RADARBEKASI.ID – Penyebab hilangnya nyawa RSJ (33) akhirnya terungkap dalam rekonstruksi yang dilaksanakan di kolong tol Kp Cimatis RT 01/07, Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.
Laporan: Surya Bagus
Jatisampurna
Keluarga korban tak kuasa menahan sedih menyaksikan adegan rekonstruksi. Luapan emosi tak terbendung hingga sempat memukul tersangka. Rekonstruksi dilakukan dalam 20 adegan, menyaksikan rekonstruksi anaknya dihabisi oleh pelaku, orang tua korban yakin pembunuhan Rabu (4/8) lalu sudah direncanakan.
Korban dianiaya oleh tersangka MA menggunakan tangan kosong. Entah dalam keadaan masih hidup atau sudah tak bernyawa, korban dalam kondisi tak berdaya dikubur oleh tersangka menggunakan tangan kosong.
Sebanyak 10 adegan dilakukan di Polda Metro Jaya. Peristiwa bermula pada saat tersangka menghubungi korban Rabu (4/8) pagi. Korban diajak melakukan pekerjaan terapi bekam kepada salah satu pelanggannya di Kawasan Hambalang, Kabupaten Bogor.
Setelah menerima kabar dari tersangka, korban bergegas menuju Stasiun Cakung membawa kendaraan roda dua dan peralatan bekam untuk berjumpa dengan tersangka. Korban menuju ke lokasi semula yang dituju bersama tersangka. Setibanya di lokasi, klien tidak berada di rumah, terapis urung dilakukan.
Tidak jadi melakukan pekerjaannya, tersangka dan korban selanjutnya bergerak ke beberapa lokasi, diantaranya sebuah villa untuk salat Ashar, serta lokasi lain, disebutkan rumah bapak Ahmad, tidak jauh dari villa. Di tempat ini, tersangka meminta dibekam oleh korban lalu berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan maksud mengantarkan korban pulang ke rumahnya di kawasan Cakung, Jakarta Timur.
Sepulang dari lokasi awal, sepanjang jalan korban bercerita kepada tersangka bahwa ia dalam waktu dekat segera menikah dan telah memiliki calon suami.”Dalam perjalanan tersebut jam 22.00 WIB, tersangka meminta izin kepada korban untuk menginap,” terang Panit Resmob Polda Metro Jaya, AKP Reza dalam rekonstruksi akhir pekan kemarin.
Mendengar ucapan tersangka, korban memberikan jawaban bernada menolak sambil memukul tersangka satu kali saat berada diatas motor. Tidak lama kemudian tersangka mengaku hendak buang air kecil di TKP, selesai buang air kecil, korban memaki tersangka.
Tak terima dicaci maki, emosi tersangka tersulut, sehingga memukul bagian wajah korban sebanyak dua kali. Korban mencoba melarikan diri, namun tersangka menarik korban dan kembali menghadiahi pukulan dengan tangan kosong di bagian punggung sebanyak empat kali.
Bukan tanpa perlawanan, korban sempat melawan, berbalik badan dan memukul tersangka dua kali, sebelum akhirnya terjatuh.”Setelah terjatuh, tersangka membekap korban dengan kedua tangan hingga korban lemas,” tambahnya.
Dibekap, korban tak berdaya, terbaring dalam keadaan lemas dan nafas tersengal-sengal. Tersangka menarik korban menuju gundukan pasir di sekitar lokasi, mengubur korban dengan tanah dan ilalang, dilakukan dengan tangan kosong.
Setelah dirasa cukup, tersangka meninggalkan korban pulang ke rumahnya membawa peralatan bekam, tas, dan telepon genggam milik korban. Lantaran lokasi sekitar minim penerangan, tersangka tidak menyadari bahwa bagian tubuh korban tidak terkubur sempurna, tangan korban tidak terkubur hingga akhirnya ditemukan oleh warga yang sedang mencari rumput dua hari kemudian.
Sebelumnya, hasil penyelidikan pihak kepolisian menyebutkan bahwa tersangka adalah rekan kerja korban. Tersangka sempat menyatakan keinginannya untuk menikahi korban, padahal tersangka sudah memiliki istri, dan korban telah memiliki calon suami.
Tersangka diringkus polisi di kediamannya di Jalan Cilangkap, Tapos, Kota Depok, 10 Agustus 2021 lalu. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP tentang pembunuhan.
Orang tua korban yang hadir pada saat rekonstruksi dan menyaksikan adegan demi adegan di TKP yakin bahwa pembunuhan anaknya sudah direncanakan, sehingga tersangka patut dijatuhi hukuman seberat-beratnya.”Harapannya terhadap pelaku agar pelaku dihukum seberat-beratnya lah, karena itu dilihat direncanakan sama si tersangka ini,” ungkap ayah korban, Sumaryanto.
Keluarga korban sama sekali tidak mengenal sosok tersangka. Terakhir kali, anaknya berpamitan untuk bekerja, mengingatkan anaknya untuk berhati-hati, dan tidak pulang hingga larut malam. (sur)











