RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pengamat dari Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) Bekasi Raya, Afief Ardhila, menilai praktik politik uang masih dianggap lumrah dalam setiap gelaran pesta demokrasi di masyarakat.
Menurutnya, sikap pragmatis dan kekecewaan publik kerap mendorong munculnya “cara instan” untuk meraih suara. Karena itu, masyarakat diminta lebih cerdas dalam menentukan pilihan demi menghasilkan pemimpin berkualitas, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif, di daerah hingga pusat.
“Perlu menjadi catatan yaitu budaya politik uang yang sulit berubah. Banyak rakyat yang pragmatis atau tidak peduli siapa pun pemimpinnya, bagi mereka siapa pun yang menjabat sama saja tidak akan merubah nasibnya,” ujar Afief, usai mengikuti acara Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026 yang diselenggarakan oleh KPU RI dan Komisi 2 DPR RI akhir pekan kemarin.
Ia menilai, calon yang mengandalkan kekuatan uang saat berkontestasi cenderung tidak lagi memprioritaskan kepentingan daerah ketika terpilih. Hal itu, kata dia, karena fokus mereka bergeser untuk mengembalikan modal demi menghadapi pemilu berikutnya.
Karena itu, Afief mengajak masyarakat menjadi pemilih cerdas dengan menolak praktik politik uang pada Pemilu 2029m
“Mari kita menjadi pemilih cerdas dengan mempelajari dulu track recordnya (calon) selama ini. Karena sekarang dunia ada di genggaman pemilih pemula, pasti mereka akan mempelajari dulu siapa calon yang akan dipilihnya,” ucapnya.
Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan adanya perubahan regulasi pada Pemilu 2029, baik terkait sistem tertutup maupun terbuka. Meski begitu, ia menegaskan bahwa persoalan politik uang tetap harus menjadi perhatian utama. (pra)











