Idul Fitri, Mindset dan Behavior

Assoc.Prof. T. Syahrul Reza (Dosen Senior Institut Ilmu Sosial dan Manajemen  "STIAMI"( Institut Stiami) Jakarta,  Founder-CEO ASEAN Lecturer Community (ALC)-  www.aseanlecturer.com.  )

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ada satu pertanyaan yang patut kita tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang telah berubah pada diri kita dalam kontek perilaku (behavior) setelah mungkin 20 kali, 30 kali , 40 kali atau 50 kali berpuasa bagi yang usianya sudah lebih dari 50 tahun? Tentu saja setelah berpuluh-puluh kali kita berpuasa telah melakukan suatu trainning yang saya sebut dalam tulisan terdahulu seperti Super Camp yang di bentuk oleh Allah SWT, tentu mestinya kita lebih baik dari setiap ramadah ke ramadhan, dari setiap ba’da idul fitri ke idul fitri berikutnya.


Andaikata itu terjadi demikian kita termasuk orang yang beruntung, dan sebaliknya apabila sama saja dengan apa yang telah kita lakukan terdahulu  berarti kita termasuk orang rugi  dan andai kata justru makin lebih buruk dari pada sebelumnya, tentu kita termasuk orang yang celaka, karena itu idul fitri mestinya kita sadari kita kembali ke titik fitrah, dimana fitrah manusia itu kita sudah tahu semua, paling tidak dalam 3 perspektif

  1. Sebagai hamba Allah SWT, dimana kita tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak dan ridha Allah SWT, jadi kita ini bukanlah penentu, kita ini hanya ahli ikhtiar, hanya mampu melakukan upaya dan ihtiar tapi tidak penentu hasilnya
  2. Kita ini adalah mahluk sosial bukan mahluk individu oleh karena nya berjamaah lebih diutamakan dari sendiri, itu symbol bahwa kita ini mahluk social karena itu orang yang misalnya menguasai asset yang luar biasa punya Cash Cow yang sangat banyak tapi dia hanya sendiri saja tinggal di tengah hutan atau di penjara apalah guna dan manfaatnya bagi dia tanpa berinteraksi dengan manusia lain
  3. Kita ini hidup sementara, yang selamanya justru setelah kematian, oleh karena demikian maka mindset kita selepas idul fitri mestinya adalah meningkatnya mindset atau set iman yaitu percaya kepada Allah, kepada kitab-kitab Nya kepada Rasulullah, kepada Qodar dan Qodor, kepada Malaikat dst, rukun iman yang kita kenal 6 itu. Jadi mindset seorang intelektual setelah idul fitri mestinya adalah memposisikan dirinya sebagai Khalifatul Ardh pada proporsi yang semestinya

Mindset


Apabila mindset sudah benar, mestinya attitude juga benar artinya sikap dalam berprofesi, dalam berinteraksi, dalam berkontribusi, baik sebagai warga negara, sebagai hamba Allah maupun sebagai bagian dari komunitas social masyarakat, mesti kita harus berbeda dengan orang-orang yang setidaknya berpuasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, jadi jangan sampailah di bulan syawal (yang baru kita lewati bulan ramadahan) itu tidak kelihatan bekasnya apa yang kita ikuti kurikulum ramadhan dari Allah SWT dengan mentor Rasulullah itu di dalam pikiran, hati dan tindakan kita

Behavior

Sikap akan membentuk perilaku atau behavior. Memang behavior atau perilaku akan terlihat secara nyata apakah beda antara sebelum kita ramadhan dengan setekah kita ramadhan, jangan lupa bahwa perilaku ini merupakan gambaran dari kedewasaan kita, dari intelektualisme kita dan dari wisdom kita yang tampak sehari-hari. Jadi apabila kita sering mendengar diibaratkan, perilaku itu ibarat pohon, jadi apabila akar itu adalah syariat yang menjadi tumpuan, kemudian batangnya adalah sebuah amalan yang kita lakukan, baik puasa, solat, zakat, haji jika mampu, maupun bersedekah, maka cabang-cabangnya adalah perilaku kita yang terlihat dalam berbagai aspek posisi kita sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, sebagai leader baik di lingkungan masyarakat maupun rumah dan buahnya adalah akhlak.

Akhlak ini tercermin dari behavior kita perilaku kita. Tak mungkin buah yang manis  dan lezat  keluar dari cabang pohon yang tidak subur atau tidak tumbuh dengan baik, dan itu juga tidak mungkin berasal dari batang yang tidak prima dan batang yang tegak lurus dan kokoh hanya mungkin di atas akar yang cukup kuat dan mempunyai kapasitas yang mempuni dalam menyangga pohon, cabang bahkan ranting  hingga buahnya

Jadi apa buah dari puasa dan idul fitri, maka mari kita lihat  masing-masing  pada diri kita dan pada sesama kita untuk saling mengingatkan dan mengoreksi agar apa yang udah kita raih di ramadhan tidak bubar, amyar tanpa bekas  setelah bahkan sebelum syawal itu sendiri,

Semoga bermanfaat. (*)