RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jarum jam baru menunjukan pukul 01.20 dini hari waktu setempat. Namun suasana di hotel tempat saya menginap di Kota Makkah justru mulai sibuk. Pintu kamar beberapa kali terdengar dibuka dan ditutup. Suara sandal bersahutan di lorong hotel. Sebagian jemaah tampak tergesa membawa sajadah kecil, botol minum, hingga Al-Qur’an di tangan mereka.
“Ayo cepat, kalau telat nanti kita gak kebagian tempat,” kata salah satu rekan sekamar saya, Dadang, sambil merapikan pecinya.
Usianya memang sudah 66 tahun. Rambutnya mulai memutih. Namun semangatnya mengalahkan banyak jemaah muda. Nafasnya masih kuat berjalan jauh. Wajahnya juga selalu tampak berbinar setiap kali mendengar kata Masjidil Haram.
“Jangan lupa bawa minum,” sambungnya lagi mengingatkan saya.
Setelah semuanya siap, saya bersama empat orang lainnya turun menuju lobi hotel. Di bawah ternyata sudah ramai. Ratusan jemaah dari berbagai daerah tampak menunggu bus shalawat yang beroperasi selama 24 jam untuk mengangkut jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sekitarnya.
Wajah-wajah mengantuk bercampur semangat terlihat jelas malam itu. Ada yang duduk sambil berdzikir pelan. Ada pula yang memejamkan mata sejenak sebelum berangkat. Sebagian lainnya sibuk memastikan sandal mereka tidak tertukar.
Lima menit menunggu, bus nomor 20 yang kami nantikan akhirnya tiba. Kami pun bergegas naik. Busnya nyaman dan cukup luas, mampu menampung sekitar 40 jemaah. Pegangan untuk penumpang berdiri juga tersedia di sepanjang badan bus.
Di dalam bus, suasana justru terasa tenang. Tidak banyak percakapan. Kebanyakan memilih diam, larut dalam doa, dan pikiran masing-masing. Mungkin semua sedang menyimpan harapan yang sama, bisa mendapatkan tempat terbaik untuk bermunajat di rumah Allah.
Sekitar 20 menit perjalanan, bus akhirnya tiba di Terminal Ajyad. Dari lokasi itu, kami masih harus berjalan kaki sekitar 15 menit menuju pelataran Masjidil Haram. Udara dini hari terasa cukup hangat, namun langkah kaki para jemaah tetap cepat.
Sejak turun dari bus, ribuan manusia sudah memadati area menuju pintu masuk masjid. Jumlahnya mungkin puluhan hingga ratusan ribu orang. Mereka datang dari berbagai negara, berbagai bahasa, berbagai warna kulit. Namun tujuan mereka sama, ingin melaksanakan salat tahajud dan menyambut salat subuh berjamaah di depan Kakbah.
Pemandangan itu membuat dada saya bergetar. Lautan manusia bergerak perlahan seperti arus besar yang tidak pernah berhenti. Kalimat talbiyah, dzikir, dan lantunan ayat suci Alqur’an terdengar bersahutan di berbagai sudut.
Saya masuk melalui Pintu Safa yang berada di sisi timur masjid. Malam itu saya memilih menuju lantai dua. Selain suasananya sedikit lebih longgar dibanding lantai dasar, saya juga tidak mengenakan pakaian ihram.
Beberapa akses menuju lantai atas memang tersedia bagi jemaah. Di antaranya melalui Bab Al Fatah atau Pintu 45 di sisi utara, Bab Al Umrah di bagian barat laut, hingga Bab Malik Abdul Aziz di sisi barat daya yang dilengkapi eskalator menuju berbagai lantai. Di setiap sudut tersedia papan petunjuk untuk memudahkan jemaah menuju area salat maupun tawaf.
Meski berada di lantai atas, suasana ternyata tetap padat. Ribuan jemaah terlihat melakukan iktikaf. Ada yang membaca Alquran dengan suara lirih. Ada yang menangis sambil menengadahkan tangan. Ada pula yang tertidur bersandar di tiang masjid setelah kelelahan beribadah.
Saya kemudian mencari tempat yang tidak terlalu jauh dari pintu keluar dan dekat tempat pengisian air zam-zam. Alasannya sederhana, agar mudah jika sewaktu-waktu merasa haus.
Setelah mendapatkan tempat, saya duduk cukup lama memandangi Kakbah dari kejauhan.
Sulit rasanya menggambarkan perasaan malam itu.
Langit gelap membentang tepat di atas Masjidil Haram. Cahaya lampu putih menerangi pelataran masjid yang tidak pernah tidur. Sementara ribuan manusia terus bergerak mengelilingi Ka’bah tanpa henti.
Di tempat itu, saya sadar bahwa semua manusia sebenarnya sama. Sama-sama datang membawa dosa. Sama-sama datang membawa harapan. Sama-sama ingin diampuni.
Air mata saya perlahan jatuh ketika memulai salat malam.
Sungguh ada kenikmatan yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata saat bermunajat langsung di depan Kakbah. Dada terasa sesak, namun sekaligus tenang. Bibir tak berhenti berdoa. Nama orangtua, keluarga, sahabat, hingga orang-orang yang pernah hadir dalam hidup satu per satu terucap dalam doa.
“Ya Allah, ternyata saya benar-benar sampai di sini,” bisik saya dalam hati.
Di sebelah saya, Pak Dadang juga tampak khusyuk berdoa cukup lama. Sesekali ia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
“Perasaan di sini beda sekali. Hati rasanya lembut. Mau doa apa saja jadi mudah menangis,” ucap Dadang pelan kepada saya setelah selesai salat.
Ia kemudian tersenyum sambil memandangi Kakbah.
“Mungkin ini yang selalu dirindukan umat muslim di seluruh dunia,” katanya lagi.
Dan memang benar.
Ada kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun ketika bisa bersujud di rumah Allah. Kenikmatan yang membuat jutaan umat muslim rela menunggu bertahun-tahun, menabung puluhan tahun, bahkan menghabiskan seluruh tabungan hidupnya demi bisa sampai ke tempat ini.
Tak heran jika para jemaah rela berebut tempat untuk tahajud di depan Kakbah.
Sebab di tempat itulah, banyak hati yang patah datang untuk disembuhkan. Banyak doa yang lama dipendam akhirnya dipanjatkan. Dan banyak air mata jatuh diam-diam, berharap Allah mengabulkan setiap harapan yang dibawa dari kampung halaman.(*)











