118.655 Pemudik Motor Lintasi Bekasi

LANCAR : Foto udara arus lalu lintas Tol Jakarta Cikampek Km 29 arah Cikampek di Cikarang Utara Kabupaten Bekasi, Rabu (27/4).Ratusan pemudik menggunakan sepeda motor melintasi Kota Bekasi.ARIESANT/ RAIZA SEPTIANTO /RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ratusan ribu kendaraan roda dua dan roda empat pemudik sudah melintas wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi hingga H-6 lebaran. Jumlah kendaraan pemudik yang melintas di jalan arteri maupun tol diprediksi akan terus meningkat mendekati lebaran, pasalnya jumlah kendaraan roda empat yang melintas di tol hingga H-6 belum sebesar volume pada waktu yang sama di tahun 2019 lalu.

Kepolisian mencatat ada 118.655 kendaraan roda dua yang sudah melintas di jalur arteri, dimulai dengan 11.474 kendaraan pada H-10 , jumlahnya meningkat drastis pada H-6 mencapai 61.766 kendaraan. Statistik kendaraan yang melintas di Jalur Arteri Bekasi tercatat di Jalan Raya Pantura, tepatnya di wilayah Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi.


“Data Selasa kemarin, kendaraan roda dua yang meninggalkan Jakarta sebanyak 95.040 unit (Kedungwaringin dan Tangerang),” papar Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo saat meninjau Posko pemantauan Kabupaten Bekasi, Rabu (27/4).

Jumlah tersebut terdiri dari 61.766 kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui Kedungwaringin, ditambah 33.274 kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui Kawasan Tangerang. Dibandingkan dengan H-10, jumlahnya naik empat kali lipat.


Sementara di Gerbang Tol (GT) Cikarang Utama, H-10 tercatat ada 33.958 kendaraan yang bergerak meninggalkan Jakarta. Sama dengan pemudik roda dua, jumlahnya meningkat pada H-6, tercatat ada 53.570 kendaraan bergerak meninggalkan Jakarta.

“Kenaikan yang signifikan di gerbang tol Cikatama itu hari Senin 43 ribu kendaraan, hari Selasa 53 ribu kendaraan atau naik 10 ribu, atau 25 persen dibandingkan hari kemarin,” tambahnya.

Meski demikian, jumlah ini masih belum lebih besar dibandingkan waktu yang sama pada arus mudik tahun 2019, dimana volume lalu lintas mencapai 81 ribu kendaraan.”Jadi memang ada peningkatan tapi belum sebesar volume pada masa lebaran tahun 2019,” tukasnya.

Mulai malam ini, akan berlaku larangan kendaraan berat atau kendaraan sumbu tiga melintas di jalan tol maupun jalan arteri. Sehingga, kedua ruas jalan akan didominasi oleh kendaraan pribadi, kecuali kendaraan sumbu tiga yang mengangkut bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Jalan Raya Pantura di Kedungwaringin menjadi lokasi pertemuan pemudik dari berbagai arah di Kota dan Kabupaten Bekasi. Pemudik beberapa hari belakangan sudah nampak melintas di wilayah Kota Bekasi meski jumlahnya belum terlihat besar, arus lalu lintas pemudik mengalir tidak menimbulkan kepadatan yang berarti di ruas arteri Kota Bekasi.

Pemudik yang dijumpai di wilayah Kota Bekasi mengaku memilih menggunakan moda transportasi kendaraan roda dua lantaran lebih hemat ongkos dibandingkan naik kendaraan umum atau bus. Perjalanan mudik tidak dilakukan bersama dengan seluruh anggota keluarga, sebagian anggota keluarga mereka sudah berangkat lebih dulu dengan kendaraan umum.

Pemudik dengan tujuan Semarang, Ahmad (35) mengaku bergerak sebelum tanggal 28 April untuk menghindari kemacetan. Waktu malam dipilih lantaran untuk menghindari teriknya sinar matahari.

Ahmad mengendarai motor seorang diri, sementara istrinya mudik dengan moda transportasi lain.

“Istri kasian capek, ditinggal pakai mobil. Karena kita senang, hobi, (barang bawaan) peralatan doang titipan dari mertua,” katanya sebelum melanjutkan perjalanan.

Grafik yang sama juga ditunjukkan oleh penumpang di Terminal Induk Bekasi, H-10 jumlah keberangkatan penumpang dicatat sebanyak 418 penumpang, jumlahnya sempat naik menjadi 731 penumpang pada H-8. Pada H-6, jumlahnya tercatat sebanyak 522 penumpang.

Salah satu pemudik yang hendak bergerak ke wilayah Kebumen, Jawa Tengah, Tuti Handayani (32) sudah tidak mudik pada momen lebaran tiga tahun belakangan. Bagi Tuti, lebaran kali ini adalah momen yang langka lantaran waktu libur anak sekolah lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

Ia hanya mudik dengan anaknya, sang suami tetap di Bekasi lantaran tidak mendapat izin cuti. Harga tiket mudik dua kali lipat lebih mahal, meskipun begitu ia mengaku memahami harga tiket yang cenderung lebih mahal pada masa mudik.

“Waktu dulu mudik hari biasa standar 120 ribu, kalau sekarang 340 ribu, sudah tiga kali lipat. Itu 340 per orang, bertiga tadi jadi satu juta dua puluh ribu,” ungkapnya.

Tuti sudah memahami ketentuan mudik tahun ini, ia memastikan dua anaknya telah divaksin dua dosis. Sementara ia sendiri sudah divaksin booster. (Pra/Sur)