Berita Bekasi Nomor Satu

Menepi ke Taman Misfalah

Suasana Taman Misfalah dengan latar belakang gedung di Kota Makkah. FOTO: MIFTAKHUDIN/RADAR BEKASI

RADAR BEKASI.ID, BEKASI – Nama Taman Misfalah cukup akrab di telinga jemaah haji Indonesia, termasuk rombongan asal Bekasi. Hampir setiap kali berbincang santai usai salat atau makan bersama, nama tempat itu selalu muncul.

Katanya, taman tersebut menjadi lokasi favorit jemaah untuk menikmati suasana Kota Makkah di ruang terbuka. Saya coba mencari-cari nama taman tersebut. Tapi jawaban yang saya dapat bawah taman itu bernama Taman Misfalah. Ya, mungkin karena lokasinya berada di kawasan Misfalah. Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya datang langsung ke sana.

Usai salat subuh, saya bersama beberapa rekan jemaah asal Kota Bekasi berjalan kaki menuju kawasan Al-Misfalah. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari hotel tempat kami menginap. Udara pagi masih terasa cukup sejuk, meski semburat cahaya matahari mulai muncul di sela gedung-gedung tinggi yang mengelilingi kota suci.

Perjalanan menuju taman justru menjadi pengalaman menarik tersendiri. Di sepanjang jalan, suasana perlahan hidup. Deretan hotel tempat jemaah Indonesia menginap berdiri rapat di sisi jalan. Tak jauh dari sana, toko-toko oleh-oleh mulai membuka pintunya.

Sajadah bergelantungan di depan toko, aroma parfum Arab menyeruak dari etalase, sementara para pedagang menawarkan dagangan mereka dengan bahasa Indonesia seadanya. Ada yang menjual kurma, cokelat, tasbih, peci, baju muslim, hingga aneka souvenir khas Tanah Suci.

Kawasan ini memang begitu akrab bagi jemaah Indonesia. Banyak yang menyebutnya seperti “Tanah Abang”-nya Makkah. Hampir di setiap sudut terdengar percakapan berbahasa Indonesia. Rasanya seperti belum terlalu jauh meninggalkan kampung halaman.

Sesampainya di Taman Misfalah, rasa lelah perjalanan seketika terbayar. Hamparan rerumputan Jepang tampak menghijau di tengah dominasi bangunan beton dan gunung batu khas Makkah. Pepohonan tumbuh rapi di beberapa sudut taman, menghadirkan keteduhan sederhana di tengah cuaca gurun yang terkenal panas.

Pemandangan itu membuat salah seorang rekan saya, Firdaus, jemaah asal Bekasi Utara, spontan tertawa kecil.

“Akhirnya kita lihat rumput juga,” katanya.

Ucapan sederhana itu justru terasa sangat jujur. Setelah berhari-hari berada di tengah cuaca panas dan padatnya aktivitas ibadah, melihat hamparan hijau terasa seperti menemukan sedikit penghiburan.

Jemaah haji asal Bekasi bersantai di Taman Misfalah, Kota Makkah. FOTO: MIFTAKHUDIN/RADAR BEKASI

Kami pun memilih duduk santai di atas rumput bersama para jemaah lain. Memang tersedia kursi dari batu di beberapa titik taman, namun kebanyakan pengunjung lebih senang duduk langsung di rerumputan sambil menikmati suasana pagi.

Dari tempat itu, gedung-gedung pencakar langit tampak berdiri megah dengan latar gunung batu yang menjulang. Perpaduan antara alam tandus dan kemajuan kota terlihat begitu kontras.

Firdaus kembali menunjuk ke arah perbukitan batu di balik gedung bertingkat.

“Canggih banget ya, bisa ngancurin gunung batu begitu,” ucapnya dengan logat Betawi Bekasi yang masih kental.

Saya hanya tersenyum sambil memandang ke arah yang sama. Kota ini memang memperlihatkan bagaimana kerasnya alam bisa berdampingan dengan modernitas. Gunung-gunung batu dipahat menjadi jalan raya, hotel, hingga pusat perbelanjaan demi melayani jutaan tamu Allah dari seluruh dunia.

Pagi itu, Taman Misfalah dipenuhi jemaah Indonesia. Ada yang datang bersama rombongan kloter, ada pasangan suami istri yang duduk santai menikmati udara pagi, ada pula yang sibuk memberi makan burung merpati yang beterbangan bebas di sekitar taman.

Sebagian lainnya tampak mengabadikan momen. Ada yang berfoto bersama dengan latar gedung tinggi, ada pula yang merekam video untuk dikirim kepada keluarga di kampung halaman. Sesekali terdengar tawa kecil dan cerita perjalanan haji yang saling bersahutan.

Di tengah padatnya aktivitas ibadah menjelang puncak haji Armuzna, taman sederhana itu seperti menjadi ruang jeda bagi para jemaah. Tempat untuk menenangkan pikiran, mengistirahatkan tubuh, sekaligus mengobati kerinduan pada suasana hijau yang jarang ditemui selama berada di Makkah.

Meski begitu, kondisi taman belum sepenuhnya nyaman. Beberapa petugas kebersihan terlihat sibuk menyapu area taman sejak pagi. Namun minimnya fasilitas tempat sampah membuat botol-botol bekas air mineral masih terlihat berserakan di beberapa titik rerumputan.

Pemandangan itu sedikit disayangkan. Di tengah indahnya taman yang menjadi tempat favorit jemaah, kesadaran menjaga kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tak terasa waktu terus berjalan. Matahari mulai meninggi dan udara berubah semakin terik. Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, kami memutuskan kembali ke hotel. Saat melihat ponsel, suhu udara ternyata sudah mencapai 40 derajat Celcius.

Kami pun bergegas pulang sambil sesekali menoleh ke arah taman yang mulai dipenuhi lebih banyak pengunjung.

Di tengah kerasnya cuaca Makkah, Taman Misfalah mungkin hanyalah ruang hijau sederhana. Tidak mewah dan tidak dipenuhi fasilitas modern. Namun bagi banyak jemaah Indonesia, tempat itu menghadirkan ketenangan kecil di tengah perjalanan spiritual yang panjang.

Sebab terkadang, di perjalanan menuju Allah, manusia memang hanya membutuhkan tempat sederhana untuk berhenti sejenak, menghela napas, lalu kembali melanjutkan langkah dengan hati yang lebih lapang.(*)