RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru tak ubahnya pemantik yang memercikkan semangat belajar para murid untuk menggali pengetahuan. Di Bengkulu, para guru yang merupakan Science Heroes berupaya memantik siswanya dengan berinovasi menyalakan semangat para murid belajar sains.
Linda Komalasari, Guru Kelas I SDN 61 Kota Bengkulu, adalah salah satu guru yang memiliki inovasi dalam menjalankan tugasnya. Linda berinovasi karena tahu tantangan tak tertulis dalam mengajar: kebosanan dan kejemuan murid ketika harus duduk, menyimak penjelasan, dan menghafal informasi. “Saya sering melihat siswa cepat bosan ketika hanya diminta menyalin atau menghafal. Mereka duduk tenang, tetapi mata mereka kosong tanpa semangat,” kata Linda.
Baginya, metode belajar seperti itu tak cukup. Dia percaya bahwa murid kelas I SD tidak hanya harus belajar membaca, menulis, dan berhitung dari dalam kelas. Mereka perlu diajak melihat dunia dengan cara lebih luas.
Linda lantas menerapkan pendekatan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam mengajar. Pendekatan ini dipilih untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak, memunculkan pertanyaan di benak, dan mendorong mereka untuk menemukan jawaban sendiri. Metode yang Linda lakukan jauh dari kata kompleks; ia mengajak murid-muridnya keluar kelas.

“Kami berjalan-jalan ke halaman sekolah, memetik daun pepaya, jagung, mangga, singkong dan sirih. Mereka membawa daun di tangan mereka, lalu mengamati, bertanya, dan mencari tahu alasan bentuk daun berbeda-beda,” ujarnya.
Sejak menerapkan metode belajar dari luar kelas, Linda merasa perkembangan anak didiknya semakin cepat. Pendekatan yang digunakan Linda terbukti mampu menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Linda menyebut, ada beberapa tips untuk para guru yang ingin mencontoh caranya mengajar. Saran-saran tersebut disingkatnya dengan sebutan ABCDE:
-
Amati: Ajak anak didik mengamati objek untuk menumbuhkan rasa ingin tahu.
-
Bertanya: Picu anak didik agar bisa membuat pertanyaan dari pengamatan yang dilakukan.
-
Cari: Bimbing anak didik untuk merumuskan temuan dan mencari kesimpulan.
-
Diskusi: Dorong para siswa supaya mau bekerja kelompok mendiskusikan temuannya.
-
Evaluasi: Rangsang siswa agar bisa memperdalam pengetahuan usai melakukan kegiatan di luar kelas, dan berani menjelaskannya di depan kelas.
Linda bukan satu-satunya guru yang menggunakan pendekatan berbasis STEM dalam mengajar. Dia bersama sejumlah guru di komunitas Science Heroes kerap berupaya menghadirkan metode belajar sains yang lebih menyenangkan.
Komunitas Science Heroes di Bengkulu terbentuk sejak PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di bawah payung Bakti BCA, hadir di sana melalui program Sekolah Bakti BCA. Program tersebut hadir untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar hingga menengah di daerah tujuan. Salah satu cara Sekolah Bakti BCA meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan mengoptimalkan kompetensi tenaga pendidik di lokasi program.
Optimalisasi kompetensi tenaga pendidik di Sekolah Bakti BCA sejauh ini berjalan sesuai rencana. Buktinya terlihat dari kisah Linda dan teman-temannya di Bengkulu. Saat ini ada 4 Sekolah Bakti BCA di Bengkulu, yaitu SDN 61, SDN 73, SDN 40, dan SDN 36 Bengkulu.
Hingga 2025, total ada 32 Sekolah Bakti BCA di Lampung, Banten, Gunung Kidul, Banyuwangi, Kota Bengkulu, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat Daya. Namun, sebanyak 20 sekolah dari Lampung, Banten, Gunung Kidul, dan Banyuwangi telah selesai menjalankan program tersebut.
“Sekolah Bakti BCA merupakan program untuk mengembangkan dan memberdayakan sekolah secara holistik. Lembaga pendidikan yang menjadi Sekolah Bakti BCA diarahkan agar memiliki keunggulan dalam karakter, sains, dan teknologi. Program ini hadir sebagai upaya kami membantu lahirnya sekolah yang unggul dan berkualitas di berbagai daerah untuk menjawab berbagai tantangan di masa depan,” kata EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
BCA berharap praktik-praktik baik dan peningkatan kualitas belajar-mengajar di Sekolah Bakti BCA dapat terus berlanjut dan berdampak positif bagi komunitas pendidikan di sekitar. Menurut Hera, Sekolah Bakti BCA ditujukan untuk memberikan pendampingan dan memastikan setiap langkah menghasilkan dampak positif bagi murid dan komunitas sekolah serta masyarakat.
“Di tengah tantangan global seperti perkembangan teknologi dan dampak perubahan iklim, membangun karakter sains akan menjadi bekal penting. Anak-anak yang terbiasa berpikir secara ilmiah akan lebih tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi masa depan. BCA berharap pendampingan ini akan turut menghasilkan generasi muda yang berani bermimpi, kritis, dan menjadi agen perubahan,” kata Hera.
Di Bengkulu, kehadiran Sekolah Bakti BCA bukan hanya berhasil membuat guru seperti Linda mampu menerapkan metode inkuiri yang lebih menyenangkan untuk para murid. Program ini juga memberikan kesempatan sekolah membuat Gelar Karya, pameran yang memampukan stakeholder Sekolah Bakti BCA; bukan hanya untuk belajar, melainkan pulang dengan membawa inspirasi. (bps/*)











