Berita Bekasi Nomor Satu

Hari ini Bergerak ke Arafah

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Akhirnya, waktu yang selama ini ditunggu itu tiba juga. Waktu ketika jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia bergerak menuju satu tempat yang sama, Padang Arafah. Tempat yang sering disebut sebagai puncak ibadah haji. Tempat di mana manusia datang membawa doa, air mata, harapan, dan segala penyesalan hidupnya.

Sejak pagi hari, suasana hotel jemaah haji asal Bekasi tempat saya menginap di Makkah sudah terasa berbeda. Lorong-lorong hotel yang biasanya dipenuhi langkah santai jemaah, pagi itu berubah menjadi lebih sibuk.

Para jemaah membawa tas backpack yang berisi pakaian ganti dan kebutuhan lainnya. Jemaah pria sudah mengenakan pakaian ihram. Terlihat wajah-wajah jemaah tampak tegang bercampur haru.

Saya yang tergabung dalam Kloter JKS 22 Kota Bekasi ikut merasakan suasana itu. Di bawah naungan Syarikah Rakeen Mashariq, dengan Markaz 18 dan gate Mina nomor 97/18, sebanyak 441 jemaah bersiap menjalani fase terpenting dalam ibadah haji.

Ya, hari ini Senin, 25 Mei 2026 atau bertepatan 8 Zulhijah, menjadi awal perjalanan menuju Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pemerintah Arab Saudi bersama petugas haji Indonesia telah mengatur seluruh pergerakan jemaah secara ketat dan terjadwal.

Pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah dibagi dalam tiga gelombang keberangkatan. Gelombang pertama dimulai pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS)n gelombang kedua pukul 11.30 WAS, dan gelombang ketiga pukul 17.30 WAS.

Kloter kami dijadwalkan bergerak menuju Arafah pada pukul 11.30 hingga 16.00 WAS. Satu per satu jemaah mulai turun menuju area bus sesuai rombongan masing-masing. Petugas terus mengingatkan agar jemaah tidak berkumpul di lobi hotel terlalu lama demi menghindari penumpukan massa.

Di tengah kesibukan itu, wajah-wajah jemaah tampak penuh harapan. Ada yang sibuk membaca doa, ada yang terus menggenggam tas kecil berisi dokumen penting, dan ada pula yang diam memandangi langit Makkah dengan mata berkaca-kaca.

Perjalanan menuju Arafah bukan sekadar perpindahan tempat. Bagi banyak jemaah, perjalanan itu terasa seperti perjalanan menuju titik paling dekat antara manusia dan Tuhannya.

Ketua Kloter JKS 22, Arif Rahman, mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kondisi fisik selama fase Armuzna berlangsung.

“Mulai sekarang ibadah fisik benar-benar dimulai. Jaga kesehatan, perbanyak minum air, dan jangan memaksakan diri,” ujarnya kepada jemaah sebelum keberangkatan.

Pemerintah menargetkan seluruh jemaah sudah berada di Arafah sebelum pukul 24.00 WAS. Bahkan setelah tengah malam, petugas akan melakukan sweeping menyeluruh di kawasan Makkah untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.

Setelah menjalani wukuf di Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 atau 9 Zulhijah, perjalanan berat berikutnya akan dimulai. Jemaah akan bergerak menuju Muzdalifah lalu Mina.

Dalam fase tersebut, pemerintah menerapkan dua skema perjalanan, yakni murur dan non-murur. Skema murur diperuntukkan bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah risiko tinggi. Mereka akan langsung melintas menuju Mina menggunakan bus tanpa turun di Muzdalifah.

Sementara jemaah non-murur tetap akan turun dan menjalani mabid di Muzdalifah sebelum diberangkatkan menuju Mina.

“Targetnya seluruh jemaah telah diberangkatkan dari Muzdalifah sebelum pukul 07.00 pagi waktu Arab Saudi,” jelas petugas haji dalam pengarahan kepada jemaah.

Pemerintah juga menargetkan seluruh tenda di Arafah sudah kosong pada pukul 23.00 WAS. Petugas nantinya akan memeriksa tenda satu per satu untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.

Setibanya di Mina pada 10 Zulhijah, jemaah dijadwalkan mulai melontar Jumrah Aqobah pukul 10.00 WAS. Selanjutnya pada 11 hingga 13 Zulhijah, jemaah akan menjalani mabid di Mina sekaligus melaksanakan lontar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqobah.

Sementara proses kepulangan menuju Makkah dibagi menjadi dua skema, yakni Nafar Awal dan Nafar Tsani. Jemaah Nafar Awal dijadwalkan kembali ke Makkah pada 12 Zulhijah, sedangkan Nafar Tsani pada 13 Zulhijah.

Di tengah padatnya rangkaian ibadah, petugas terus mengingatkan jemaah agar menjaga kekompakan rombongan dan tidak bepergian sendirian selama fase Armuzna berlangsung.

Menjelang keberangkatan menuju Arafah, saya melihat seorang jemaah lansia duduk diam sambil memegang tas kecilnya erat-erat. Matanya menatap jauh ke arah jalanan Makkah. Di wajahnya tersimpan rasa lelah, harap, sekaligus syukur yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Barangkali memang beginilah haji. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga mengguncang hati manusia. Dan hari itu, jutaan langkah mulai bergerak menuju Arafah, menuju tempat di mana manusia datang dengan pakaian yang sama, membawa doa yang sama, dan berharap pulang dengan jiwa yang lebih bersih.(*)