Berita UtamaPendidikan

Sosialisasi Pencegahan Perundungan Harus Digencarkan

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SMAN 1 Kota Bekasi saat mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas. Sosialisasi pencegahan bullying atau perundungan harus digencarkan kepada guru maupun siswa di satuan pendidikan. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sosialisasi pencegahan bullying atau perundungan harus digencarkan kepada guru maupun siswa di satuan pendidikan. Hal itu penting dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus tersebut.

Baru-baru ini, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi menerima laporan terjadinya dugaan kasus perundungan di sekolah. Mirisnya, dugaan kasus ini melibatkan oknum guru sebagai pelakunya dengan korban siswa.

Komisioner Bidang Pendidikan dan Sosialisasi KPAD Kota Bekasi Nurfajriah mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dugaan perundungan yang terjadi pada Oktober lalu di salah satu satuan pendidikan di Kota Bekasi.

“Ada satu kasus dugaan bullying yang terjadi di salah satu sekolah,” kata Nurfajriah kepada Radar Bekasi, Selasa (9/11).

Dugaan perundungan itu bersifat verbal berupa kata-kata panggilan yang merendahkan atau menghina korban. Adapun korbannya merupakan siswa dengan pelakunya oknum guru di salah satu SMA.

“Baru dugaan, guru terhadap peserta didiknya yang mana tidak diketahui nama guru tersebut. Untuk nama sekolahnya tidak bisa disampaikan, karena sesuai dengan SOP KPAD,” tuturnya.

Dengan adanya kasus ini, ujar dia, sekolah bersepakat untuk melakukan sosialisasi pencegahan terhadap perundungan di sekolah. Dengan demikian, kasus serupa tak terjadi kembali.

“Sekolah sepakat untuk melakukan sosialisasi pencegahan bullying,” terangnya.

Sosialisasi mengenai perundungan dalam situasi pembelajaran tatap muka terbatas ini dinilai penting untuk dilakukan oleh seluruh satuan pendidikan pada tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, maupun SMK. Mengingat sekolah harus berperan penting untuk mencegah adanya kasus perundungan.

“Sosialisasi ini juga penting dilakukan oleh seluruh tingkat pendidikan, karena ini merupakan moment bertemunya kembali siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Jadi memang cukup riskan, jangan sampai ada kasus dugaan yang sama,” katanya.

Lebih lanjut menurut Nurfajriah, perundungan di satuan pendidikan dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

“Sebenarnya dalam aturan Permendikbud sudah diatur tentang pencegahan kekerasan di dalam satuan pendidikan, nah tinggal sekolah yang harus mensosialisasikan itu,” terangnya.

Sementara, Guru Koordinator Bimbingan Konseling SMKN 7 Kota Bekasi Heri Purnomo mengatakan, adanya kasus perundungan di sekolah merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk mengatasinya.

“Pendidikan itu sangat kompleks ya, banyak hal-hal kecil yang memang bisa dikatakan bullying tetapi sifatnya tidak luas. Seperti siswa tidak masuk 1 minggu setelah kita telusuri karena ketidaknyamanan siswa di dalam kelas bersama dengan teman-temannya,” tuturnya.

Hal tersebut tentu menjadi sebuah pekerjaan rumah (PR) besar bagi sekolah untuk memberikan pemahaman. Bukan hanya kepada siswa melainkan guru yang menjadi seorang pendidik,  sehingga dalam hal ini kejadian perundungan dapat diminimalisir.

“Bukan hanya sosialisasi, tetapi kepada pendekatan teman-teman guru dan siswa. Karena siswa sekarang itu lebih sensitif, kita harus berhati-hati. Kalau jaman dulu guru mukul siswa pakai penghapus aja siswa diam. Kalo sekarang tidak bisa seperti itu,” ucapnya.

Sosialisasi dilakukan dalam waktu-waktu tertentu, namun untuk pendekatan dilakukan hampir setiap hari kepada siswa dan guru. Sebab komunikasi merupakan sebuah hal penting yang harus diterapkan di lingkungan sekolah.

“Kalau untuk sosialisasi itu ada waktu-waktu tertentu untuk disampaikan, kalau kita sendiri lebih kepada pendekatan. Karena komunikasi merupakan hal yang penting untuk diterapkan dalam lingkungan sekolah,” pungkasnya. (dew)

Related Articles

Back to top button