Nasional

Respon Najwa Shihab Soal Wawancara ‘Kursi Kosong’ Menkes Terawan yang Diperkarakan Relawan Jokowi

JAKARTA, RADARBEKASI.ID-Presenter Najwa Shihab mengaku sudah mengetahui pelaporan terhadap dirinya di Polda Metro Jaya, terkait video wawancaranya dengan kursi kosong untuk Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto.

Host Mata Najwa itu menyatakan bahwa dirinya mengetahui soal pelaporan tersebut dari media. “Saya baru mengetahui soal pelaporan ini dari teman-teman media. Saya belum tahu persis apa dasar pelaporan termasuk pasal yang dituduhkan,” kata Najwa melalui akunnya di Instagram, Selasa (6/10).

Sebelumnya Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu (RJB) Silvia D Soembarto melaporkan Najwa ke Polda Metro Jaya.

Silvia menganggap mantan penyiar Metro TV itu melakukan perundungan di dunia maya atau cyberbullying terhadap Menkes Terawan. Namun, Polda Metro Jaya menolak laporan itu.

“Saya dengar pihak Polda Metro Jaya menolak laporan tersebut dan meminta pelapor membawa persoalan ini ke Dewan Pers,” tutur Najwa.

Walakin, perempuan kelahiran 16 September 1977 di Makassar, Sulawesi Selatan itu mengaku siap memenuhi panggilan dari institusi yang berwenang menangani pengaduan tersebut.

“Jika memang ada keperluan pemeriksaan, tentu saya siap memberikan keterangan di institusi resmi yang mempunyai kewenangan untuk itu,” tegasnya.

Peraih gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia itu lantas memberikan penjelasan ihwal munculnya wawancaranya dengan kursi kosong.

Menurut Najwa, niat di balik wawancaranya dengan kursi kosong itu ialah mengundang pejabat publik menjelaskan kebijakan-kebijakannya terkait penanganan pandemi.

Menurutnya, penjelasan itu tidak harus di Mata Najwa,  tetapi bisa di mana pun. Namun, ujar Nana, kemunculan Menkes Terawan di media memang minim sejak pandemi meningkat.

Dari waktu ke waktu, tulis Najwa, makin banyak pihak yang bertanya ihwal kehadiran dan proporsi menteri kesehatan dalam penanganan pandemi.

“Faktor-faktor itulah yang mendorong saya membuat tayangan yang muncul di kanal YouTube dan media sosial Narasi,” jelasnya.

Namun, Najwa mengakui cara ‘kursi kosong’ itu belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Walakin, model itu lazim diterapkan di negara yang punya sejarah kemerdekaan pers cukup panjang.

“Di Amerika sudah dilakukan bahkan sejak tahun 2012,” tulisnya.( jpnn)

Related Articles

Back to top button