Berita Bekasi Nomor Satu

Perundungan Mengintai di Sekolah Rakyat

BERI KETERANGAN : Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat memberikan keterangan kepada media di Bekasi Utara, Jumat (9/10). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus perundungan di Sekolah Rakyat menjadi perhatian Kementerian Sosial (Kemensos).

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menegaskan siswa yang terlibat bullying akan ditangani melalui pendekatan khusus dan mitigasi. Namun, tenaga pendidik yang terbukti melanggar aturan terancam sanksi tegas hingga pemberhentian.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu mengatakan, penanganan siswa yang masih di bawah umur tidak bisa disamakan dengan penindakan terhadap tenaga pendidik. Pemerintah menyiapkan mekanisme tersendiri dengan mempertimbangkan usia dan proses pembinaan anak.

“Siswanya kita mitigasi. Ya karena anak di usia masih di bawah umur, ya itu ada proses penanganannya tersendiri,” kata Gus Ipul, baru-baru ini.

Untuk memperkuat pembinaan, Kemensos menggandeng sejumlah lembaga, termasuk melibatkan kadet atau mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan).

Mereka akan mendampingi siswa selama dua minggu melalui kegiatan bakti sosial, dengan fokus membangun kedisiplinan di lingkungan sekolah berasrama.
“Memberikan penguatan kedisiplinan. Ini kita kerja sama,” ujarnya.

Gus Ipul mengakui, penerapan sistem pendidikan berasrama membutuhkan proses adaptasi. Pada masa awal pembelajaran, berbagai dinamika perilaku siswa kerap muncul. Menurut dia, kondisi tersebut mulai membaik setelah siswa menjalani pendidikan selama enam bulan.

“Memang di awal-awal pembelajaran biasanya kita menemukan dinamika yang luar biasa, tapi setelah enam bulan ke atas, mereka sudah lebih nyaman untuk mengikuti proses pembelajaran,” katanya.

Berbeda dengan siswa, Kemensos menjatuhkan sanksi pemberhentian terhadap tenaga pendidik yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Ya itu tadi, pemberhentian,” tegasnya.

Gus Ipul menyebut dua kepala sekolah dan sejumlah guru telah diberhentikan. Hingga Jumat (9/10), Sekolah Rakyat menampung lebih dari 44.000 siswa di 181 titik di Indonesia, dengan 93 titik di antaranya telah menempati gedung permanen. (rez)