Berita Bekasi Nomor Satu

Baqi dan Jejak Hijrah

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tepat pukul 10.45 waktu Arab Saudi, bus yang membawa rombongan kami perlahan meninggalkan Kota Makkah. Dari balik jendela, saya memandang untuk terakhir kalinya kota suci yang selama beberapa pekan terakhir menjadi tempat beribadah, bermunajat, dan menumpahkan air mata di hadapan Baitullah.

Ada rasa berat yang sulit dijelaskan ketika harus berpisah dengan Makkah. Kota ini bukan sekadar tempat, melainkan ruang yang menyimpan begitu banyak kenangan spiritual. Namun perjalanan harus terus berlanjut. Tujuan kami berikutnya adalah Madinah Al-Munawwarah, kota yang menjadi saksi perjuangan dan perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

Bus melaju membelah hamparan gurun yang gersang dan panas. Di sepanjang perjalanan, mata saya tak lepas dari pemandangan di luar jendela. Gugusan gunung batu menjulang di tengah bentangan pasir tandus yang seolah tak berujung.

Pemandangan itu membawa imajinasi saya melintasi waktu lebih dari 14 abad silam. Saya membayangkan bagaimana beratnya perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Di tengah keterbatasan sarana transportasi, cuaca yang ekstrem, dan ancaman kaum Quraisy, Rasulullah tetap melangkah demi menyelamatkan risalah Islam.

Perjalanan kami tentu jauh lebih nyaman. Namun gurun yang sama seakan menjadi pengingat betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Sekitar tengah hari, bus berhenti di rest area kilometer 200 jalur Jeddah-Madinah, wilayah Al abyar. Di tempat itu terdapat sebuah rumah makan yang cukup populer di kalangan jemaah Indonesia, yakni Restoran Priangan.

Aroma masakan Nusantara langsung menyambut begitu kami memasuki restoran. Setelah berhari-hari menikmati berbagai menu khas Timur Tengah, kehadiran makanan Indonesia terasa begitu menggoda.

Saya memilih nasi rames dengan lauk ikan patin balado, telur balado, kentang, dan sayuran. Istri saya memilih semangkuk bakso hangat. Sementara beberapa rekan lainnya menikmati soto, sop ayam, hingga ayam bakar.

Suasana makan siang berlangsung hangat. Obrolan ringan mengalir di sela-sela santapan yang mengingatkan kami pada kampung halaman.

“Baru ini makan sampai habis. Ini baru masakan Indonesia,” ujar Zainal, salah seorang rekan rombongan, sambil menghabiskan suapan terakhirnya.

Setelah beristirahat dan menunaikan salat Zuhur, perjalanan kembali dilanjutkan. Sore hari, tepat pukul 16.20 waktu setempat, kami akhirnya tiba di Madinah.

Rasa lelah selama perjalanan seolah hilang begitu melihat papan penunjuk menuju Masjid Nabawi. Kota Nabi itu menyambut kami dengan suasana yang lebih tenang dibandingkan Makkah.

Kami menginap di Shaza Regency Plaza Hotel yang berjarak sekitar 400 meter dari Masjid Nabawi. Setibanya di hotel, koper-koper segera ditempatkan di kamar. Tidak ada waktu untuk berlama-lama beristirahat.

Tujuan utama kami adalah mengejar ibadah Arbain, yakni melaksanakan salat wajib sebanyak 40 waktu secara berturut-turut di Masjid Nabawi tanpa terputus dan tanpa tertinggal takbiratul ihram bersama imam.

Menjelang waktu Magrib, kami berjalan menuju masjid. Kubah hijau yang menjadi ikon Masjid Nabawi tampak begitu menenangkan. Ribuan jemaah dari berbagai negara berjalan beriringan menuju rumah ibadah yang menjadi salah satu masjid paling mulia dalam Islam itu.

Keesokan harinya, seusai salat Subuh, saya berkesempatan mengunjungi Makam Baqi yang lokasinya berada di sisi tenggara kawasan Masjid Nabawi.

Baqi atau Jannatul Baqi merupakan pemakaman paling terkenal di Madinah. Tempat ini telah menjadi lokasi pemakaman penduduk Madinah sejak masa Jahiliyah hingga sekarang. Nama Baqi sendiri berasal dari kata yang berarti kawasan yang ditumbuhi pepohonan.

Kini, kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang paling banyak diziarahi jemaah haji dan umrah. Diperkirakan lebih dari 10.000 sahabat Nabi Muhammad SAW dimakamkan di tempat ini, termasuk sejumlah anggota keluarga Rasulullah.

Dari balik pagar pembatas, terlihat hamparan tanah luas yang dipenuhi gundukan pasir dan batu sebagai penanda makam. Berbeda dengan pemakaman pada umumnya, hampir seluruh makam di Baqi tidak memiliki nisan atau identitas khusus.

Kesederhanaan itulah yang justru menghadirkan suasana haru. Di tempat tersebut bersemayam orang-orang yang dahulu berjuang bersama Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam.

Pengunjung hanya diperbolehkan masuk pada waktu-waktu tertentu, biasanya setelah salat Subuh dan salat Ashar. Akses masuk juga hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Petugas keamanan berjaga di berbagai titik untuk memastikan ketertiban para peziarah.

Di tengah suasana pagi yang sejuk, saya memandang kawasan pemakaman itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Di hadapan saya terbentang sejarah Islam yang begitu panjang. Nama-nama besar yang selama ini hanya saya baca dalam kitab dan buku sejarah kini dimakamkan di tempat tersebut.

Perjalanan dari Makkah menuju Madinah bukan sekadar perpindahan kota. Perjalanan itu menjadi kesempatan untuk merenungi kembali perjuangan Rasulullah SAW, menikmati kerinduan pada tanah air lewat sepiring makanan Indonesia, sekaligus menapaki jejak-jejak sejarah Islam yang masih terjaga hingga hari ini

Dan ketika berdiri di dekat Baqi, saya semakin menyadari bahwa setiap perjalanan ibadah pada akhirnya bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang pelajaran yang dibawa pulang ke dalam hati.(*)