat lainnya, wetting agent, serta air.
Komposisi setiap bahan tidak ditentukan secara sembarangan. Para peneliti masih mengoptimalkan berbagai aspek, mulai dari tingkat kekentalan, kestabilan penyimpanan, risiko pengendapan, kemampuan bahan tercampur kembali, tegangan permukaan, pembentukan tetesan, hingga performa saat digunakan untuk memadamkan api.
Baca Juga: Bisa Redakan Batuk Pilek, Ini 5 Manfaat Buah Jamblang untuk Kesehatan yang Jarang Orang Tahu
Dicampurkan ke Tangki Air Sebelum Digunakan
Dalam penerapannya di lapangan, formulasi berbasis APP dan pati singkong dirancang agar dapat digunakan secara praktis.
Konsentrat atau bahan formulasi nantinya dapat dicampurkan ke dalam tangki air sebelum digunakan untuk penyemprotan.
Meski demikian, konsentrasi terbaik dari bahan tersebut masih terus diteliti.
Formulasi harus memiliki kemampuan retensi yang baik, yakni dapat menempel pada permukaan vegetasi dan mempertahankan air dalam waktu lebih lama.
Di sisi lain, cairan juga tidak boleh terlalu kental karena dapat menyebabkan berbagai masalah teknis, seperti sulit mengalir, terjadi pengendapan di dalam tangki, hingga berpotensi menyumbat pompa dan nozzle.
Bisa Digunakan Lewat Jalur Udara dan Darat
Secara taktis, formulasi cair yang dikenal sebagai CASSA-P dirancang untuk digunakan melalui berbagai metode, baik operasi udara maupun darat.
Dalam operasi udara, tingkat kekentalan cairan dan ukuran tetesan harus diatur secara optimal. Hal tersebut penting untuk mengurangi risiko cairan menguap terlalu cepat atau terbawa angin ke area yang tidak dituju.
Teknologi ini juga berpotensi digunakan dalam operasi berbasis drone untuk melakukan penyemprotan secara lebih presisi.
Penggunaannya dapat diarahkan pada titik awal kebakaran, bagian sisi api, titik api baru atau spot fire, hingga pembuatan jalur perlindungan pada vegetasi yang belum terbakar.
Kamera termal juga dapat dimanfaatkan untuk membantu menemukan titik panas tersembunyi dan memantau kemungkinan api kembali menyala.
Sementara dalam operasi darat, petugas dapat menyemprotkan formulasi tersebut ke vegetasi di sekitar titik kebakaran maupun area yang dianggap perlu dilindungi.
Cairan kemudian membantu membasahi vegetasi dan membentuk retardant line atau jalur penghambat api yang bertujuan memperlambat penyebaran kebakaran ke wilayah lain.
Tidak Menggantikan Pemadaman Konvensional
Untuk kebakaran dengan intensitas tinggi, teknologi CASSA-P tidak dirancang sebagai pengganti seluruh metode pemadaman yang selama ini digunakan.
Formulasi tersebut lebih diposisikan sebagai sistem pendukung, terutama untuk mempercepat respons terhadap titik api, menangani spot fire, dan membantu melindungi kawasan atau objek penting.
Penggunaannya tetap perlu diintegrasikan dengan strategi pemadaman konvensional serta personel di lapangan.
Belum Bisa Langsung Disebut 100 Persen Ramah Lingkungan
Salah satu keunggulan yang diharapkan dari teknologi ini adalah pemanfaatan pati singkong sebagai biomaterial lokal.
Namun, Julinton menegaskan bahwa fakta bahwa bahan dasarnya berasal dari singkong tidak otomatis membuat produk akhirnya dapat langsung disebut 100 persen biodegradable atau tidak berbahaya bagi lingkungan.
Keamanan formulasi tetap harus dibuktikan melalui berbagai pengujian.
Penelitian perlu mencakup aspek biodegradabilitas, potensi dampak terhadap tanaman, organisme tanah dan air, kandungan fosfat serta nitrogen, hingga karakteristik residu yang ditinggalkan setelah kebakaran.
Baca Juga: 6 Cara Mengatasi Batuk Berdahak Secara Alami, Salah Satunya Kumur Air Garam
Karena itu, teknologi pemadam berbasis pati singkong ini masih memerlukan serangkaian pengujian laboratorium dan lapangan sebelum dapat diterapkan secara luas.
Meski demikian, penelitian tersebut membuka peluang baru dalam pemanfaatan bahan lokal Indonesia untuk mendukung teknologi penanggulangan kebakaran. Singkong yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari inovasi pemadam api yang membantu memperlambat penyebaran karhutla.
Jika pengujian efektivitas, keamanan, dan dampak lingkungannya memberikan hasil yang baik, formulasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif teknologi pendukung dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (mna)











