RADARBEKASI.ID, TAMBUN SELATAN – Pemungutan suara di TPS 17 Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, berlangsung dengan cara berbeda. Warga tidak lagi menerima surat suara berbahan kertas, melainkan menentukan pilihan melalui layar sentuh tablet dalam penerapan konsep TPS Digital.
Ketua KPPS TPS 17 Lambangsari, Muhammad Arfan, mengatakan sistem digital tersebut menggunakan tablet dan printer untuk menggantikan mekanisme pencoblosan konvensional.
“TPS digital ini kita menggunakan alat-alat, di sini ada tablet dan printer. Jadi, pilihannya secara digital. Kita memilih di dalam tablet tersebut, berbeda dari konvensional yang memakai surat suara,” jelas Arfan.
TPS Digital tersebut menyediakan dua bilik suara. Masing-masing bilik terhubung dengan sistem pemindai barcode yang tercantum pada lembar undangan pemilih. Sistem ini digunakan untuk memastikan pemilih masuk ke bilik yang sesuai sekaligus mengantisipasi pemungutan suara ganda.
BACA JUGA : Pilkades Lambangsari Bernuansa Betawi, Ada Ondel-Ondel hingga Kuliner Khas
Proses pencoblosan diawali dengan warga menunggu di area antrean sesuai bilik yang telah ditentukan. Setelah nama dipanggil, petugas melakukan verifikasi identitas menggunakan KTP dan surat undangan.
Pemilih kemudian masuk ke bilik suara, memindai barcode, lalu menentukan calon melalui layar sentuh tablet. Setelah pilihan ditetapkan, printer mencetak bukti barcode yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kotak suara. Tahapan ditutup dengan penyerahan kembali berkas undangan dan pencelupan jari ke tinta.
Arfan menyebut penerapan teknologi tersebut membuat proses pemungutan dan rekapitulasi suara lebih praktis.
“Di TPS digital ini tidak memakai surat suara. Jadi, rekapitulasinya lebih mudah, pilihannya lebih mudah, dan insya Allah tata caranya lebih mudah,” tandasnya.
Meski menjadi pengalaman baru bagi sebagian pemilih, pelaksanaan tetap berjalan tertib. Panitia sebelumnya telah mengikuti bimbingan teknis sehingga mampu membantu warga yang masih beradaptasi.
“Alhamdulillah kalau untuk dari panitia tidak ada kendala. Mungkin agak kagok atau agak menyesuaikan dari DPT-nya sedikit. Tapi dengan arahan panitia yang sudah dibimtek dan sudah terlatih, alhamdulillah kegiatan pemilihan di TPS 17 secara digital berjalan dengan lancar,” terang Arfan.
Salah seorang pemilih, Yanti Wibowo, 54, mengaku puas dengan mekanisme tersebut. Ia menyebut proses dari antrean hingga pencoblosan hanya membutuhkan sekitar dua menit.
“Ini kan pengalaman pertama. Asyik banget sih. Kebetulan ini saya ikut (pilkades) yang kedua ya. Yang pertama masih manual gitu. Biasanya kan antrean sampai panjang. Ini baru sebentar duduk, dipanggil. Terus juga karena digital praktis banget gitu,” tuturnya.
Yanti juga menilai suasana Pilkades berlangsung santai tanpa ketegangan antarwarga. Ia mengatakan warga sejak awal diajak menjadikan pemilihan sebagai pesta demokrasi.
“Karena dari awal itu Pak RW udah informasi bahwa kita mau senang-senang. Ini pesta rakyat pesta demokrasi. Jadi enggak tegang sama sekali. Kalau mau pakaian Betawi buat mensupport boleh katanya. Jadi kita sekarang tuh datang dengan antusias banget. Dan siapa pun yang menang kita support,” kata Yanti.
Bagi Yanti, pemimpin terpilih nantinya perlu memperhatikan persoalan lingkungan, terutama pengelolaan sampah mandiri dan penataan pedagang kaki lima di sekitar jalan utama.
“Soal sampah sebenarnya kita sudah membuat pengelolaan sampah mandiri. Tapi melihat kita sekarang juga masih dari awal, baru satu tahun pertama ini, mungkin ke depannya akan siapa pun yang menang minta lebih disupport,” tutupnya.(ris)











