Berita Bekasi Nomor Satu

Pemkot Bekasi Siapkan Langkah Darurat di Perlintasan Sebidang Bulak Kapal dan Ampera

PERLINTASAN BULAK KAPAL: Kereta rel listrik melintas di perlintasan sebidang Bulak Kapal, Bekasi Timur, Kota Bekasi. Kawasan perlintasan ini menjadi salah satu titik kemacetan yang direncanakan akan diurai melalui pembangunan Flyover Bulak Kapal. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perlintasan sebidang tanpa pengamanan memadai di Jalan Pahlawan atau Bulak Kapal dan Jalan Ampera kembali menjadi sorotan. Lokasi tersebut telah lama dikenal rawan kecelakaan, namun penanganan menyeluruh belum juga tuntas.

Di kawasan itu, kendaraan melintas setiap hari tanpa palang pintu permanen. Pada jam sibuk, antrean kendaraan mengular, klakson bersahutan, sementara kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Kondisi berbahaya tersebut bukan hal baru. Warga sudah lama mengeluhkan, pengendara pun sudah lama merasa waswas, namun langkah konkret baru dipercepat setelah kembali terjadi kecelakaan.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan pemerintah daerah akan mengambil langkah darurat, termasuk pemasangan palang pintu sementara serta penempatan petugas di lokasi perlintasan. Ia juga akan berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat.

“Kalau memang memungkinkan nanti pemerintah daerah akan mengambil langkah seperti itu. Karena memang untuk Ampera dengan Bulak Kapal ini sudah cukup membahayakan, dan ini sering terjadi kecelakaan ringan sampai berat seperti sekarang ini,” ujarnya, Selasa (28/4).

Di Kota Bekasi, terdapat lima perlintasan sebidang yang masih menjadi pekerjaan rumah, yakni di Jalan Pahlawan, Jalan Ampera, Jalan M Yamin, Jalan Agus Salim, serta Jalan Perjuangan atau Bulan-bulan. Dari lima titik tersebut, Bulak Kapal dan Bulan-bulan menjadi prioritas penanganan.

Untuk kawasan Bulak Kapal, pemerintah merencanakan pembangunan flyover. Proses pembebasan lahan telah dimulai sejak 2025 dengan anggaran Rp50 miliar, kemudian dilanjutkan tahun ini sebesar Rp56 miliar.

“Jadi sudah hampir Rp106 miliar yang sudah kita bayarkan kepada warga masyarakat untuk dilakukan pembebasan lahan,” kata Tri.

Namun proyek itu sebelumnya ditargetkan selesai 2027. Setelah kecelakaan terjadi dan menjadi perhatian nasional, jadwal dipercepat.“Jadi yang targetnya di 2027, sehingga 2026 mudah-mudahan enam bulan ke depan sudah bisa pembangunan flyover,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto saat meninjau korban juga menyoroti banyaknya perlintasan sebidang tanpa sistem pengamanan memadai. Ia menyatakan telah menyetujui pembangunan flyover di Bekasi.

“Keperluan kereta api itu sangat penting, sangat mendesak, jadi saya sudah setujui segera dibangun fly over,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi V DPR Lasarus menyebut kondisi perkeretaapian Indonesia saat ini sebagai “darurat perlintasan sebidang”.

“Kalau di luar negeri, jalur kereta api itu clear and clean seperti landasan pacu pesawat. Biang kerok dari tragedi ini jelas yang pertama adalah perlintasan sebidang,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dugaan lemahnya sistem persinyalan. Menurutnya, ketika ada gangguan di satu jalur, sistem seharusnya langsung menghentikan seluruh perjalanan terkait.“Seharusnya bukan person-to-person, tetapi system-to-system,” katanya.(sur)