BEKACITIZENOpini

Pustakawan Sang Pejuang Literasi

Oleh : Wahyudin, M.Pd.I

Radarbekasi.id – Sangat menarik saat saya menjadi narasumber dalam Bimtek Pengelolaan Perpustakaan Jenjang SMPN se-Kabupaten Bekasi pada 27 Agustus 2019 di Hotel Grand Cikarang Bekasi. Banyak pelajaran yang diraih saat peserta mengeksplor pengalamannya selama mengelola perpustakaan. Tentunya dengan dinamika yang kompleks yang dialami.

Sangat berat membuka paradigma visi dan misi untuk mengembangkan perpustakaan. Dari membangun gedung hingga me-manage buku dan perangkat perpustakaan dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Terutama kesamaan langkah semua sumber daya pendidikan di sekolah, bahwa eksistensi perpustakaan sangat penting untuk meningkatkan kualitas SDM dan juga pendidikan secara universal. Liya Dachliyani (2019: h.1) memaparkan bahwa perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah dapat berfungsi dengan baik sebagai pusat informasi, sumber pengetahuan dan tempat rekreasi apabila koleksinya memadai, dikelola dan diolah dengan baik dan benar.

Dalam konteks sekolah di Bekasi, banyak tantangan terutama dalam penyediaan gedung permanen dengan ukuran dan sapras perpustakaan yang representatif. Hal ini seiring dengan launching E-Book dan Library digital oleh Bupati Kabupaten Bekasi beberapa bulan lalu di Hotel Holiday Inn kawasan Jababeka Cikarang. Artinya semua komponen idealnya secara simultan saling mendukung untuk memberdayakan perpustakaan secara profesional. Baik pengadaan sapras, peningkatan kualitas tenaga perpustakaan maupun pengelolaan secara umum.

Dalam me-manage perpustakaan secara profesional dibutuhkan kehadiran pustakawan handal yang mampu mengelola dengan baik. Hemat saya, pustakawan itu sang pejuang literasi yang harus diperhatikan. Berdasarkan regulasi pemerintah, pustakawan itu termasuk Tenaga Kependidikan yang keberadaannya sangat dibutuhkan. Mengapa demikian? Kita maklum, bahwa perpustakaan itu sumber ilmu pengetahuan. Karena, buku yang ada di perpustakaan itu bisa diramu menjadi khazanah peradaban ilmu baik secara tertulis maupun lisan. Lebih lanjut, Liya Dachliyani (2019) memaparkan pengorganisasian informasi adalah kegiatan pengolahan bahan perpustakaan berupa pengatalogan deskriprif dan pengelolaan subjek, merupakan proses penyusunan data bibliografi kedalam sebuah katalog perpustakaan baik katalog kartu maupun katalog online. Ini semua diantara kompetensi pustakawan.

Sisi lain, sangat menginspirasi saat saya bincang dengan guru inspiratif pada tanggal 30 November 2019 sewaktu penganugerahan guru inspiratif nasional di Stadion Wibawa Mukti Cikarang Kabupaten Bekasi oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Ternyata mereka yang dianugrahi sebagai guru inspiratif karena karya monumental yang ditorehkan. Tentunya tidak terlepas dari kompetensi bidang literasi dan pemanfaatan perpustakaan secara optimal sehingga melahirkan karya tulis yang berkualitas. Bahkan mereka sudah melahirkan buku tunggal dan buku antologi. Dahsyat bukan?

Kian jelas, bahwa perpustakaan sangat urgen harus diperhatikan. Juga, keberadaan pustakawan harus mendapat perhatian full. Dalam buku ā€¯Peningkatan Sekolah Efektif”, Alison Atwell (h.160) mengungkapkan dengan pertanyaan: mengapa perpustakaan sekolah merupakan hal yang sangat penting?

Pertama, perpustakaan sekolah adalah terminal pengetahuan di sekolah. Ia adalah jantung dan jiwa sekolah dan menentukan nada bagaimana pembelajaran didorong.

Kedua, perpustakaan sekolah mendorong murid untuk menjadi pelajar seumur hidup yang mandiri.

Ketiga, sumberdaya perpustakaan mendukung pembelajaran di ruang kelas dengan menyesuaikan pada kebutuhan kurikulum.

Keempat, lingkungan perpustakaan yang ramah mendorong semua anggota masyarakat sekolah untuk menggunakan layanannya.

Kelima, perpustakaan sekolah juga merupakan penghubung dengan pembelajaran di luar dinding sekolah karena orang tua dapat didorong untuk menggunakannya.

Uraian diatas membuka mindset kepada kita semua bahwa perpustakaan menjadi palang pintu utama untuk membuka peradaban khazanah keilmuan. Dalam hal ini ada beberapa terobosan yang harus kita perhatikan.

Pertama, hendaknya setiap sekolah memiliki bangunan perpustakaan yang permanen sehingga mudah untuk mengelolanya. Target dari ini semua akan mendapatkan penilaian maksimal saat dalam visitasi akreditasi.
Kedua, dibutuhkan sang pustakawan profesional untuk mengelola perpustakaan. Bukan hanya pengelolaan buku ansich, tetapi mampu membangkitkan semangat pengguna perpustakaan untuk berliterasi. Membaca dan menulis kian membahana. Sehingga karya anak bangsa semakin membudaya di era informasi ini. Lancaster dalam Nurlela dan Maksum (2004) dikutip Elva Rahmah dkk (2019: h. 179) menyatakan bahwa kepuasaan pengguna terhadap layanan perpustakaan antara lain ditentukan oleh : (1) kinerja pelayanan yang mampu menekan sekecil mungkin tingkat kesalahan dan berusaha memberikan yang terbaik terhadap permintaan pengguna; (2) responsif terhadap setiap keinginan pengguna; (3) kompeten dalam melayani disertai kemampuan teknis dan etika berkomunikasi yang baik; (4) akses terhadap informasi yang dicari relatif mudah, cepat dan akurat; dan (5) ruangan dan peralatan penunjang tertata dengan baik dan nyaman.

Ketiga, setiap sekolah harus berinovasi dalam hal pengelolaan perpustakaan. Menapaki era digital, perpustakaan pun harus dikelola dengan optimal. Sesuai dengan kondisi zaman, perpustakaan digital harus diutamakan. Ada tiga karakteristik utama perpustakaan digital menurut Pendit (2007:30-31) sebagai berikut. Pertama, memakai teknologi yang mengintegrasikan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk di dalam sebuah jaringan digital yang tersebar.

Kedua, memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal. Ketiga, merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumber daya digital yang dikembangkan bersama-sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi komunitas tersebut.

Keempat, sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah memberikan apresiasi kepada guru penggerak literasi yang telah menerbitkan buku tunggal. Ke depan semua karya guru menghiasi perpustakaan sekolah dan madrasah. Sehingga semua guru akan menghasilkan karya-karya berikut.

Deskripsi di atas membuka wawasan kita semua, bahwa eksistensi perpustakaan memegang peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Tentunya diawali dengan memiliki pustakawan profesional. Inilah makna, bahwa pustakawan adalah sang pejuang literasi. Wallahu ‘Alam. (*)

Anggota KGPBR

Close