Berita Bekasi Nomor Satu

Mempersiapkan Artificial Intelligence Dalam Pembelajaran di Sekolah

Shanti Kusmayanti (Ketua Dewan Pengembangan Putra Harapan School Purwokerto), Marisi Uli Simanjuntak (Direktur Kurikulum Nasional Sekolah IPEKA), Deffi Viergino (IT Coordinator Yayasan Al Muslim & Yayasan Pendidikan Salman Al Farisi), Prof. Dr. Ma'mun Murod (Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta), Effen Effendi (Yayasan Pendidikan Islam Al Azhar), Liana Susanto (Head B2B Sales Management Samsung Indonesia), Goh Aik Chuan (Manager B2B Regional Samsung Asia Pacific & Oceania), Haryadi Japarif (B2B Channel Sales Samsung Indonesia). FOTO: AL MUSLIM

Oleh: Deffi Viergino (Yayasan Al Muslim)

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami disrupsi gelombang baru dengan peluncuran ChatGPT versi 4o pada Mei 2024 lalu. GPT-4o, dengan “o” yang berarti omni adalah model Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terbaru dari OpenAI yang mampu menerima input dalam bentuk teks, audio, gambar, dan video.

Dari kombinasi input tersebut, GPT-4o mampu mencapai kinerja tingkat GPT-4 Turbo dalam kecerdasan teks, penalaran, dan pengkodean, sekaligus menetapkan standar baru dalam kemampuan multibahasa, audio, dan penglihatan dengan berbagai variasi.

Kemampuan kecerdasan buatan ini memungkinkan penghasil informasi, tulisan, serta presentasi yang luar biasa apabila pengguna dapat memberikan prompt yang tepat dan sesuai dengan keinginan. Guru di antaranya dapat merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat konten pembelajaran yang terstruktur dan terjadwal, serta melaporkan berbagai hal lainnya. Siswa pun dapat mengerjakan tugas, menyusun presentasi, menambah penjelasan materi pembelajaran, dan bahkan mencari jawaban asesmen untuk mereka.

Apakah ini menjadi ancaman bagi dunia pendidikan di mana AI bisa menjadi pesaing bagi pendidik? Atau, dengan aturan dan arahan yang tepat, apakah AI justru bisa menjadi pendamping yang luar biasa bagi para pendidik dan siswa?

Pengalaman di Samsung Education Power Up Conference

Pada tanggal 4 November 2024, saya mewakili Yayasan Al Muslim (Bekasi) dan Yayasan Pendidikan Salman Al Farisi (Bandung) diundang oleh Samsung Regional Headquarter untuk menghadiri Samsung Education Power Up Conference di Singapura. Saya berkesempatan hadir bersama empat institusi pendidikan lain dari Indonesia, yaitu Universitas Muhammadiyah Jakarta, Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Pusat, Sekolah IPEKA, dan sekolah PUHUA Purwokerto. Konferensi ini juga dihadiri oleh perwakilan dari institusi pendidikan dari Australia, New Zealand, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Pada konferensi tersebut hadir pembicara-pembicara luar biasa, yaitu Mr. Sangho Jo (Presiden dan CEO Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania), Mr. Tony Ryan (Education Futurist dan penulis beberapa buku tentang persiapan pendidikan masa depan), Mr. Jaspal Sindhu (Chairman dan pendiri SIS dan Sekolah Inspirasi), Mrs. Anuradha Sharma (Kepala Departemen Sains Sekolah Anantha Vidyaniketana Bangalore India), Mr. Mohd. Nizam Husen (Dekan Universitas Kuala Lumpur Malaysia), dan Mr. Wong Lung Hsiang (Senior Education Research National Institute of Education Singapore).

Dalam paparannya, para pembicara menyampaikan bahwa Artificial Intelligence sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan saat ini dan akan terus memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran di masa depan. Oleh karena itu, institusi pendidikan harus siap untuk hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan.

Samsung sebagai pemimpin di bidang teknologi berupaya untuk mendukung dunia pendidikan dengan terobosan-terobosan terkini. Samsung sudah mempersiapkan solusi-solusi mulai dari perangkat tablet, solusi perangkat lunak untuk keamanan pengguna tablet, maupun solusi yang menunjang aktivitas pembelajaran di kelas. Pada perangkat baru keluaran Samsung juga sudah tersematkan aplikasi Galaxy AI yang dapat menjadi pendamping pengguna dalam mencari informasi dan menyunting teks maupun gambar serta membantu melakukan pencatatan dalam melakukan percakapan.

Implementasi AI dalam Pendidikan di Indonesia

Bagaimana dengan penerapan kecerdasan buatan dalam pendidikan di Indonesia? Dalam sesi sharing bersama institusi pendidikan dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dan Oceania, pada konferensi tersebut terungkap bahwa banyak sekolah sudah menerapkan AI dalam proses pembelajarannya. Namun, masih terdapat tantangan besar dalam pelaksanaannya yang membutuhkan pengarahan dan aturan yang baku agar dapat digunakan secara optimal oleh para pendidik dan siswa.

Institusi pendidikan perlu mempersiapkan lingkungan sekolah di era AI dengan tiga tahapan. Tahap pertama adalah mempersiapkan Guidance & Policy atau menyusun aturan-aturan yang jelas terkait penggunaan AI dalam lingkungan sekolah, kemudian tahap kedua mempersiapkan Organizational Learning atau memfasilitasi pembelajaran secara institusional dengan pembekalan-pembekalan mengenai AI kepada pendidik, serta tahap ketiga Improvement & Transformation atau mengidentifikasi area-area yang perlu ditingkatkan serta potensi transformasi yang efektif untuk mendukung sistem pembelajaran (Sumber: Techai.org). Dengan demikian, isu-isu plagiarisme, kecurangan dalam asesmen dan pengerjaan tugas, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan dapat diantisipasi dengan baik.

Selain itu, untuk memanfaatkan Artificial Intelligence secara optimal dibutuhkan keilmuan baru yang disebut dengan Prompt Engineering. Dalam berinteraksi dengan model Generative AI, kita perlu memberikan perintah yang jelas dan ringkas yang disebut dengan prompt, agar AI dapat memberikan output yang berguna dan sesuai dengan yang diharapkan.

Jelaslah bahwa teknologi kecerdasan buatan ini sudah hadir dan sangat dirasakan keberadaannya di bidang pendidikan. Adalah tugas kita sebagai institusi penyelenggara pendidikan untuk menggunakan kecerdasan buatan ini secara tepat guna dan mengimplementasikannya dalam dunia pendidikan agar pendidik dan siswa bisa mendapatkan manfaatnya bagi pembelajaran saat ini dan di masa yang akan datang. (*)