Seluruh Sekolah Sudah Belajar Tatap Muka

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SMPN 29 Kota Bekasi saat mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas. Seluruh satuan pendidikan mulai dari jenjang PAUD, SD, sampai SMP di Kota Bekasi sudah melaksanakan PTM 100 persen. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Seluruh sekolah mulai dari jenjang PAUD, SD, sampai SMP di Kota Bekasi sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen.

“Kota Bekasi per 4 April 2022 sudah melaksanakan PTMT 100 persen bagi seluruh tingkatan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi Inayatullah kepada Radar Bekasi, Senin (4/4).


Berdasarkan data yang dihimpun Disdik, rincian satuan pendidikan yang sudah PTM 100 persen sejumlah 1.296 PAUD, 356 SD, dan 223 SMP baik negeri maupun swasta.

Melalui surat edaran nomor 421/2306 Disdik Set, dijelaskan jumlah kapasitas dalam kelas untuk tingkat PAUD 15 siswa, SD 28 siswa dan SMP 32 siswa.


“Apabila jumlah siswa lebih dari jumlah kapasitas yang diperbolehkan, sekolah dapat membaginya menjadi dua sif,” terang Inayatullah.

Sementara untuk jam pembelajaran masing-masing memiliki waktu yang berbeda. Untuk tingkat SD memiliki waktu 35 menit dikali jumlah mata pelajaran yaitu 5 atau 6 mata pelajaran, SMP memiliki waktu 35 menit dikali jumlah mata pelajaran yaitu 6 mata pelajaran dan PAUD memiliki waktu 30 menit untuk maksimal 3 mata pelajaran.

Dalam surat edaran juga dijelaskan kegiatan seperti ekstrakurikuler di sekolah sudah dapat dilaksanakan kembali. Namun untuk kegiatan aktivitas kantin sampai dengan saat ini belum boleh dibuka.

“Kegiatan ekstrakurikuler sudah boleh dilakukan secara terbatas, kantin belum boleh dibuka,” katanya.

SMPN 29 Kota Bekasi merupakan salah satu sekolah yang sudah melaksanakan PTM 100 persen bagi seluruh peserta didiknya. “Kami sudah melaksanakan PTM 100 persen sejak 28 Maret karena dapat info dari Disdik sudah boleh tapi memang puncak diperbolehkan seluruhnya 100 persen adalah pada 4 hari ini,” ucap Humas SMPN 29 Kota Bekasi Nining.

Lebih lanjut dikatakan, kapasitas siswa yang semula 50 persen menjadi 100 persen tentu membuat sekolah lebih ekstra dalam hal pengawasan di dalam kelas.

“Agak kewalahan juga ya, karena kami selaku guru juga masih takut kalau memang jumlah siswanya banyak. Makanya kami cukup memberikan pengawasan yang ekstra kepada siswa ketika di dalam kelas,” katanya.

Sampai dengan saat ini komunikasi antara pihak sekolah dengan orangtua masih tetap dilakukan. Sehingga kepulangan siswa tetap mendapatkan pantauan dari pihak sekolah.

“Ada yang masih dijemput, ada juga yang sudah dilepas sendiri karena orangtua sudah yakin anaknya aman karena sudah divaksin. Tetapi kita tetap melakukan komunikasi kepada orangtua siswa yang tidak menjemput, apakah anaknya sudah sampai rumah atau belum,” tukasnya. (dew)