Satu CJH Indonesia Wafat, Sesaat Usai Mendarat di Madinah

Ilustrasi. Petugas memeriksa dokumen kelengkapan CJH Indonesia di Asrama Haji Pondokgede. Foto Dok Jawapos.

 

RADARBEKASI.ID, MADINAH – Duh, kabar duka datang dari Tanah Suci. Satu orang Calon Jemaah Haji (CJH) Indonesia wafat, 30 menit setelah pesawat yang membawa kloter 1 CJH Indonesia mendarat di Madinah, tadi malam.


Jemaah itu bernama Suhati Rahmat Ali, 64, dari kloter JKG 1 asal Ragunan, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 13.00 waktu Arab Saudi, Suhati sempat mendapat penanganan dari tim kesehatan.

Dia dibawa ke klinik bandara Madinah. Sekitar pukul 13.30, Suhati dinyatakan meninggal oleh dokter klinik bandara.


Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Bandara Haryanto mengatakan, rombongan JKG 1 mendarat di Bandara Madinah sekitar pukul 13.00 waktu Arab Saudi.

Setelah melewati proses imigrasi dan pemindaian barang bawaan, Suhati merasakan sakit. Dia lalu dibawa ke klinik yang ada di bandara Madinah.

“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan di Bandara Madinah dan poliklinik Bandara, selang beberapa saat kami menerima informasi bahwa jemaah tersebut wafat,” terang Haryanto di Madinah kemarin.

Kepala Pos Kesehatan Daker Bandara dr Agus Sultoni menjelaskan, menurut keterangan dokter klinik bandara, Suhati mengalami serangan jantung.

”Tadi sempat diperlihatkan gambar irama jantung yang memang tidak teratur,” tandasnya.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Budi Sylvana menyebutkan, salah satu tantangan pelayanan haji adalah banyaknya jemaah yang memiliki risiko tinggi (risti) dari aspek kesehatan. Sekitar 35 persen dari 100.051 jemaah haji masuk kategori risti. ’’Dari jumlah itu, ada 3.000 jemaah kategori risti berat. Ada komorbidnya,’’ terangnya.

Budi menyatakan, jemaah risti maupun risti berat terdapat di semua kloter. Dia mencontohkan kloter pertama embarkasi JKG (Jakarta Pondok Gede). Di satu kloter saja, ada 12 CJH yang masuk kategori ’’memerlukan perhatian khusus’’. Mereka akan mendapat smartwatch khusus atau wristband.

Budi menjelaskan, wristband itu berbentuk seperti smartwatch pada umumnya. Caranya, dipakai di pergelangan tangan dan terhubung dengan aplikasi TeleJemaah pada ponsel pintar milik jemaah haji. Pada wristband terdapat data kondisi kesehatan jemaah yang diperoleh melalui inframerah. Data itu otomatis terhubung ke TeleJemaah dan TelePetugas.

Pemantauan terhadap indikator kesehatan itu menjadi parameter pemeriksaan kesehatan secara rutin. ’’Jadi, kalau vital sign naik, misalnya saturasi oksigen turun, petugas yang terdekat langsung merespons,’’ tutur Budi. (zar/jpc)