Berita Bekasi Nomor Satu

Pertamax Naik, Pertalite Sempat Langka di Bekasi

ANTRE BBM: Sejumlah pengendara sepeda motor dan mobil saat antri di salah satu SPBU di kawasan Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite sempat mengalami kelangkaan di sejumlah SPBU. Kelangkaan itu terjadi berbarengan dengan naiknya harga BBM nonsubsidi Pertamax (Ron 92) dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, Rabu (10/6).

Salah satu mitra platform pengiriman barang, Husnul (32) sempat dibuat bingung lantaran Pertalite di sejumlah SPBU di Bekasi kosong sejak sehari sebelum adanya kenaikan Pertamax. Setidaknya ia sudah mencari BBM bersubsidi tersebut di empat SPBU, dimulai dari SPBU di kawasan Bulan-bulan Kota Bekasi.

“Sepanjang Kalimalang itu tiga pom bensin tidak ada Pertalite sampai Cibitung, karena kalau isi Pertamax terlalu mahal akhirnya saya pulang,” katanya, Rabu (10/6).

Kemarin, ia kembali bekerja setelah mendapatkan BBM Pertalite. Husnul berharap BBM bersubsidi tidak lagi tersendat, pasalnya tidak ada pilihan lain agar ia tetap bisa bekerja.

“Kalau argonya naik nggak papa (isi Pertamax), sekarang kan sudah Rp16 ribu Pertamax,” tambahnya.

Selain Pertamax, BBM non subsidi lainnya yang juga mengalami kenaikan adalah Pertamax Green 95 dari harga Rp12.900 per liter menjadi Rp17 ribu per liter.

Salah satu pengemudi Ojol yang dijumpai di SPBU Jalan Ahmad Yani Bekasi Selatan, Sardan mengaku sebelum ada kenaikan harga, Pertamax selama ini menjadi alternatif BBM jika persediaan Pertalite kosong.

“Kalau misalkan Pertalite kosong, bensin di tangki juga kosong, mau nggak mau pakai Pertamax,” katanya.

Naiknya harga Pertamax membuat ia harus berpikir dua kali menyesuaikan pendapatannya sekalipun harus membeli BBM non subsidi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menurutnya akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan.

“Pasti pengaruh, disamping itu kan tarif Ojol masih segitu-segitu aja, kalau bensin naik pasti berasa juga,” tambahnya.

Peneliti dan Pengamat Kebijakan Publik IDP-LP, Riko Noviantoro, mengatakan pemerintah mesti mewaspadai perpindahan pengendara yang semula menggunakan BBM Pertamax atau Pertamax Green ke Pertalite.

Pemerintah mesti meyakinkan masyarakat yang saat ini menggunakan Pertamax tidak pindah ke BBM subsidi, serta mengedukasi masyarakat mengenai penghematan konsumsi BBM.

“Ini kan berarti ada peningkatan pengguna Pertalite, dan itu berarti ada peningkatan subsidi Pertalite,” katanya.

Kedua, aparat penegak hukum mesti mengawasi secara ketat potensi penimbunan BBM. Hal ini berpotensi memperburuk situasi.

Kenaikan harga BBM terjadi akibat gejolak global, sejumlah negara pun telah melakukan hal serupa hingga upaya-upaya penghematan. Ia mengingatkan agar pemerintah benar-benar memberikan contoh penghematan serta berperilaku sederhana di tengah masyarakat, salah satunya tidak memamerkan kemewahan.

“Mengurangi semua aktivitas perjalanan yang tidak perlu untuk menjaga kepercayaan publik kepada sikap pemerintah,” ucapnya.

Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi baik Pertalite maupun Solar tetap. Penyesuaian harga Pertamax series diputuskan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator, evaluasi dilakukan secara berkala mempertimbangkan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Sementara, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.
Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth.

Menurutnya, Pertamina Patra Niaga senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik. Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, Pertalite Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter. (sur)