RADARBEKASI.ID, BEKASI – Persaingan di Genera-Z Berbakti 2026 kian memanas. Babak final program call for proposal untuk mahasiswa dari Bakti BCA ini menyajikan adu ide dan gagasan delapan finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Duta Bakti BCA sekaligus salah satu panelis Genera-Z Berbakti 2026, Nicholas Saputra, mengatakan, bahwa para finalis program ini memiliki berbagai gagasan menarik. Mereka umumnya dapat menyampaikan ide dan gagasannya dengan menarik di hadapan panelis, salah satunya melalui alat peraga yang merepresentasikan rencana programnya untuk daerah tujuan masing-masing.
“Berbagai ide dan cara presentasi finalis Genera-Z Berbakti 2026 cukup menarik. Bagi saya, hal tersebut memantik rasa penasaran ihwal bagaimana nantinya implementasi program-program yang ditawarkan di lapangan. Kami para panelis yakin, seluruh finalis Genera-Z Berbakti dapat menunaikan rencananya di lokasi selama dapat tetap menjaga konsistensi dan beradaptasi dengan kondisi yang ditemui di desa tujuan,” kata Nicholas.

Kualitas para finalis Genera-Z Berbakti terlihat salah satunya dari babak yang mempertemukan tim Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Cenderawasih (UNCEN). Kedua tim ini sama-sama mengusung tema pemberdayaan desa melalui perempuan sebagai penggerak utama perubahan. Namun, keduanya mengandalkan strategi berbeda.
Adu strategi tim UNAIR dan UNCEN tampak pada sesi presentasi dan tanya jawab dengan panelis pada babak final Genera-Z Berbakti 2026. Eli, salah satu perwakilan tim LESTARI dari UNCEN mengaku gugup luar biasa saat melakukan presentasi. “Pada saat presentasi, saya sempat berhenti karena sudah sangat gugup. Akhirnya, saya sempat berhenti untuk menenangkan diri dan setelah itu saya tetap melanjutkan presentasi,” kata Eli.
Tantangan serupa juga dihadapi Sam, salah satu anggota tim Amerta Pertiwi dari UNAIR. Dia merasa kesulitan menjawab pertanyaan dari salah satu panelis. “Ketika Cinta Laura bertanya, aku untuk maneuvering jawaban ke arah yang lebih sederhana itu sulit banget,” kata Sam.
Menurut ilmuwan dan wirausahawan sosial yang menjadi salah satu panelis, Tri Mumpuni, salah satu pertimbangan kunci dalam penilaian di babak final Genera-Z Berbakti adalah keselarasan ide yang solid dan kemudahan mengeksekusi ide tersebut.
“Mahasiswa harus bisa merumuskan cara merespons persoalan sosial menjadi sebuah kegiatan konkret yang bisa diimplementasikan di level masyarakat desa. Mereka layak disebut sebagai generasi yang memiliki cara berpikir dengan kemampuan intelektual yang cukup, dan empati yang besar, kemudian berkarya nyata jika bisa memenuhi syarat tersebut,” ujar Puni.
Sebanyak 4 dari 8 finalis Genera-Z Berbakti 2026 akan berkesempatan mengimplementasikan gagasan di 4 desa wisata binaan Bakti BCA. Keempat desa wisata tersebut adalah Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung; Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur; Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo; dan Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.
Di balik ajang ini, tersimpan harapan besar bahwa Generasi-Z Berbakti dapat menjadi wadah bagi generasi muda yang tidak hanya cerdas, tapi juga peduli dan berani untuk menciptakan inovasi untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Kami sangat terpukau oleh semangat dan perjuangan yang diberikan oleh para finalis. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya dapat berpikir kritis, tetapi juga memiliki kepedulian yang besar untuk siap turun tangan memberi dampak nyata. Kami harap semangat ini akan terus tumbuh dan membawa perubahan yang berkelanjutan,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
Saksikan keseruan babak final Genera-Z Berbakti 2026 yang tayang setiap Sabtu di YouTube BCA (@SolusiBCA), atau klik tautan bca.id/genzberbakti serta platform mitra. (bps/*)











