Berita Bekasi Nomor Satu

Warga Bojongmangu Bekasi Pilih Belanja ke Cariu Bogor karena Jalan Lebih Mulus

TAPAL BATAS: Pengendara melintasi persimpangan perbatasan Kecamatan Bojongmangu dengan Kabupaten Bogor, Rabu (12/8/2026). FOTO: ARIESANT RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ketimpangan kualitas infrastruktur jalan di wilayah tapal batas selatan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor turut memengaruhi aktivitas ekonomi warga.

Sebagian warga Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, memilih berbelanja kebutuhan sehari-hari ke wilayah Cariu, Kabupaten Bogor.

Akses jalan yang mulus serta jarak tempuh yang jauh lebih singkat menjadi alasan utama warga memilih Cariu untuk membeli kebutuhan rumah tangga maupun sayur-mayur dibandingkan berbelanja ke pasar di wilayah Bojongmangu.

“Kalau ke Cariu itu cuma sekitar 4,5 kilometer dan jalannya sudah mulus. Jadi lebih cepat dan aman,” ungkap Atmaja, salahsatu warga Desa Karang Indah kepada Radar Bekasi, Rabu (13/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda ketika harus berbelanja ke pasar-pasar terdekat yang termasuk wilayah Kabupaten Bekasi, seperti Pasar Sukabungah, Pasar Pasir Kupang, hingga Pasar Cibarusah. Perjalanan menuju pasar-pasar tersebut dinilai membutuhkan waktu lebih lama lantaran kondisi jalan yang rusak.

JALAN DESA: Warga mengendarai sepeda motor melintas jalan Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Rabu (12/8/2026). FOTO: ARIESANT RADAR BEKASI

Berdasarkan pantauan, kondisi permukaan jalan di beberapa ruas Jalan Raya Bojongmangu menuju Kantor Kecamatan Bojongmangu mengalami kerusakan. Jalan beton tampak retak, terkelupas, hingga berlubang di sejumlah titik. Kondisi tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.

BACA JUGA: Dosen Geografi UM.ID Ungkap Faktor Sulitnya Akses Air Bersih di Bojongmangu

Kerusakan infrastruktur jalan di Bojongmangu terjadi di tengah aktivitas kendaraan berat yang melintas dengan beban melebihi kapasitas jalan. Di jalur yang relatif sempit tersebut, truk bertonase besar, seperti truk pengaduk semen (molen), masih kerap melintas.

BIANG KELADI: Truk molen melintasi Jalan Raya Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Rabu (12/8/2026). FOTO: ARIESANT RADAR BEKASI.

Kondisi itu dibenarkan oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kecamatan Bojongmangu, Kandi Sunarya. Menurutnya, beban kendaraan berlebih dan karakter tanah yang labil menjadi faktor yang memengaruhi kerusakan jalan.

“Kalau tanah merah itu mau hujan, mau kering, mau apa, ya tetap begitu (labil). Kalau keliling Bojongmangu, hampir sama. Seperti di wilayah Pangkalan, mobil yang dari Karawang mau ke Loji atau ke Cariu nyebrang lewat situ karena jembatan utama tidak bisa dilewati,” kata Kandi.

Ia menyebut truk yang melintas rata-rata memiliki bobot di atas 12 ton, sedangkan daya dukung jalan di Bojongmangu berada jauh di bawah angka tersebut.

“Akhirnya ya tadi, dengan kontur tanah yang tidak menetap, terus berat beban kendaraan yang over, ya minimal 4 atau 5 tahun saja jalan bertahan,” pungkasnya.

Tanah Labil

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln, mengatakan karakter tanah di sebagian wilayah Bojongmangu memang labil. Kondisi itu diketahui dari kajian lembaga geologi yang disampaikan melalui BPBD Kabupaten Bekasi, terutama setelah sejumlah kejadian longsor.

BACA JUGA: 76 Tahun Kabupaten Bekasi, Air Bersih Belum Tuntas di Bojongmangu

“Kondisi tanah tidak stabil atau labil karena banyak mengandung clay, sehingga terjadi perubahan mengikuti musim atau cuaca yakni mengembang akibat kena air di musim hujan dan menyusut atau retak di musim panas, yang menyebabkan pergerakan tanah sehingga memengaruhi kondisi dasar perkerasan jalan di atas,” jelasnya.

Kepala Dinas SDABMBK Kabupaten Bekasi Henri Lincoln

Kondisi itu membuat pemerintah tidak bisa sekadar menambal jalan yang rusak. Metode konstruksi harus disesuaikan dengan karakter tanah agar jalan tidak kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat.

Henri mengatakan pemerintah saat ini tengah menyesuaikan anggaran untuk melanjutkan perbaikan sejumlah ruas jalan di Bojongmangu. Perkerasan rigid pavement menjadi salah satu metode yang digunakan.

“Kami sedang sesuaikan anggaran, saat ini kami fokuskan lanjutan perbaikan jalan. Lalu sudah sesuai karakternya yakni dengan perkerasan rigid pavement. Namun perlu penanganan lebih lanjut adanya bahu jalan dan drainase jalan,” kata Henri.

Untuk penanganan yang lebih permanen, SDABMBK mempertimbangkan metode pileslab. Namun pilihan tersebut membutuhkan biaya konstruksi yang tidak sedikit.

“Kami akan menyampaikan terlebih dahulu kepada pimpinan. Sebab biaya konstruksinya cukup mahal atau bahu jalan di perkuat dengan metode secondpile,” ucapnya.

Mapping Ulang

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Sukron, menyoroti kondisi jalan di Bojongmangu yang kerap dilintasi kendaraan bertonase besar. Ia meminta pemerintah daerah memetakan kembali akses yang digunakan kendaraan dengan beban melebihi kapasitas jalan kabupaten.

“Pemerintah daerah perlu melakukan mapping ulang. Akses yang dilewati kendaraan bertonase besar harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.

 

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Sukron

Menurut Ade, persoalan tersebut akan mempercepat kerusakan jalan karena beban kendaraan tidak sebanding dengan kemampuan konstruksi jalan.

“Karena kalau terus seperti itu, maka akan sia-sia apa yang dilakukan pemerintah daerah. Karena jalan akan cepat rusak, antara beban dengan kekuatan jalan itu berbeda,” ujarnya.

Ade mendorong pemerintah dan sektor industri berkolaborasi dalam pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur wilayah. Terutama jika aktivitas kendaraan perusahaan ikut membebani jalan yang kapasitasnya terbatas.

“Kalau memang daya kendaraan melebihi beban jalan, maka seperti apa kontribusi industri yang bisa dilakukan. Itu perlu duduk bersama mencari yang terbaik,” tegasnya.

Ade mengatakan, partisipasi perusahaan tetap diperlukan untuk menjaga, merawat, dan membangun infrastruktur yang digunakan bersama.

“Kalau memang secara normatif mereka (perusahaan,red) sudah melakukan kewajbannya, tapi ini kan ada beban di luar kemampuan daerah. Tentu perlu partisipasi perusahaan untuk bisa menjaga, merawat, membangun bersama-sama, dan bisa berkontribusi agar jalan yang dilewati sesuai harapan kita semua,” pungkasnya. (oke/ris/and)