RADARBEKASI.ID, LEBANON – Gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel yang mulai berlaku sejak Kamis (16/4/2026) tengah malam justru langsung diwarnai dugaan pelanggaran.
Militer Lebanon menyebut Israel masih melakukan penembakan sporadis ke sejumlah desa di wilayah selatan, hanya beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan.
Dalam pernyataan resminya mengutip SBS News, militer Lebanon meminta warga untuk tetap waspada dan menunda kepulangan ke kampung halaman di selatan. Situasi di lapangan dinilai belum sepenuhnya aman meski gencatan senjata telah berlaku.
Hingga kini, belum ada tanggapan langsung dari pihak militer Israel terkait tuduhan tersebut.
BACA JUGA: Kejiwaan Iran
Di tengah kondisi yang rapuh ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap menunjukkan optimisme tinggi. Ia menyebut peluang kesepakatan damai dengan Iran semakin terbuka dan bahkan bisa dibahas dalam pertemuan lanjutan akhir pekan ini.
“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kita sangat dekat mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Beberapa jam kemudian, dalam acara di Las Vegas, Trump memperkuat pernyataannya dengan menyebut konflik yang berlangsung ‘seharusnya segera berakhir’.
Meski kesepakatan sudah berjalan, situasi di Lebanon masih jauh dari stabil. Ledakan senjata bahkan sempat terdengar di Beirut saat momen awal gencatan senjata, sebagian merupakan tembakan perayaan.
Namun di selatan Lebanon, kondisi berbeda. Militer Israel dilaporkan masih mempertahankan pasukan di zona keamanan yang mereka kuasai.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyatakan pengerahan pasukan tetap dilakukan sebagai respons atas aktivitas militan Hezbollah yang masih berlanjut.
Kelompok Hizbullah sendiri merilis pernyataan panjang terkait operasi militernya sepanjang Kamis, dengan serangan terakhir terjadi hanya 10 menit sebelum gencatan senjata resmi berlaku.
Trump pun secara terbuka mendesak Hizbullah untuk mematuhi kesepakatan tersebut.
“Saya harap Hizbullah bersikap baik selama periode penting ini. Tidak boleh ada lagi pembunuhan. Kita harus mencapai perdamaian,” tulisnya di media sosial.
Selain fokus pada Lebanon, Trump juga menyoroti perkembangan negosiasi dengan Iran. Ia mengklaim Teheran bersedia tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun, isu yang selama ini menjadi ganjalan utama dalam perundingan.
Trump bahkan menilai kesepakatan dengan Iran akan berdampak besar secara global, termasuk menurunkan harga minyak dan inflasi, serta menghindari potensi bencana nuklir.
Iran sendiri menyambut gencatan senjata di Lebanon dan menyebutnya sebagai bagian dari kesepahaman yang dimediasi Pakistan bersama Amerika Serikat.
Sebagai pengingat, perang yang dimulai sejak 28 Februari akibat serangan AS-Israel ke Iran telah menelan korban besar: sedikitnya 3.000 orang tewas di Iran, lebih dari 2.100 di Lebanon, 23 di Israel, serta korban tambahan di negara-negara Teluk.
Sebanyak 13 personel militer AS juga dilaporkan tewas. Selain itu, lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan ini. (jpc)











