Berita Bekasi Nomor Satu

Bank Sampah Gempita Jatimelati Sulap Plastik Jadi Bahan Bakar

INOVASI SAMPAH : Sejumlah anggota Bank Sampah Gempita menunjukkan hasil olahan sampah plastik menjadi cairan bahan bakar menggunakan mesin pirolisis di Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Sabtu (19/9/2026). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sampah plastik biasanya berakhir di tempat pembuangan. Namun, di tangan ibu-ibu Bank Sampah Gempita, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, sampah justru diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Lewat mesin pirolisis, plastik yang sulit dijual disulap menjadi cairan bahan bakar.

Suasana di Bank Sampah Gempita, RT 05/RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, tampak berbeda. Di tempat itu, sampah plastik yang biasanya dianggap tidak berguna justru menjadi bahan utama sebuah inovasi.

Styrofoam, bubble wrap, plastik berlapis aluminium hingga mika dikumpulkan. Sampah-sampah tersebut kemudian dimasukkan ke mesin pirolisis untuk dipanaskan.

Dari proses itu, keluar cairan yang dapat diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Anggota Bank Sampah Gempita, Hesti Warih mengatakan, ide tersebut muncul karena tidak semua sampah yang diterima memiliki nilai jual.

“Sampah yang tidak laku dijual seperti styrofoam, bubble wrap, plastik berlapis aluminium, hingga mika menjadi persoalan tersendiri, sampah-sampah tersebut kemudian dicari cara agar tetap dapat dimanfaatkan,” kata Hesti, Minggu (20/9)

Prosesnya berlangsung selama sekitar tiga jam. Sekitar lima kilogram sampah plastik dapat menghasilkan 4,2 hingga 4,5 liter cairan hasil pirolisis.

Jenis cairan yang dihasilkan juga bergantung pada bahan baku yang digunakan. Setelah keluar dari mesin, hasilnya masih perlu melalui proses penyaringan dan destilasi sebelum mendapatkan hasil yang lebih bersih.

“Prosesnya sederhana, hanya pemanasan saja. Kemudian perbedaan suhu, karena ada kondensornya, perbedaan suhu sampainya sehingga yang lebih dingin akan jadi premium, selanjutnya minyak tanah dan yang paling panas setelah jadi solar,” jelasnya.

Namun, hasil olahan tersebut belum diperjualbelikan kepada masyarakat. Sejak mulai diterapkan pada 2025, BBM hasil pirolisis masih digunakan untuk kebutuhan internal Bank Sampah Gempita.

Di antaranya untuk kendaraan pengangkut sampah yang mengambil sampah dari rumah warga hingga mesin pemotong rumput.

“Kalau di sini buat batkor. Batkor itu untuk mengangkut sampah, untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah. Sama mesin pemotong rumput,” ucap Hesti.

Bagi Hesti dan kelompoknya, mengolah sampah menjadi BBM bukan sekadar menghasilkan bahan bakar. Lebih dari itu, inovasi tersebut diharapkan bisa mengurangi sampah yang selama ini sulit dimanfaatkan.

Sebab, semakin sedikit residu yang tersisa, semakin kecil pula sampah yang harus berakhir sebagai timbunan.

Ke depan, Bank Sampah Gempita berharap cara tersebut dapat ditiru bank sampah lainnya. Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada pemilahan dan penjualan sampah bernilai ekonomi, tetapi juga mencari solusi untuk sampah yang selama ini dianggap tidak berguna.

“Harapan ke depan, Bank Sampah Unit (BSU) wilayah lain juga bisa melakukan yang sama, sehingga tidak terfokus pada sampah an organik saja,” imbuhnya. (rez)