RADARBEKASI.ID, BOGOR – Hasil riset tak cukup hanya berhenti di ruang akademik. IPB University memanfaatkan strategi komunikasi untuk memperluas gaung pengembangan Benih Padi IPB 9 Garuda (9G) sekaligus menghubungkan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan ketahanan pangan nasional.
Upaya tersebut dipaparkan IPB University dalam penjurian Anugerah Humas Indonesia (AHI) 2026 hari kedua, Rabu (2/9/2026). Program yang diusung bertajuk “Benih Padi IPB 9 Garuda (9G) Senilai Rp250 Miliar untuk Ketahanan Pangan”.
Kabag Humas Biro Komunikasi IPB University, Siti Nuryati, mengatakan komunikasi dalam program tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai sarana publikasi. Komunikasi menjadi bagian dari strategi untuk menghubungkan kapasitas akademik, riset dan inovasi dengan kebutuhan pembangunan.
“Setiap kerja sama dirancang sebagai mekanisme penciptaan nilai (value creation) yang menghubungkan kapasitas akademik, riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan nyata pembangunan nasional maupun tantangan global,” jelasnya.
Menurut Nuryati, IPB University juga menetapkan sasaran yang terukur melalui SMART Objective. Salah satunya meningkatkan tonase pengadaan Benih Padi IPB 9G melalui kerja sama antara IPB University dan Kementerian Pertanian pada 2026 sebesar 100 persen.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan produktivitas padi nasional sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan ketahanan pangan.
Dalam mengomunikasikan program tersebut kepada publik, IPB University memanfaatkan sejumlah kanal komunikasi yang dimiliki, termasuk owned media. Informasi mengenai program juga disebarluaskan melalui siaran pers kepada media nasional.
Strategi komunikasi tersebut menghasilkan 25 pemberitaan di media massa. Selain itu, sekitar 30 persen warga IPB University dan mitra turut membagikan siaran pers yang diterbitkan melalui IPB Today.
Dari sisi persepsi publik, siaran pers yang dipublikasikan IPB University juga mencatat sentimen positif secara keseluruhan.
Melalui program tersebut, IPB University tidak hanya menempatkan riset dan inovasi sebagai produk akademik, tetapi juga berupaya menghubungkannya dengan kebutuhan pembangunan, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sementara, CEO Humas Indonesia, Asmono Wikan, memberikan catatan agar komunikasi mengenai hasil riset dapat dibuat semakin kuat dan berdampak. Menurutnya, setiap riset yang dikomunikasikan perlu memperjelas sosok atau tim di balik penelitian tersebut sehingga publik tidak hanya mengetahui hasilnya, tetapi juga mengetahui siapa yang menghasilkan inovasi tersebut.
“Selain itu, setiap program komunikasi hasil riset tidak perlu berhenti pada publikasi, harus digempur dengan beragam narasi yang tidak hanya meningkatkan visibilitas akademik tetapi juga membuka peluang untuk menghadirkan nilai ekonomi dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (oke/*)











