Berita Bekasi Nomor Satu
Bisnis  

Bersin di Balik Kapukita dari Bekasi 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setiap kali pesanan Kapukita datang, ibu-ibu anggota Bank Sampah 21 (BS21) di Perumahan Villa Gading Harapan, Desa Kedungjaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, mulai disibukkan dengan tumpukan kapuk randu. Mereka membongkar, mengurai, mencuci, hingga memasukkan serat-serat putih itu ke dalam jaring.

Kapukita (Kapuk Alam Penyerap Untuk Kendali Insiden Tumpahan di Perairan) merupakan absorben ramah lingkungan berbahan serat kapuk randu yang digunakan untuk menyerap tumpahan minyak di perairan.

Salah seorang pengurus BS21, Ade Iis, mengatakan pengolahan kapuk membutuhkan ketelitian. Salah satu tahap yang harus diperhatikan adalah pencucian. Serat kapuk tidak boleh direndam terlalu lama atau dikucek karena dikhawatirkan mengurangi kemampuannya menyerap minyak.

“Pas pencucian dibolak-balik saja. Kuncinya di situ,” ujar Ade saat ditemui di sekretariat BS21, Kamis (15/10/2026).

Setelah dicuci, serat kapuk dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Tahap berikutnya memasukkan serat ke dalam jaring yang dijahit sendiri oleh anggota kelompok. Jaring tersebut dibuat memanjang menyerupai guling dan dilengkapi karabiner agar mudah dipasang maupun disambungkan ketika digunakan di perairan.

Kapukita diproduksi dalam dua ukuran. Varian kecil memiliki panjang satu meter dengan diameter tujuh sentimeter dan membutuhkan sekitar 300 gram kapuk. Adapun varian besar berukuran tiga meter dengan diameter 14 sentimeter membutuhkan sekitar 1,1 kilogram serat.

Ketepatan berat menjadi bagian penting dalam proses produksi. Ade mengatakan jumlah kapuk yang dimasukkan harus sesuai dengan ukuran jaring dan spesifikasi produk. Karena itu, pengisian jaring tidak bisa sekadar mengandalkan perkiraan.

“Menyesuaikannya ini juga agak lama. Kadang kita yakin sudah pas, tetapi saat ditimbang masih kurang,” katanya.

Pengerjaan biasanya berlangsung pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Namun, satu pesanan tidak selalu bisa diselesaikan dalam sehari. Para anggota harus membagi waktu antara mengerjakan pesanan dan mengurus rumah tangga. Pekerjaan pun dilanjutkan pada hari berikutnya.

Menurut Ade, satu pesanan rata-rata membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Artinya, setiap pesanan menjadi pekerjaan bersama yang harus diselesaikan secara bertahap.

Tantangan lain datang dari karakter serat kapuk yang mudah beterbangan. Sekretaris BS21, Ula Fatimah, mengatakan anggota kelompok kerap bersin meskipun sudah mengenakan masker.

“Sudah pakai masker, tapi kapuk sering masuk ke hidung, bersin,” ujar Ula.

Untuk mengurangi serat yang menempel di tubuh dan pakaian, anggota mengenakan pakaian khusus selama bekerja. Seluruh proses produksi dilakukan di sekretariat kelompok. Mereka juga memastikan bahan baku tetap jauh dari jangkauan anak-anak.

Kapukita tidak lahir begitu saja dari aktivitas kelompok. Produk ini bermula dari pelatihan yang diikuti anggota BS21 bersama Pertamina EP Tambun Field. Dalam kegiatan tersebut, mereka diperkenalkan pada pemanfaatan serat kapuk sebagai bahan penyerap tumpahan minyak. Pengetahuan itu kemudian dikembangkan menjadi produk yang kini diproduksi setiap kali pesanan datang.

Kelompok BS21 mengikuti pelatihan pembuatan absorben Kapukita, beberapa waktu lalu. FOTO: DOKUMEN PERTAMINA EP TAMBUN FIELD

Pada awal pengembangan, bahan baku utama disediakan oleh Pertamina Tambun Field. Namun, kini kelompok harus membeli sendiri serat kapuk melalui toko daring. Harganya mencapai sekitar Rp49 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp27 ribu.

Padahal, pohon kapuk cukup banyak tumbuh di wilayah Babelan. Namun, kelompok belum memanfaatkan hasil panen langsung dari lingkungan sekitar. Menurut Ula, memetik kapuk dari pohon cukup berisiko karena harus dilakukan dengan memanjat.

“Pas awal kapuknya dari Pertamina. Sekarang beli di online,” katanya.

Di balik proses produksi yang dilakukan secara bertahap, Kapukita menjadi salahsatu sumber tambahan pemasukan bagi anggota BS21. Meski demikian, pasar produk tersebut masih terbatas dan sebagian besar bergantung pada pesanan Pertamina.

Berdasarkan catatan Pertamina EP Tambun Field, selama Oktober 2025 hingga Oktober 2026, BS21 menerima tiga kali pesanan dengan total 52 unit. Jumlah itu terdiri atas 12 unit ukuran besar dan 40 unit ukuran kecil.

Dari penjualan tersebut, kelompok membukukan nilai transaksi sebesar Rp9.428.524 dengan keuntungan Rp3.771.410. Ula mengakui keuntungan yang diperoleh belum besar. Namun, hasil penjualan itu tetap berarti bagi kelompok karena dapat menambah pemasukan dari kegiatan produksi.

“Margin 40-an persen, alhamdulillah bisa buat tambahan,” ujarnya.

Ia berharap Kapukita semakin dikenal dan mampu menjangkau pasar di luar perusahaan yang selama ini menjadi pemesan utama. Dengan begitu, kegiatan produksi tidak hanya bergantung pada Pertamina EP Tambun Field.

“Harapannya bisa dapat order di luar Tambun Field,” kata Ula.

Penerapan dan Hasil Lab

Kapukita telah dimanfaatkan untuk mendukung penanganan tumpahan minyak di area operasional Pertamina. Senior Manager PT Pertamina EP Tambun Field, Totok, mengatakan Kapukita telah diterapkan di area Balong Internal Tambun saat kegiatan pengeboran (drill).

“Kapukita telah diterapkan secara nyata di area Balong Internal Tambun saat kegiatan pengeboran (drill),” ujar Totok dalam keterangan tertulis.

Menurut Totok, produk tersebut berpotensi digunakan di berbagai area perairan, mulai dari balong, sungai, hingga persawahan. Kapukita dikembangkan sebagai alternatif absorben konvensional sekali pakai yang dapat menghasilkan limbah bekas berpotensi menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Totok menjelaskan, serat kapuk bekerja dengan menyerap minyak yang tumpah. Setelah mencapai kondisi jenuh, serat dapat diperas untuk memisahkan minyak sehingga materialnya bisa digunakan kembali.

“Kapukita tidak hanya berfungsi sebagai media penanganan tumpahan minyak, tetapi juga menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali material dan pengurangan limbah dari sumbernya,” ujarnya.

Uji laboratorium PT Nanotech Indonesia Global Tbk. FOTO: DOKUMEN PERTAMINA

Potensi kapuk sebagai bahan penyerap minyak juga diuji di laboratorium PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Kapukita menunjukkan kemampuan penggunaan ulang (cycle) dan daya serap yang besar dibandingkan serat alam lain.

Pengujian yang menggunakan data sampling 3 Oktober 2024 itu membandingkan karakteristik kapuk alami dan bintaro alami dalam menyerap tumpahan minyak.

Hasil analisis spektroskopi gugus fungsi menunjukkan serat kapuk memiliki karakteristik kimia yang mendukung kemampuannya mengikat minyak. Kandungan gugus hidroksil (-OH) dan selulosa (C-O-C) menjadi bagian dari karakteristik material yang dianalisis.

Sementara itu, serat bintaro alami memiliki karakteristik berbeda. Kandungan lignin dan lapisan lilin pada permukaannya diduga memengaruhi struktur pori serta kemampuan serat dalam menyerap minyak.

Hasil pengujian tersebut memperkuat potensi kapuk randu sebagai bahan alternatif absorben untuk penanganan tumpahan minyak. Kemampuannya untuk digunakan kembali juga menjadi nilai tambah, terutama dalam upaya mengurangi limbah yang dihasilkan absorben sekali pakai.

Pemkab Apresiasi

Penggunaan absorben berbahan serat kapuk yang dapat dipakai berulang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Sukmawatty Karnahadijat, mengapresiasi inovasi Kapukita yang dikembangkan Pertamina EP Tambun Field bersama masyarakat.

Menurut dia, penggunaan absorben berbahan serat kapuk yang dapat digunakan berulang berpotensi mengurangi limbah B3 dari penanganan tumpahan minyak.

“Bisa mengurangi limbah B3. Dengan berkurangnya, berarti dampak ke lingkungan berkurang,” ujarnya.

Sukmawatty berharap inovasi semacam ini tidak hanya dikembangkan oleh Pertamina EP Tambun Field. Ia mendorong perusahaan lain di Kabupaten Bekasi untuk turut menghadirkan inovasi yang memperhatikan aspek perlindungan lingkungan, termasuk dalam pengelolaan limbah dari kegiatan operasional.

Penghargaan Internasional

Inovasi Kapukita juga mendapat pengakuan di tingkat internasional. Dalam ajang The Green World Awards 2026, PT Pertamina EP kembali mencatatkan prestasi dengan meraih 15 penghargaan. Pertamina EP Tambun Field turut menyumbangkan penghargaan melalui program Kapukita, inovasi alat penyerap tumpahan minyak berbasis alam yang melibatkan masyarakat.

Program tersebut meraih tiga penghargaan Gold sekaligus pada kategori Innovation, Environmental Improvement: Partnerships, Fuel, Power & Energy: Sustainability, serta Sustainable Development: Waste Management. Selain itu, Kapukita memperoleh satu penghargaan Global Silver untuk kategori Corporate Social Responsibility dan Sustainable Development: Partnerships.

Manager Communication, Relations & CID Pertamina EP Regional Jawa, Pinto Budi Bowo Laksono, mengatakan inovasi yang memperhatikan kebutuhan lingkungan dan masyarakat dapat memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi perusahaan maupun masyarakat.

“Kami percaya bahwa inovasi yang selaras dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat akan memberikan nilai tambah yang berkelanjutan, tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat luas,” ujar Pinto dikutip dari siaran pers yang disiarkan, Rabu (15/4/2026).

The Green World Awards merupakan penghargaan internasional yang diselenggarakan The Green Organisation, lembaga independen berbasis di Inggris. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan dan organisasi atas inovasi, praktik terbaik, serta program berkelanjutan di bidang lingkungan.

Penghargaan tersebut turut menjadi penyemangat bagi anggota BS21 untuk terus mengembangkan Kapukita. Di tengah pekerjaan yang sesekali membuat hidung gatal dan memicu bersin, mereka berharap produk buatan kelompok itu semakin dikenal dan mendapat pesanan dari luar Pertamina EP Tambun Field. (oke)