RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Selama ini, usia muda sering dianggap sebagai “perisai” alami terhadap berbagai penyakit berat. Kebiasaan makan sembarangan, begadang, hingga gaya hidup sedenter (jarang bergerak) kerap dianggap remeh karena tubuh dirasa masih kuat.
Namun, realita di lapangan medis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: penyakit degeneratif kini tidak lagi didominasi oleh lansia.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para tenaga medis. Banyak masyarakat yang masih terjebak dalam rasa aman palsu, tanpa menyadari bahwa risiko kesehatan bisa datang jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Banyak orang mengira bahwa ancaman nyawa terbesar di Indonesia berasal dari faktor eksternal seperti kecelakaan lalu lintas atau tindak kriminalitas. Namun, fakta medis berkata lain.
Mengutip penjelasan Dokter sekaligus Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD), Gia Pratama, dalam kanal YouTube Malaka Project (9/4/2026), terdapat kesalahpahaman besar di tengah masyarakat.
“Banyak yang mengira penyebab kematian terbesar itu kecelakaan. Padahal bukan. Nomor dua (penyebab kematian terbesar) itu adalah serangan jantung dan stroke,” ujar dr. Gia.
Dokter Gia mengungkapkan bahwa pasien yang datang ke IGD kini memiliki profil usia yang semakin muda. Bukan hal yang langka lagi menemukan pasien usia 30-an bahkan 20-an yang sudah berhadapan dengan kondisi kritis.
“Pasien gagal ginjal makin muda, usia 30-an banyak, 20-an pun mulai ada,” ungkapnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Kolaborasi dengan DPR RI, Ajak Masyarakat Kota Bekasi Segera Daftar Program JKN
Fenomena ini membuktikan bahwa pembuluh darah manusia bisa mengalami kerusakan prematur akibat gaya hidup yang buruk.
Serangan jantung dan stroke memiliki akar masalah yang sama, yakni gangguan pada pembuluh darah. Dokter Gia menegaskan ada tiga faktor risiko terbesar yang harus diwaspadai sejak muda:
-Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi): Sering dijuluki silent killer.
-Gula Darah Tinggi: Pemicu kerusakan organ jangka panjang.
-Rokok: Faktor perusak dinding pembuluh darah yang sangat masif.
Secara khusus, dr. Gia menyoroti konsumsi gula. Secara medis, tubuh manusia sebenarnya hanya membutuhkan sedikit gula dalam aliran darahnya.
Dalam satu liter darah, idealnya hanya terdapat 1 gram gula. Total di seluruh tubuh manusia hanya sekitar 5 gram. Konsumsi gula berlebih memaksa tubuh bekerja ekstra keras. Jika berlangsung terus-menerus, hal ini memicu diabetes yang menjadi “pintu masuk” bagi penyakit komplikasi lainnya.
Kabar baiknya, risiko-risiko tersebut bisa ditekan dengan perubahan kebiasaan sederhana namun konsisten. Mencegah jauh lebih mudah dan murah daripada mengobati dampak stroke yang bisa menyebabkan kecacatan menetap.
Berikut adalah saran praktis untuk menjaga kesehatan dari sekarang:
1. Aktivitas Fisik Sederhana: Tidak perlu langsung olahraga berat, jalan kaki secara rutin sangat membantu menjaga kebugaran pembuluh darah.
2. Olahraga Progresif: Pilih olahraga yang bisa dilakukan secara konsisten dan ditingkatkan intensitasnya secara bertahap.
3. Latihan Otot: Gerakan sederhana seperti plank efektif untuk mengaktifkan otot tubuh jika dilakukan secara rutin.
4. Kurangi Garam: Asupan garam yang tinggi berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah.
Menjaga kesehatan di masa muda adalah investasi terbaik untuk masa tua. Kebiasaan kecil yang Anda mulai hari ini, seperti mengurangi satu sendok gula atau berjalan kaki 15 menit adalah benteng utama Anda melawan ancaman serangan jantung dan stroke di masa depan. (mna)











