RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kondisi bocah perempuan berusia sembilan tahun berinisial ANS, korban dugaan peluru nyasar di Kampung Baru, RT 02 RW 05, Desa Lubang Buaya, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, dilaporkan berangsur membaik setelah menjalani operasi pengangkatan proyektil dari dada kanannya di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, Jakarta.
Di tengah kondisi itu, keluarga ANS kini menghadapi kendala terkait biaya perawatan di rumah sakit (RS) yang harus ditanggung secara mandiri mencapai puluhan juta rupiah. Diketahui, bocah yang masih duduk di bangku kelas III SD itu diduga terkena peluru nyasar dari tembakan senapan angin pemburu burung. Peristiwa itu terjadi saat korban bermain bersama teman-temannya di sekitar rumah, Minggu (5/7).
Ibu ANS, Marni, mengatakan sejak putrinya dirujuk dari RS Hermina ke RSUP Fatmawati, ia telah mendaftarkannya sebagai pasien BPJS Kesehatan. Namun, setelah operasi, ia mengaku mendapat penjelasan dari pihak rumah sakit bahwa biaya perawatan anaknya disebut tidak dapat ditanggung BPJS Kesehatan.
“Pas pendaftaran kan ada pilihannya, BPJS atau umum, (saya,red) tulisnya BPJS. Pasca-operasi langsung dipanggil, katanya ini nggak dicover BPJS,” ucap Marni, Jumat (10/7).
Menurut Marni, anaknya menjalani tindakan operasi pengambilan proyektil serta perawatan hampir sepekan, termasuk tiga malam di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUP Fatmawati. Ia menyebut total biaya perawatan mencapai lebih dari Rp64 juta.
“Sampai saat ini, sementara sudah Rp64 juta lebih sama operasi kemarin,” ujarnya.
BACA JUGA: Polisi Selidiki Dugaan Peluru Nyasar yang Lukai Bocah Berusia Sembilan Tahun di Setu
Marni menuturkan kondisi putrinya kini berangsur membaik. Tim dokter juga telah mengizinkan ANS untuk pulang. Namun, sebelum proses kepulangan, keluarga diminta memenuhi persyaratan administrasi berupa uang jaminan.
“Harusnya pulang hari ini, terus harus ada dana juga (uang jaminan,red,” katanya.
Keluarga telah menyerahkan uang jaminan tersebut kepada rumah sakit, namun enggan mengungkapkan besarannya. Marni memastikan pihak rumah sakit tidak menahan kepulangan anaknya. Menurutnya, keluarga hanya diminta memenuhi persyaratan administrasi yang berlaku.
“RS nggak nahan, yang penting ada deposit,” katanya.
Marni mengatakan, pihaknya juga tengah mengurus permohonan bantuan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Permohonan itu diharapkan disetujui sehingga meringankan beban biaya perawatan.
Marni mengatakan penghasilan suaminya sebagai pengemudi ojek online dan pekerjaan serabutan belum mampu mencukupi kebutuhan biaya tersebut. Sambil menunggu proses permohonan bantuan, keluarga juga membuka donasi.
“Ya, kali aja ada yang mau membantu, saya kan orang nggak punya. Kali aja ada orang baik yang mau pada membantu,” ujar Marni.
Saat ini, Marni menyebut anaknya sudah mulai bisa diajak berkomunikasi meski masih perlahan karena luka operasi di dada kanannya masih terasa nyeri. Menurutnya, pemerintah desa telah melaporkan peristiwa tersebut kepada pemerintah daerah.
“Pemerintah desa sudah melapor ke pemerintah daerah juga, tapi belum ada keputusan mungkin. Soalnya hari ini udah boleh pulang. Sementara, donasi aja baru hari ini saya bukanya,” pungkasnya. (ris)











