RADARBEKASI.ID, TABUK – Pesawat Flydubai FZ1073 yang membawa penumpang dari Dubai menuju Tel Aviv nyaris berakhir menjadi tragedi setelah co-pilot menyerang pilot di kokpit dan membuat pesawat turun hampir 14.000 kaki dalam waktu kurang dari 30 detik.
Melansir Reuters, sejumlah penumpang dan kru kemudian menerobos masuk ke kokpit, melumpuhkan penyerang, dan membantu mengamankan pesawat hingga melakukan pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi.
Pesawat tersebut membawa 174 orang, mayoritas warga Israel. Setelah mendarat di Tabuk, para penumpang akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Israel menggunakan pesawat pengganti dan tiba di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, lebih dari 10 jam setelah insiden bermula.
Bagi penumpang yang berada di dalam pesawat, beberapa menit saat pesawat kehilangan ketinggian menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Salah seorang penumpang, Lital Shachaf, menyebut keselamatan mereka sebagai sebuah keajaiban.
BACA JUGA: Bersiap Hadapi Iran, AS Siagakan 150 Lebih Pesawat Tempur
“Saya hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah keajaiban. Itu mengerikan, gila, dan kami bersyukur kepada Tuhan bahwa kami selamat darinya, kami tidak berpikir kami akan berhasil, tetapi bersyukur kepada Tuhan kami berada di Israel. Kami sudah kembali ke rumah. Dan kami senang melihat semua orang di sini.”
Pilot ditusuk, Pesawat Menukik
Insiden terjadi saat FZ1073 dalam penerbangan dari Dubai, Uni Emirat Arab, menuju Tel Aviv. Menurut keterangan pejabat Israel, co-pilot menyerang dan menusuk kapten pesawat, kemudian berusaha mengambil kendali pesawat.
Situasi menjadi semakin genting ketika pesawat mengalami penurunan ketinggian secara drastis. Reuters melaporkan pesawat kehilangan hampir 14.000 kaki dalam waktu kurang dari 30 detik.
Sementara itu, laporan lain menyebut pesawat sempat turun dari sekitar 33.000 kaki ke sekitar 17.000 kaki dalam waktu singkat.
Pilot yang terluka, Smit Machchhar, warga negara India, kemudian berhasil membuka pintu kokpit. Kondisinya dilaporkan berlumuran darah ketika pintu terbuka dan penumpang masuk untuk membantu.
Di dalam kokpit, penumpang menemukan co-pilot sedang berusaha mengendalikan panel pesawat. Sejumlah penumpang kemudian berusaha menahannya.
Asaf Rajuan, salah satu penumpang yang ikut melumpuhkan penyerang, mengatakan tindakannya terjadi secara spontan demi menyelamatkan orang-orang di dalam pesawat.
“Ini adalah sesuatu yang kamu lakukan tanpa berpikir, hanya berlari untuk menyelamatkan nyawa putrimu, nyawa keluargamu,” kata Rajuan.
Rajuan mengatakan hal itu dengan kondisi dahi masih mengalami luka akibat pergulatan dengan penyerang.
Sementara itu, keberadaan penumpang dan kru di kokpit menjadi faktor penting dalam upaya mencegah pesawat terus kehilangan kendali.
Setelah co-pilot berhasil dilumpuhkan, dua pilot lain yang kebetulan berada di dalam penerbangan membantu mengendalikan pesawat. Pesawat kemudian dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi, untuk melakukan pendaratan darurat.
Otoritas Bandara Tabuk mengatakan kedua pilot yang terlibat dalam insiden tersebut mendapat perawatan medis setelah pesawat mendarat. Layanan ambulans Israel juga melaporkan seorang pria berusia 51 tahun dibawa ke rumah sakit dalam kondisi ringan.
Sementara itu, menurut Al-Jazeera, peristiwa tersebut membuat otoritas Israel sempat mengantisipasi kemungkinan pembajakan. Pesawat juga berada di kawasan udara yang sensitif karena rute Dubai-Tel Aviv biasanya melintasi wilayah udara Arab Saudi dan Yordania.
Identitas co-pilot disebut sebagai warga Oman. Ia diamankan oleh otoritas Arab Saudi dan menjalani pemeriksaan untuk mengetahui motif di balik serangan tersebut. Hingga laporan awal ini, alasan sebenarnya tindakan tersebut masih dalam penyelidikan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kejadian itu sebagai insiden keamanan serius dan mengatakan otoritas Arab Saudi akan memeriksa pelaku.
Sementara itu, flydubai meminta agar tidak ada kesimpulan terburu-buru mengenai penyebab insiden sebelum penyelidikan selesai.
Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa pemerintah Israel mulai memperketat pemeriksaan terhadap pilot yang terbang menuju negaranya.
Insiden tersebut juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai keamanan kokpit, pemeriksaan awak pesawat, serta mekanisme pencegahan serangan dari orang yang justru memiliki akses langsung ke ruang kendali pesawat.









