RADARBEKASI.ID, NEW YORK – Militer Iran menegaskan akan terus melakukan pembalasan terhadap pihak yang dianggap menyerang negaranya.
Hal itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi usai Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB.
Abdollahi menyebut pidato tersebut sebagai suara rakyat Iran, sekaligus memperingatkan bahwa negara yang mengancam wilayah Iran tidak akan merasa aman.
Pernyataan Abdollahi disampaikan melalui unggahan di X setelah Pezeshkian berpidato dalam Sidang Umum PBB, Rabu (23/9/2026).
BACA JUGA: Iran Melunak, Janji Buka Selat Hormuz Jika AS Kurangi Tekanan Militer dalam Tujuh Hari
Ia menilai pernyataan presiden Iran di hadapan dunia internasional telah menyampaikan sikap tegas Teheran di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.
“Pernyataan yang disampaikan Presiden Republik Islam Iran di Sidang Umum PBB menjadi suara yang menggema dari bangsa Iran yang bangga dan mendapat ilham ilahi. Melalui pernyataan Dr. Pezeshkian, dan di hadapan mata dunia, rakyat kami yang mulia telah memberikan tamparan kepada Presiden Amerika Serikat yang kriminal,” kata Abdollahi, seperti dikutip Tasnim.
Ia kemudian mengeluarkan peringatan yang lebih keras terkait respons militer Iran atas pidato tersebut.
“Angkatan Bersenjata (Republik Islam Iran), berdiri bersama rakyat dan presiden yang terhormat, menyatakan bahwa pembalasan atas darah Imam kami yang gugur dan anak-anak Minab akan terus berlanjut, dan selama perairan, daratan, serta langit Iran berada di bawah ancaman, tidak ada negara agresor—maupun pendukung agresor tersebut—yang akan menikmati keamanan,” lanjutnya.
Pezeshkian: Iran Tak Bisa Dipaksa Menyerah
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Pezeshkian menggunakan podium PBB untuk menegaskan bahwa Iran tidak dapat dipaksa menyerah melalui tekanan militer.
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengatakan Iran tidak menutup pintu diplomasi, tetapi pada saat yang sama tidak akan mengesampingkan kemampuan untuk mempertahankan diri.
“Kami telah membuktikan bahwa kami tidak takut perang untuk membela diri; kami tidak lari dari negosiasi untuk perdamaian, dan kami berdiri sampai napas terakhir untuk membela Iran tercinta,” kata Pezeshkian.
Presiden Iran itu juga menegaskan bahwa kemampuan militer negaranya dimaksudkan untuk pertahanan.
Menurutnya, Iran tidak akan meminta izin kepada negara lain untuk mempertahankan wilayahnya.
Dalam pidato yang sama, Pezeshkian juga menyatakan bahwa Iran tetap membuka ruang untuk dialog, tetapi menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman.
Ancaman Trump Kembali Disinggung
Sikap keras Teheran tidak terlepas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam Sidang Umum PBB sehari sebelumnya.
Trump mengatakan dirinya tengah menghadapi pilihan antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil langkah militer yang disebutnya dapat dengan cepat menghancurkan Iran.
Selain itu, Trump juga kembali menuduh Iran berupaya memiliki senjata nuklir.
Pezeshkian kemudian menjadikan pernyataan tersebut sebagai bagian dari pesannya di PBB.
Ia mengatakan ancaman justru membuat masyarakat Iran semakin bersatu dan menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan.
Di sisi lain, Pezeshkian menyatakan Iran menginginkan penyelesaian melalui dialog dan kerja sama, tetapi tidak akan menerima bahasa yang menurutnya didasarkan pada kekuatan atau ancaman.
Dengan pernyataan terbaru Abdollahi, ketegangan antara Iran dan AS kini tidak hanya berlangsung dalam perdebatan diplomatik di forum internasional.
Ancaman pembalasan yang disampaikan pimpinan militer Iran menunjukkan bahwa setiap tekanan terhadap wilayah Iran masih dipandang Teheran sebagai bagian dari ancaman yang dapat memicu respons militer. (joc)











