Berita Bekasi Nomor Satu

Tenda Wukuf

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Senja perlahan turun di Padang Arafah ketika bus yang membawa rombongan kami mulai memasuki kawasan tenda wukuf, Senin sore (25/5). Cahaya matahari yang mulai meredup menyelimuti hamparan padang pasir dengan warna keemasan.

Dari balik kaca jendela bus, ribuan tenda putih tampak berdiri berjajar rapi sejauh mata memandang. Pemandangan itu terasa begitu akrab, meski sebelumnya hanya saya kenal lewat cerita para ulama, buku manasik, dan kisah para jemaah yang pernah menunaikan ibadah haji.

Saat kaki benar-benar menapak di tanah Arafah, ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dada terasa penuh. Tempat ini bukan sekadar hamparan padang luas di tengah gurun, melainkan lokasi yang setiap tahun menjadi titik berkumpul jutaan manusia dari berbagai bangsa dan bahasa untuk satu tujuan yang sama, memenuhi panggilan Allah.

Saya yang tergabung dalam Kloter 22 menempati Maktab 18 bersama jemaah dari Kloter 21. Tenda yang kami tempati berukuran sangat besar. Begitu masuk ke dalam, suasananya jauh dari bayangan tentang gurun yang panas dan pengap.

Udara di dalam tenda terasa cukup sejuk karena sejumlah pendingin portabel terus bekerja tanpa henti. Lampu-lampu LED menggantung terang di langit-langit tenda, membuat suasana tetap nyaman meski malam perlahan datang.

Kami tiba sekitar satu jam sebelum azan magrib berkumandang. Suasana di sekitar tenda terlihat sibuk, namun tetap tertib. Para jemaah mulai mencari tempat duduk, membentangkan alas istirahat, serta menyusun barang bawaan masing-masing.

Sebagian jemaah langsung berzikir dengan suara lirih. Sebagian lainnya hanya duduk memandangi sekitar dengan mata berkaca-kaca, seperti tak percaya akhirnya bisa berada di tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa-doa panjang mereka.

“Saya sampai merinding ketika turun dari bus. Rasanya seperti mimpi bisa berada di Arafah,” ujar Zainal Arifin, seorang jemaah asal Bekasi.

Di tengah suasana itu, saya ikut membantu membagikan makanan kepada rombongan. Aktivitas sederhana tersebut terasa berbeda ketika dilakukan di tanah suci. Di tengah rasa lelah setelah perjalanan panjang, melihat para jemaah menerima makanan sambil tersenyum menghadirkan kehangatan tersendiri. Ada rasa kebersamaan yang begitu kuat di dalam tenda itu.

Saya dan jemaah lainnya tak henti-hentinya bersyukur. Makanan begitu melimpah. Bahkan, snack belum habis sudah dapat lagi. Begitu juga kamar mandi dan toilet. Tempatnya bersih dan nyaman, jauh dari bayangan saya sebelumnya.

Selepas salat magrib dan isya berjamaah, suasana perlahan berubah lebih tenang. Sebagian jemaah memilih segera beristirahat untuk menjaga stamina menghadapi perjalanan menuju Muzdalifah keesokan harinya.

Namun tidak sedikit pula yang memilih tetap terjaga. Dari berbagai sudut tenda terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dibaca pelan. Ada yang memejamkan mata sambil menggenggam tasbih, ada pula yang larut dalam doa-doa panjang dengan wajah penuh harap.

“Besok perjalanan masih panjang. Tapi malam di Arafah ini rasanya sayang kalau hanya dipakai tidur,” kata seorang jemaah lanjut usia sambil tersenyum kecil.

Padang Arafah sendiri berada sekitar 25 kilometer di sebelah timur Kota Makkah. Kawasan ini berupa hamparan tanah lapang luas yang berada di ketinggian sekitar 750 kaki di atas permukaan laut. Pada musim haji, kawasan tersebut berubah menjadi lautan manusia yang dipenuhi jutaan jemaah dari berbagai negara.

Kini suasana Arafah jauh lebih nyaman dibanding masa lalu. Pemerintah Arab Saudi terus melakukan berbagai pembenahan untuk melayani para tamu Allah. Pohon-pohon rindang ditanam di sejumlah sudut kawasan guna mengurangi sengatan matahari gurun. Selain itu, tiang-tiang penyemprot kabut air dipasang di beberapa titik sehingga udara terasa lebih sejuk, seperti terkena embun tipis di tengah panasnya padang pasir.

Tenda-tenda pemondokan jemaah juga dilengkapi fasilitas modern. Selain pendingin udara, area maktab memiliki penerangan yang baik, karpet, kasur, hingga fasilitas sanitasi yang memadai. Untuk jemaah Indonesia, satu maktab rata-rata menampung sekitar 3.000 orang atau setara tujuh kloter dengan puluhan tenda besar di dalamnya.

Pada musim haji 2026/1447 Hijriah, jemaah Indonesia menempati sekitar 70 maktab di Padang Arafah. Seluruhnya dikelola otoritas layanan haji Arab Saudi untuk melayani lebih dari 221 ribu jemaah reguler Indonesia.

Meski fasilitas semakin nyaman dan modern, suasana spiritual di Arafah tetap menjadi hal yang paling terasa. Di tempat inilah manusia seakan melepas seluruh atribut dunia. Tidak ada lagi perbedaan jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial. Semua duduk bersisian dengan pakaian ihram yang sama, memohon ampunan kepada Allah dengan hati yang sama rapuhnya.

Malam itu saya duduk sejenak di depan tenda. Angin gurun bertiup perlahan membawa suara talbiyah dari kejauhan. Lampu-lampu tenda tampak berpendar lembut di tengah gelapnya Padang Arafah. Dalam diam saya membatin, mungkin beginilah rasanya ketika manusia benar-benar datang sebagai hamba. Tanpa kemewahan, tanpa kebanggaan dunia, hanya membawa doa dan harapan.

Dan di tanah lapang bernama Arafah itu, jutaan langkah seolah sedang menuju satu tujuan yang sama, kembali mendekat kepada Allah.(*)