RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jeritan perlahan terdengar dari bibir pantai Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Bukan berasal dari deburan ombak, melainkan dari para pencari nafkah laut yang kehilangan sumber penghidupan.
Perairan pesisir yang selama puluhan tahun menjadi sandaran ekonomi warga berubah menjadi ancaman. Pencemaran limbah industri diduga merusak ekosistem laut dan mematikan habitat kerang, komoditas utama penopang kehidupan masyarakat setempat. Dampaknya, kehidupan nelayan kini terpuruk akibat hasil tangkapan yang terus menurun.
Sejak Mei lalu, laut dangkal Tarumajaya tak lagi ramah. Zat polutan yang diduga dibuang ke perairan membuat populasi kerang terus menyusut. Sementara ikan-ikan menjauh ke laut lepas, wilayah yang tak mungkin dijangkau perahu-perahu tradisional milik nelayan pesisir.
Samsur (58), menjadi salahsatu nelayan kerang yang masih bertahan. Ia mengaku kondisi perairan saat ini berada di titik terburuk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya sangat terasa. Penghasilan nelayan merosot hingga 70 persen. Bahkan, hampir separuh di antaranya kini tak lagi melaut.
“Kondisinya sekarang bukan semakin parah lagi, bahkan sudah hampir 50 persen nelayan yang menganggur akibat limbah,” kata Samsur di Tarumajaya, Minggu (21/6).
Ia mengenang, pada Februari hingga Maret lalu laut masih memberikan hasil melimpah. Dalam sehari, para nelayan bisa membawa pulang sedikitnya 30 ember kerang. Pada musim terbaik, hasil tangkapan bahkan mencapai 40 hingga 50 ember.
Kini, untuk mendapatkan enam ember kerang saja sudah menjadi pekerjaan yang sulit. Satu ember hanya berisi sekitar lima hingga enam kilogram kerang yang belum dibersihkan. Pertumbuhan kerang pun tidak lagi secepat biasanya.
“Sekarang paling dapet enam ember. Udah maksimal banget 12 ember. Padahal kerang satu ember cuma Rp20 ribu sampai Rp22 ribu,” katanya.
Dari sekitar 60 hingga 70 nelayan yang menggantungkan hidup dari berburu kerang di perairan Tarumajaya, kini hanya belasan orang yang masih bertahan. Bukan karena hasil laut masih menjanjikan, melainkan karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi, sementara biaya pendidikan anak tak bisa ditunda.
Sementara itu, hampir separuh dari total nelayan telah meletakkan dayung mereka. Pantai Makmur kini berubah menjadi desa dengan puluhan pengangguran baru. Demi bertahan hidup, para pencari nafkah laut ini terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar, bahkan pemulung.
“Bekerja ya serabutan, kadang ada yang kuli-kuli panggul. Sampai ada yang mulung. Saya sempat dua minggu nganggur cari kerja serabutan,” ungkap Samsur.
Di sisi lain, bagi para nelayan, polemik kenaikan harga solar kini bukan lagi persoalan utama. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya sumber daya laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.
Meski meyakini pencemaran berasal dari aktivitas industri, mereka enggan menunjuk perusahaan tertentu. Kawasan pesisir Tarumajaya dikelilingi banyak pabrik sehingga sumber pencemar sulit dipastikan tanpa penyelidikan yang menyeluruh.
Samsur bersama nelayan lainnya berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi turun tangan secara serius. Mereka mendesak evaluasi menyeluruh terhadap dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar pesisir.
“Ya mohon dinas terkait, khususnya Kabupaten Bekasi, tengoklah nasib kami. Nah mohon maaf, bohong perizinan itu khususnya Amdal ya, kalau enggak ngelalui dinas terkait,” pungkasnya. (ris)











