RADARBEKASI.ID, BEKASI – Langit Makkah siang itu tampak pucat diselimuti debu tipis. Matahari menggantung tepat di atas kepala dengan suhu mencapai 44 derajat Celsius. Panasnya terasa memantul dari dinding hotel, aspal jalanan, hingga kaca-kaca gedung tinggi yang berdiri rapat di sekitar kawasan pemondokan jemaah. Namun, di tengah terik yang menyengat itu, suasana Kota Suci justru perlahan berubah sunyi.
Jalan-jalan utama yang beberapa hari sebelumnya dipenuhi lautan manusia mulai lengang. Sesekali mobil aparat pemerintah Arab Saudi melintas cepat dengan sirine meraung bersahutan. Suara itu memecah udara panas dan menghadirkan tanda bahwa puncak ibadah haji semakin dekat
Menjelang pergerakan menuju Arafah, pemerintah Arab Saudi bersama Kementerian Haji dan Umrah RI melakukan sweeping menyeluruh di berbagai hotel jemaah. Semua dilakukan untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal ketika jutaan orang bergerak menuju Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Di depan hotel, deretan bus pengangkut jemaah telah berbaris sejak pagi. Mesin kendaraan dibiarkan menyala. Para petugas tampak mondar-mandir sambil membawa daftar nama dan alat komunikasi. Mereka memeriksa setiap rombongan dengan teliti. Tidak hanya jemaah asal Indonesia, ribuan umat muslim dari berbagai negara juga mulai bergerak menuju Arafah secara bergelombang.
Sebagai ketua regu di Kloter 22 JKS, saya ikut menyusuri lorong-lorong hotel untuk memastikan seluruh anggota regu sudah siap berangkat. Satu per satu kamar saya datangi. Saya memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal dan semua membawa perlengkapan penting selama di Armuzna, mulai dari identitas diri, obat-obatan pribadi, hingga perlengkapan ibadah sederhana.
Sejak pukul 10.00 waktu setempat saya telah mengenakan pakaian ihram. Dua lembar kain putih yang membalut tubuh terasa ringan, tetapi menghadirkan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Di lobi hotel, para jemaah duduk berkelompok sambil memegang tas kecil berisi perlengkapan seperlunya. Sebagian melantunkan talbiyah lirih, sebagian lain memejamkan mata sambil berzikir.
“Ini adalah puncak haji. Seluruh jemaah menuju Arafah,” ujar pembimbing ibadah Kloter 22 JKS, Lilis Roslina.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Sebab seluruh rangkaian ibadah haji bermuara di Padang Arafah. Bahkan jemaah yang sakit sekalipun harus tetap berada di sana agar hajinya sah. Karena itulah para petugas bekerja tanpa henti memastikan seluruh jemaah dapat diberangkatkan.
Awalnya jadwal keberangkatan kami ditetapkan pukul 11.30 siang. Namun, seperti jutaan jemaah lain yang bergerak bersamaan, jadwal itu akhirnya mundur. Penantian panjang membuat suasana hotel dipenuhi aktivitas kecil yang berjalan alami. Ada jemaah yang memilih beristirahat di kursi lorong hotel, ada pula yang sibuk menghubungi keluarga di Tanah Air untuk meminta doa.
Menjelang waktu Zuhur, kami memutuskan melaksanakan salat terlebih dahulu. Salat Zuhur dijamak dengan Asar secara qasar dan takdim. Aula hotel mendadak berubah menjadi hamparan sajadah panjang. Di tengah rasa lelah dan penantian yang tak pasti, suasana justru terasa teduh dan menenangkan.
Seorang petugas haji yang berjaga di area keberangkatan memperkirakan perjalanan menuju Arafah akan berlangsung cukup lama.
“Kalau hari biasa mungkin hanya satu jam. Tapi sekarang jutaan jemaah bergerak bersamaan,” katanya.
Menjelang sore, suara talbiyah semakin sering terdengar dari berbagai arah. Satu per satu bus mulai bergerak perlahan meninggalkan kawasan hotel. Dari balik kaca kendaraan, saya melihat Mekkah yang perlahan sunyi. Kota suci itu seperti memberi jalan bagi jutaan manusia yang sedang menuju tempat paling penting dalam perjalanan hajinya.
Di dalam bus, sebagian jemaah tertidur karena lelah. Sebagian lainnya terus berzikir pelan sambil menatap keluar jendela. Saya sendiri memilih memandangi iring-iringan kendaraan dari berbagai negara yang memenuhi jalan menuju Arafah. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan ketika menyadari bahwa jutaan manusia, dengan bahasa dan warna kulit berbeda, sedang bergerak menuju tempat yang sama untuk satu tujuan yang sama pula.
Perjalanan menuju Arafah hari itu bukan sekadar perpindahan tempat. Ini menjadi perjalanan batin yang mengajarkan tentang kesabaran, kebersamaan, dan kepasrahan total kepada Allah.(*)











