Shopee Besarkan Himalaya Outdoor Jakarta

Pegawai Himalaya Outdoor Jakarta mengemas pesanan produk pelanggan yang dipesan melalui Shopee. ISTIMEWA

Sejak 2017, Andri Susilowati (35) berjualan di Shopee melalui Himalaya Outdoor Jakarta. Situs elektronik komersial tersebut telah membesarkan nama tokonya.

 


LAPORAN: EKO ISKANDAR

JAKARTA


Andrea-begitu ia disapa- ingat betul saat pertama kali membuat akun Shopee pada 2016 lalu tak langsung berjualan. Ibu dengan satu orang anak ini baru mulai aktif berjualan satu tahun kemudian.

“2016 ini hanya buka akun, baru mulai jualan awal 2017 karena belum begitu paham,” ungkapnya saat berbincang dengan Radar Bekasi di Andalan Coffee & Kitchen Pulogebang Cakung Jakarta Timur, Selasa (9/11/2021).

Keinginannya menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah untuk mencari penghasilan tambahan sebagai ibu rumah tangga. Dengan modal awal sekitar Rp300 ribu, dirinya saat itu hanya menjual produk perlengkapan hiking atau mendaki milik orang lain. Tidak banyak macamnya, seperti, sleeping bag atau kantong tidur, matras, dan hammock atau tempat tidur gantung.

Andrea sangat senang ketika pertama kali menerima pemberitahuan pesanan produk dari akunnya. Terlebih, pemesannya tersebut berasal dari luar pulau Jawa.

“Pembeli pertama dari Aceh, dia beli hammock,” ucap perempuan berhijab yang hobi Paralayang ini.

Dari pembeli itu, Andrea merasa beruntung. Betapa tidak, ia sempat diajari mengunggah produk di Shopee supaya dapat menarik minat pembeli secara online atau daring.

Seiring berjalannya waktu, macam produk yang dijual semakin bertambah. Diantaranya kompor, kaos, celana, sandal, bantal angin, kursi lipat, sepatu, hingga tas.

Usaha yang dilakoni seorang diri dengan dukungan penuh sang suami ini cepat berkembang. Produknya laris dibeli oleh banyak orang dari berbagai daerah, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Banyaknya pesanan membuatnya kerepotan. Sehingga ia merekrut dua orang karyawan untuk membantunya sebagai tenaga admin dan pengemasan di toko offline di rumahnya Jalan Nusa Indah 3 Blok C4 No 25 Perumahan Harapan Baru Regency Kelurahan Kota Baru Kecamatan Bekasi Barat Kota Bekasi.  Meskipun demikian, dirinya tetap turun tangan mengawasi admin.

Tepat September 2017, Andrea mulai membuat produk sendiri seperti matras, sleeping bag, ayunan gantung, dan celana dengan merk Andess. Ia pun merekrut 15 orang karyawan untuk produksi.

Dengan memberi modal mesin jahit, produksi dilakukan di rumah masing-masing karyawan daerah Subang. “Sengaja produksi di sana, karena upahnya lebih rendah,” ucapnya.

Selama ini, dirinya aktif di Kampus Shopee. Dari komunitas khusus penjual Shopee Indonesia itu, Andrea banyak belajar dan berdiskusi sehingga banyak ilmu yang didapat.

Hanya dalam waktu beberapa bulan sejak aktif mulai berjualan di Shopee, Andrea mampu menerima rata-rata sekitar 300 sampai 700 nota pesanan per hari dengan omzet mencapai Rp700 jutaan.

Larisnya jualan berkat komitmennya dalam menjaga kepercayaan para pembeli. “Kepercayaan pembeli harus kita jaga. Mereka itu kan akan beli tanpa melihat produk, jadi foto dan barang yang kita kirim harus sesuai, kemudian harus cepat respon chat, dan kirim produk tepat waktu,” ucapnya.

Selain itu, atas kemauan Andrea menggunakan layanan promosi berbayar di iklanku Shopee. Hal itu juta tak terlepas dari  gencarnya promosi kepada masyarakat serta program-program menarik yang dihadirkan oleh Shopee.

Ibu rumah tangga yang tak mengenyam bangku kuliah jurusan ekonomi maupun bisnis ini telah menikmati hasil kerja kerasnya dari bisnis berbasis digital di Shopee. Selain rumah dan kendaraan, Andrea kini telah memiliki di Jalan Rawa Kuning RT 02 RW 01 No 17 Pulogebang Cakung Jakarta Timur sebagai tempat barunya sekarang ini.

“Shopee ini telah membesarkan saya. Bayangin aja dari modal kecil banget Rp300 ribu, cuma dari jualan barang orang, nggak punya brand, sampai seperti sekarang ini,” ucapnya.

Jualan di Luar Negeri Tak Repot

Berkat hasil penjualan yang cukup bagus, pada 2019 Himalaya Outdoor Jakarta mendapatkan tawaran untuk bergabung dalam program ekspor dari Shopee. Andrea sebagai pemiliknya tak pikir panjang menerima tawaran tersebut.

“Awalnya dari tim sana infoin ke kita, Himalaya Outdoor Jakarta sebagai seller terpilih program ekspor. Tertarik atau nggak, terus kita bilang tertarik buat ekspor,” ujar Andrea.

Adapun negara tujuan ekspor yang ditawarkan yakni Malaysia, Singapura, dan Filipina. Akun dibuatkan oleh Shopee dengan domain yang berbeda, disesuaikan dengan masing-masing negara tujuan.

Diakui Andrea, melayani pembelian dari luar negeri tak ruwet seperti yang sempat dibayangkan sebelumnya. Justru sangat mudah, tak sampai membuat kepalanya pusing.

Sebab, seluruh pengelolaan toko, seperti pembuatan toko luar negeri, pengelolaan produk dan stok, pengaturan harga, pelayanan chat pembeli, dan pengiriman ke luar negeri dilakukan oleh Shopee. Karena seluruh pengelolaan toko dilakukan oleh Shopee, akses ke seller centre toko di luar negeri akan sepenuhnya dikelola oleh Shopee.

“Enggak ribet, Shopee yang urus. Kita nggak bales chat juga. Jadi kita cuma terima order, packing, kirim ke gudang Shopee di Jakarta. Simpel, seperti jualan di dalem negeri,” ucapnya.

Dari penjualan luar negeri, khususya Malaysia dan Singapura, Andrea bisa menerima 5 sampai 10 nota pesanan. Meskipun belum terlalu banyak menerima pesanan, Andrea tetap merasa senang ketika menerima pesanan luar negeri. Biasanya, produk yang dibeli seperti serit kucing dan payung.

“Senang bisa ekspor. Kalau ada invoice dari luar, saya minta ke pegawai double packing yang bagus, cek kualitas barangnya. Ini kebanggan tersendiri, walaupun belum si Andess yang ke sana,” ucapnya.

Dirinya berharap, Shopee bisa memberikan informasi produk yang memiliki potensi pasar besar di luar negeri. Sehingga dia bisa menyediakannya dan nota pesanan dapat meningkat.

Pandemi Tak Berdampak Parah

Diakui, awal-awal pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal Maret 2020 membuat bisnisnya terdampak. Sebab, aktivitas pendakian berkurang karena gunung-gunung di Tanah Air ditutup oleh pemerintah sebagai upaya mencegah penularan virus.

Namun demikian, Andrea menolak ‘tumbang’. Ia mengambil peluang dari banyaknya masyarakat yang lebih sering beraktivitas dari rumah dengan menjual produk-produk yang dibutuhkan.

“Karena awal pandemi semua gunung ditutup, pesanan kita berkurang. Makanya kita jualan yang lain. Banyaknya masyarakat yang berolahraga di rumah, kita jual barang lain seperti bola yoga, matras yoga,” ucapnya.

Sekitar tiga bulan sejak pandemi melanda, bisnisnya mulai pulih sampai dengan saat ini. Meskipun diakui, jumlah pesanan belum normal seperti sebelum adanya pandemi.

Saat ini, dari penjualan dalam negeri rata-rata ia menerima 100 nota pesanan per hari dengan omzet sekitar Rp200 juta sampai Rp300 juta. Dalam program-program tertentu bisa mencapai lima kali lipat dari jumlah tersebut.

Sementara, dari penjualan luar negeri rata-rata menerima di bawah lima nota pesanan per hari. ”Dampaknya nggak parah banget, aku nggak mau bohong. Buktinya, masih bisa pindah toko dan beli rumah,” pungkasnya. (oke)