Stasiun Semrawut, Kereta Ngaret

RAMAI : Sejumlah penumpang memadati peron saat jam kerja di Stasiun Bekasi, Senin (30/5). PT KAI Commuter Indonesia melakukan perubahan rute menyesuaikan pola operasional untuk mendukung switch over yang ke-5 di Stasiun Manggarai hal itu membuat sejumlah penumpang di stasiun bekasi sempat mengalami kepadatan. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Fakhran Ramadhan (33), warga kecamatan Pondok Gede ini harus membatalkan niatnya menggunakan transportasi Commuter Line dari stasiun Bekasi menuju Jakarta Kota. Pasalnya, kondisi stasiun Bekasi senin pagi kemarin sangat krodit karena adanya Perubahan dan penyesuaian pola operasi Commuter Line (KRL).

“Saya nggak jadi naik kereta. Padet banget di stasiun Bekasi. Pasti di stasiun manggarai juga seperti itu. Akhirnya saya pilih naik sepeda motor saja, daripada nanti telat,”kata karyawan perusahaan swasta ini kepada Radar Bekasi.


Ya, sejumlah penumpang mengeluhkan pola operasi baru pasca Switch Over (SO) 5 stasiun Manggarai, pengguna mengantisipasi perubahan pola operasi di awal pekan dengan berangkat lebih pagi.

Pengguna KRL dari Bekasi menuju Jakarta Kota memang sudah mengetahui perubahan pola operasi ini melalui sosialisasi yang dilakukan pekan kemarin. Namun, perubahan ini dinilai menyulitkan penumpang karena sebelumnya tidak perlu transit atau pindah kereta untuk sampai di tujuan.


“Karena saya turunnya di sawah besar ya menyulitkan ya, karena saya harus transit yang biasanya saya nggak transit,” kata salah satu penumpang Commuter Line, Putri Roma (29) saat ditemui Radar Bekasi di stasiun Bekasi, Senin (30/5).

Ia berharap pola operasi akan kembali normal. Langkah antisipasi sudah dipersiapkan sejak jauh hari, mencari tahu dimana harus turun dan kembali melanjutkan perjalanan sampai di Stasiun Jakarta Kota.

Kemarin, ia keluar rumah lebih awal. Hal ini dilakukan semata-mata supaya tidak terlambat.

“Saya lebih pagi berangkatnya, saya masuk jam sembilan. Jadi (berangkat) lebih awal dari biasanya supaya nggak telat masuk kantornya,” tukasnya.

Penumpang yang lain, Triyadi juga mengaku sudah mengetahui perubahan pola operasi KRL ini. Ia juga berangkat lebih pagi dari biasanya.”Harus waktunya dipercepat, pagi-pagi, karena kalau siang pasti agak menumpuk penumpangnya,” ungkapnya.

Awal pekan kemarin, ia bersama dengan penumpang lain menunggu KRL di Stasiun Bekasi hingga 30 menit. Waktu tunggu kali ini lebih lama dari biasanya, hanya 10 sampai 15 menit. Awal pekan, kondisi penumpang di stasiun Manggarai disebut ramai lancar. Di hari ketiga kemarin, keterlambatan KRL disebut berhasil ditekan 3 sampai 4,5 menit.

“Ini didukung dengan dicabutnya pembatasan kecepatan yang masuk atau keluar jalur 1 dan 2, serta jalur 6 dan 7,” ungkap Vice President Corporate Secretary KAI Commuter, Anne Purba.

Operasional KRL feeder melayani penumpang dari dan ke Bekasi atau Cikarang di jalur 7. Kereta ini beroperasi pada jam sibuk, sekira pukul 06:00 WIB sampai pukul 09:00 WIB dan pukul 15:00 WIB sampai pukul 20:00 WIB. Jumlah penumpang yang transit di stasiun Manggarai diperkirakan lebih besar pada hari kerja.

“KAI mencatat pada Minggu (29/5) kemarin, sebanyak 120 ribu pengguna transit di stasiun Manggarai. Diperkirakan pada hari kerja ini akan ada 150 ribu pengguna yang akan transit,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi kepadatan, pengguna KRL menuju Bekasi atau Cikarang dari Tanah Abang atau Duri dapat langsung naik KRL tujuan Bekasi/Cikarang tanpa transit. Untuk tujuan yang sama dari Jakarta Kota, bisa memanfaatkan KRL Lin Tanjung Priok, transit di Kampung Bandan.

Diketahui pada hari ari kedua perubahan pola operasi KRL Minggu (29/5) kemarin, keterlambatan KRL Line Bekasi/Cikarang berkisar 12 sampai 15 menit. Keterlambatan pada hari kedua disebut lebih singkat dibanding satu hari sebelumnya, dimana keterlambatan mencapai 29 hingga 36 menit.

Keterlambatan ditekan dengan mengoptimalkan peron 9 stasiun Manggarai, serta operasional KRL feeder pada jam sibuk. Hingga pukul 17:00 WIB, total penumpang yang naik dari stasiun Manggarai sebanyak 5.657 penumpang, sedangkan penumpang yang turun sebanyak 5.786 penumpang pada hari Minggu.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menegaskan, perubahan pola operasi perjalanan KRL yang dimulai sejak 28 Mei 2022 bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan pelayanan perjalanan KRL Jabodetabek.

Perubahan pola operasi tersebut dilakukan dengan adanya pelaksanaan Switch Over (SO) ke-5 atau SO5 di Stasiun Manggarai oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

“Perubahan pola operasi harus dilakukan, karena adanya pembangunan infrastruktur perkeretaapian yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan para pengguna KRL,” ujarnya di Jakarta, Senin (30/5).

Didiek menyebut, tujuan lainnya yaitu dalam rangka peningkatan pelayanan. Sebab, Ia memperkirakan pengguna KRL diprediksi akan terus meningkat jumlahnya.“Sebelum adanya SO5, pengguna KRL harus menyeberang rel ketika melakukan transit di Stasiun Manggarai, dimana hal tersebut sangat membahayakan,” sebutnya.

Namun saat ini, lanjutnya, pengguna KRL cukup naik dan turun menuju peron tujuan dengan menggunakan lift, eskalator, dan tangga manual. “Adanya gedung baru ini juga membuat pengguna KRL lebih nyaman saat berpindah jalur serta menunggu kedatangan KRL di peron yang lebih luas,” ungkap dia. (sur/jpc)