RADARBEKASI.ID, BEKASI – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut dirasakan para pelaku usaha rumahan yang mengandalkan bahan baku kedelai impor. Kondisi itu turut dirasakan para produsen tempe di Kota Bekasi. Bagaimana cara mereka bertahan di tengah melonjaknya biaya produksi? Berikut laporannya.
Bondan Daryono (48), salah satu produsen tempe di Gang Mawar, Bekasi Timur, Kota Bekasi, memilih bertahan meski biaya produksi kian membengkak. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diduga turut berimbas pada naiknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.
Kenaikan harga bahan baku membuat keuntungan usaha yang digeluti Bondan selama dua dekade itu kian menipis. Meski biaya produksi tinggi, ia belum berani menaikkan harga jual tempe karena khawatir pelanggan beralih ke pedagang lain.
“Kalau harga tempe masih biasa. Walaupun bahan bakunya naik, kami belum bisa langsung naikkan harga,” ujar Bondan saat ditemui di tempat produksinya, Selasa (19/5).
Menurut Bondan, harga kedelai saat ini mencapai sekitar Rp10.200 per kilogram. Padahal sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp9.500 per kilogram setelah Hari Raya Idul Fitri.
Ia menduga kenaikan tersebut dipengaruhi tingginya kurs dolar AS karena kedelai yang digunakan sebagian besar merupakan produk impor.
“Bisa jadi dampak dolar juga. Apalagi pengiriman kadang lambat,” katanya.
Setiap hari Bondan membeli kedelai untuk memenuhi produksi tempe yang dipasarkan ke sejumlah pelanggan dan pedagang pasar ke daerah Kota dan Kabupaten Bekasi.
Meski modal meningkat, ia mengaku belum mengurangi jumlah produksi karena permintaan masyarakat masih relatif stabil. “Pemesanan masih biasa, cuma keuntungan jadi berkurang,” ucapnya.
Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, Bondan memilih mengurangi isi tempe tanpa mengubah ukuran luar maupun harga jual. Langkah itu dilakukan agar pelanggan tidak kaget dengan kenaikan harga. “Ukuran luarnya masih sama, cuma isinya dikurangi sedikit,” katanya.
Ia menjelaskan kondisi seperti ini sebenarnya kerap terjadi setiap kali dolar AS mengalami kenaikan. Bahkan, harga kedelai disebut kembali naik bertahap sekitar Rp200 per kilogram dalam waktu dekat ini.
Akibat naiknya harga bahan baku, laba yang sebelumnya bisa mencapai Rp100 ribu per hari ini turun menjadi sekitar Rp80 ribu. Penurunan keuntungan diperkirakan mencapai 10 hingga 20 persen. “Yang terasa itu modalnya. Untung pasti berkurang,” ujar Bondan.
Meski kondisi usaha semakin berat, Bondan tetap mempertahankan produksinya demi memenuhi kebutuhan pelanggan dan menjaga usahanya tetap berjalan.
Ia juga berharap pemerintah dapat kembali memberikan subsidi kedelai untuk membantu pelaku usaha kecil bertahan di tengah gejolak harga kedelai impor. “Harapannya ada subsidi lagi seperti dulu, supaya harga kedelai lebih ringan,” tutupnya. (rez)











