BEKACITIZENOpini

Lestarikan Tanjidor agar Budaya Lokal Tidak Luntur

Oleh: Nurul Yaqin, S.Pd.I

Radarbekasi.id – Berdasarkan survei sederhana yang dilakukan oleh penulis ke beberapa remaja di sekolah SMPIT Annur Cikarang Timur yang melibatkan 100 remaja, yang mengetahui kesenian Tanjidor hanya 3 orang. Sisanya 97 orang menjawab tidak mengetahuinya. Sebuah perbandingan angka yang cukup mengkhawatirkan. Sebuah fakta bahwa Tanjidor tak lagi menarik di hati kalangan muda.

Anehnya, di tengah gempuran dari berbagai sisi, generasi muda tak bergeming, seolah tak ada apa-apa. Tanjidor yang dulu agung kini tak berdengung. Dan mereka tak merasa kehilangan. Padahal Tanjidor adalah warisan nenek moyang yang harus dipertahankan. Apakah kita harus menunggu Tanjidor diklaim negara lain, lalu kita menantang dengan lantang ”Ini adalah budaya kita!” sebagaimana kasus wayang kulit yang diakui negara tetangga beberapat tahun silam.

Melestarikan
Oleh karena itu, sebelum terlambat, dan sebelum kesenian Tanjidor benar-benar punah di bumi kita berpijak, mari kita selamatkan. Kaum muda sebagai penyambung tali peradaban harus segera dibangunkan dari keterlenaannya. Mereka harus menjadi pelestari budaya daerah agar tidak tertelan zaman.

Melestarikan budaya lokal termasuk Tanjidor bukah hanya menjadi tanggung jawab komunitas yang bergelut dalam bidang tersebut. Akan tetapi, ini tanggung jawab bersama. Jadi, komunitas, sekolah, dan aparatur pemerintah harus bergandeng tangan mempertahankan kebudayaan lokal yang sudah ada sejak lama.

Komunitas atau kelompok Tanjidor harus berupaya agar generasi muda tertarik dengan kesenian ini. Pengenalan budaya pun jangan monoton sehingga generasi muda kurang berminat. Perlu inovasi dan terobosan baru dalam mengenalkan seni tersebut. Misalnya, mengenalkan Tanjidor dengan nuansa yang lebih dinamis dan sesuai dengan selera anak muda zaman now tanpa mengurangi orisinalitas dari seni tersebut. Kemudian memamerkannya di media sosial seperti facebook, instragram, dan media sosial lainnya.

Sekolah juga menjadi media paling efektif dalam melestarikan budaya lokal. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan kebudayaan lokal pada mata pelajaran. Sehingga kaum muda menjadi regenerasi yang dapat melestarikan eksistensi budaya Tanjidor dan budaya lokal lainnya.

Pemerintah pun memiliki andil yang sama dalam menjaga kebudayaan daerah. Untuk menjaga budaya lokal yang telah mendarah daging maka pemerintah dapat mengadakan festival budaya agar masyarakat lebih mengenal seni dan budaya daerahnya. Seperti pelaksanaan ”Festival Pameran Tunggal Kabupaten Bekasi” pada November 2019 ini yang mengangkat tema ”budaya lokal” dan ”seni budaya” pada lomba menulis essay dan pantun. Ini bisa menjadi langkah efektif untuk menarik hati masyarakat agar lebih mengenali dan mencintai seni dan budaya di daerahnya seperti Tanjidor dan lain-lain.

Akhirnya, di tengah zaman yang tak bersekat ini melestarikan budaya lokal harus benar-benar digalakkan. Karena budaya lokal adalah cerminan dari kearifan lokal. Jadi, semua elemen harus menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada di Kabupaten Bekasi sehingga Tanjidor tidak luntur, dan budaya lainnya tetap lestari dan abadi. Semoga! (*)

Anggota KGPBR

Close