RADARBEKASI.ID, BEKASI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi selama 30 tahun terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan bahwa selain lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diprakirakan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan biasanya.
“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” kata Fachri dikutip dari JawaPos Senin, (27/4/2026).
BACA JUGA: Setelah Banjir, Kota Bekasi Bersiap Hadapi Kemarau
Ia menegaskan, jika dibandingkan secara historis, musim kemarau pada tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih ekstrem. Meski demikian, kondisi tahun ini diprediksi memang akan terasa lebih kering dibandingkan tahun 2023.
Fachri menjelaskan, musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Niño yang mulai muncul sejak akhir April hingga awal Mei 2026. Fenomena tersebut berdampak pada berkurangnya intensitas curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
“Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya,” katanya.
Ia menambahkan, ada ataupun tidak ada El Niño, Indonesia tetap mengalami musim kemarau karena merupakan negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim, yakni hujan dan kemarau.
“Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah,” ucap Fachri.
BMKG memprediksi intensitas El Niño akan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar Agustus hingga Oktober, berdasarkan analisis tim klimatologi.
Fachri menekankan kondisi ini perlu disikapi secara serius, namun masyarakat diminta tidak berlebihan hingga panik. Pasalnya, langkah mitigasi bersama lintas sektor menjadi kunci utama agar ketersediaan air bersih tetap terjaga dan sektor pertanian maupun perkebunan tidak terganggu.
“Sekali lagi kami sampaikan bahwa memang tahun ini musim kemarau kita relatif lebih kering dibandingkan dengan rata-ratanya, kemudian ada fenomena El Nino gitu ya. Tapi El Nino itu hanya ada El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat gitu ya, jadi tidak ada El Nino-El Nino lain, tidak ada El Nino Pokemon, tidak ada El Nino King Kong itu nggak ada ya,” pungkasnya. (zak)











