Oleh Dahlan Iskan
Di Yogyakarta saya ingin tahu: seberapa banyak para pengrajin sudah memanfaatkan AI untuk perusahaan mereka. Hari itu, Jumat sore lalu, Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta mengadakan acara Temu Responden 2026. Mereka rata-rata adalah pengusaha.
Sri Darmadi Sudibyo, kepala BI KPw Yogyakarta, minta saya dialog dengan mereka. Temanya Stay Relevant, Stay Resilient: Strategi Bertumbuh di Era Perubahan.
Tempat acara itu di hotel Grand de Djokja –ternyata itu hotel lama Garuda (sempat bernama Natour Garuda, Inna Garuda, dan Grand Inna Malioboro). Letaknya tetap di ujung jalan Malioboro. Dekat stasiun Tugu –stasiun kereta api utama kota itu.
Lobi hotel ini ternyata sudah pindah ke samping, tidak lagi menghadap ke Jalan Malioboro. Itu sebagai antisipasi dilaksanakannya pembenahan Malioboro sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Unesco. Yakni ketika mobil tidak boleh lagi melintas di jalan utama itu.
Ballroom hotel itu penuh. Tiga ekspoter berani saya ajak naik panggung. Tiga-tiganya ekspor hasil kerajinan tangan. Khas Yogyakarta. Mereka adalah Johni Sahlan (Tashinda), Deddy Effendy (Palem Craft), dan Riris Simanjuntak (Indo Risakti).
Mereka semua yakin di zaman AI pun hub ekspornya masih akan meningkat. Seorang wanita, Riris Simanjuntak, owner Indo Risakti, ingin memperluas pasar ke Australia. Sudah lebih 15 tahun dia ekspor ke Amerika dan Eropa.
Di bagian mana dia memanfaatkan AI? “Saya minta AI data jaringan pasar di sana,” ujarnyi. Dia mendapatkannyi. Kini tahapnya masih korespondensi. Belum mengarah ke penjualan.
“Kenapa hanya sebatas itu? Tidak langsung mengarah ke penjualan?”
“Kami kan bukan pedagang retail. Tidak jualan eceran,” jawabnyi.
Saya pun tahu: pengusaha itu rupanya belum mau berubah. Dia masih berpegang pada doktrin lama: membedakan antara grorir dan eceran. Dia masih berpegang pada ajaran: ekspor itu untuk perusahaan importer di negara tujuan.
Maka saya diskusikan perlunya perubahan caranyi melangkah. Kebetulan saya punya contoh baru. Contoh itu baru saya dapat dua minggu lalu. Yakni saat saya mesong di rumah kematian Adi Jasa, Surabaya.
Mesong adalah istilah di kalangan orang Tionghoa untuk melayat. Yang meninggal: ibunda teman baik saya –saya sedang di luar negeri saat ayahnya meninggal dua tahun lalu. Sang ayah juga sahabat yang saya kagumi: 10 tahun sebelum meninggal ia berani bagi warisan secara total. Di umurnya yang 80 tahun justru baru mulai panggil guru nyanyi untuk lagu-lagu seriosa. Sejak muda ia suka nyanyi lagu-lagu keroncong seperti Sepasang Mata Bola.
Di mesong itu saya tidak bisa segera pamit. Begitu banyak menu ala carte yang ditawarkan untuk disajikan. Sepuluh ruangan disewa untuk persemayaman jenazah –pertanda berapa banyak pelayat yang datang.
Salah satu pabriknya saja memproduksi per (pegas) mobil hampir untuk semua mobil yang dibuat di Indonesia. Rumahnya yang besar punya halaman belakang lapangan golf. Yang membuat saya tidak bisa cepat pamit adalah datangnya satu telepon ke salah satu anak almarhumah. Orang dari Bandung sedang menuju ke sini. Ingin sekali bisa bertemu. “Sudah dalam perjalanan dari bandara,” ujarnya.
Ia pengusaha garmen yang sukses. Karyawannya 15.000 orang. Ekspornya mendominasi omzetnya.
Begitu datang ia cepat-cepat sembahyang di depan peti jenazah. Lalu bergabung ke meja kami yang penuh makanan: soto kudus, tahu campur, sushi, rawon, es krim, es cendol, ronde, dan saya tidak hafal selebihnya.
Sambil melayat kami pun bicara soal keadaan ekonomi nasional. Termasuk ekspor garmen. Ternyata pabrik sebesar miliknya kini melayani pembeli eceran di luar negeri. Ini saya jadikan contoh hidup bagi pengusaha di Yogyakarta itu: jangan lagi terpaku pada cara lama.
Ekspor eceran yang dikembangkan pengusaha Bandung itu adalah jas. Ia melayani pembelian biar pun hanya satu jas. Yang pesan orang dari Jepang. Ia ekspor jas satu biji untuk satu pengiriman ke Jepang.
Kian hari order eceran seperti itu kian banyak. Saat mesong itu ia mengatakan ekspor ecerannya sudah mencapai 1.000 jas sebulan.
Maka saya minta pimpinan PT Pos Indonesia cabang utama Yogyakarta Bebi Ahmed Jo Pical untuk naik ke panggung. Saya minta ia diskusi dengan eksporter kerajinan itu mengenai teknis ekspor eceran. Apalagi kini Pos Indonesia sudah punya layanan seperti itu.
Seorang eksporter lainnya, Deddy Effendy, bercerita: kini ia selalu minta bantuan AI untuk membuatkan desain produk kerajinan yang baru. Ia tidak punya lagi karyawan bidang desain.
“Dalam sebulan berapa kali minta bantuan desain dari AI?”
“Tiap hari pak,” jawabnya.
“Hah? Tiap hari?”
“Iya pak”.
“Sebulan berapa desain yang dibuat AI?”
“Bisa 60 desain pak”.
“Hahaha…”.
Itulah peran AI di perusahaannya. Ia belum memanfaatkan AI untuk memperluas marketing.
Satu eksporter lagi, Johni Sahlab, mengombinasikan AI dengan cara tradisional. Termasuk dalam melihat dari mana datangnya ancaman masa depan pengrajin Yogyakarta.
“Dari Kamboja,” katanya.
“Sudah pernah ke Kamboja?”
“Sudah pak. Satu minggu di sana,” jawabnya.
Saya setuju dengan jawaban itu. Saya lihat Kamboja maju sekali. Bisa jadi the next Vietnam. Saya pernah melakukan perjalanan darat dari Kamboja ke Vietnam –untuk melihat denyut perkembangan ekonomi di kawasan itu. Belum semaju Indonesia tapi grafik kenaikannya sangat tinggi.
Dulu, di antara tiga negara Indochina hanya Vietnam yang orangnya pekerja keras. Laos dikenal paling malas. Kamboja di tengah-tengah kerja kerasnya Vietnam dan malasnya Laos. Ada pepatah yang selalu saya ingat untuk menggambarkan kategorisasi itu:
Orang Vietnam bekerja menanam padi; Orang Kamboja hanya melihat bagaimana orang Vietnam menanam padi; Orang Laos hanya mendengarkan cerita bagaimana padi itu tumbuh.
Johni itu ingin melihat sendiri calon-calon pesaingnya dari Kamboja. Agar bisa ambil keputusan antisipasi apa yang perlu disiapkan. Saya setuju dengannya: seperti ini tidak bisa minta bantuan AI.
Ada satu lagi eksporter: dia seorang wanita. Lily Widjaja. Dulunya eksekutif di perusahaan asing. Ketika orang tuanyi meninggal, dia harus pulang kampung ke Yogyakarta: meneruskan perusahaan eksporter minyak atsiri dan nilam. Nama perusahaannyi: CV Indaroma.
Dia minta perhatian pemerintah dua hal: kian sedikitnya pohon nilam dan banyaknya petani yang tidak memegang teguh etika dagang.
Di Yogyakarta kian sulit mendapat daun nilam untuk diproses jadi minyak atsiri –antara lain jadi bahan baku parfum. Dia harus mendatangkan dari Sulawesi dan bahkan dari Aceh. Biayanya bertambah.
Dia sebenarnya ingin minta agar pemerintah membina petani nilam. Tapi permintaan itu saya cegah: pengusaha tidak boleh minta bantuan pemerintah. Biasakan tidak usah berharap. Pengusaha harus mengatasi semua persoalan yang dihadapi.
Pun soal banyaknya petani yang ingkar janji: mereka minta kepadanyi modal kerja –untuk memanen daun nilam. Setelah panen daunnya dikirim ke perusahaan lain. Lalu pinjaman modalnya tidak terbayar –atau dibayar dengan janji di panen berikutnya.
Saya juga minta kepadanyi untuk tidak meneruskan keluhannyi. “Yang mengalami seperti itu banyak sekali. Jangan dikira hanya Anda,” kata saya. Itu memang persoalan berat. Tapi itu juga tugas pengusaha sendiri untuk mengatasinya. Jadi pengusaha itu sulit. Justru di situlah yang membuat pengusaha itu istimewa.
Apalagi di saat seperti ini usaha yang paling mudah itu hanya satu: menjadi tim sukses –biar pun Pemilunya masih jauh. Padahal itu penyakit nomor satu yang harus dijauhi pengusaha. Pengusaha tidak boleh menipu dan harus memegang janji. Tim sukses boleh menipu dan ingkar janji. (Dahlan Iskan)











