Truk Pertamina Renggut Belasan Nyawa

EVAKUASI : Petugas melakukan evakuasi korban selamat kecelakaan maut Truk Tangki Pertamina di Jalan Raya Alternatif Transyogi, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, Senin (18/7). Kecelakaan yang diduga rem blong tersebut menyebabkan 11 orang meninggal dunia.RAIZA SEPTIANTO/ RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tabrakan beruntun terjadi di Jalan Raya Alternatif Transyogi, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Akibat kecelakaan maut yang melibatkan belasan kendaraan roda dua dan roda empat ini, sebelas pengendara meninggal dunia, enam lainnya luka-luka. Korban jiwa bergeletakan di ruas jalan dan kolong truk tangki milik Pertamina.

Kejadian diketahui berawal dari truk tangki Pertamina yang melaju dari arah Cibubur dengan kecepatan sekitar 50 km/jam. Saat itu, kondisi lalu lintas dalam kondisi padat merayap. Puluhan kendaraan berhenti di Traffic Light (TL) untuk menunggu lampu hijau.


Karena kondisi jalan yang menurun, truk melaju tak terkendali. Akibatnya, Brakkkk,.. truk menabrak belasan kendaraan yang berhenti di Traffic Light (TL). Laju truk berhenti setelah menghantam pembatas di sisi jalan. Diduga kuat, rem truk blong alias tak berfungsi.

“Itu awalnya nabrak mobil Avanza merah, abis itu kena motor semuanya, motor terus nyerempet ke bis marinir, angkot juga kena sampai malang ke tengah trotoar,” kata salah satu saksi mata yang berada di lokasi, Kunto (35) sekitar lokasi kejadian, Senin (18/7).


Saat kejadian, pria yang berprofesi sebagai Security ini mengaku memusatkan perhatian pada anak dibawah umur yang selamat dari kejadian, dalam kondisi terluka. Belakangan diketahui bahwa anak yang ia selamatkan adalah anggota keluarga korban meninggal dunia.

Peristiwa naas tersebut diketahui terjadi sekitar pukul 15:20 WIB. Usai truk tangki menabrak sejumlah kendaraan di depannya, supir truk lantas keluar dari kendaraan dan meminta pengamanan kepada Kunto.

Akhirnya, sopir diamankan di pos Security hingga petugas kepolisian tiba di lokasi. Laju truk tangki kata Kunto terhenti setelah tertahan oleh beberapa kendaraan roda dua yang ada dibawahnya.

“Tadi supirnya langsung lari minta tolong ke saya, minta bawa ke Polsek, saya amankan dulu ke pos. Saya nunggu dari pihak berwajib dari kepolisian datang baru saya serahkan,” tambahnya.

Di lokasi, Dirlantas Polda Metro Jaya (PMJ), Kombes Pol Latif Usman menyampaikan ada 11 korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut, seluruh korban telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Ia meminta kepada masyarakat yang merasa korban merupakan anggota keluarganya, untuk langsung melakukan pengecekan di RS Polri Kramatjati.

Beruntung tangki tidak mengalami kebocoran. Namun demikian, pihak kepolisian mewaspadai aktivitas masyarakat di sekitar tangki untuk menghindari kejadian tidak diinginkan, seperti kebakaran.

Pihak kepolisian masih mendalami jumlah korban luka-luka akibat peristiwa ini. “Data yang kami peroleh sementara ada 11 yang meninggal dunia, tapi kami masih mencari update terus sampai nanti kita koordinasi dengan pihak RS. Nah untuk korban luka ini masih kita data,” paparnya.

Latif menyampaikan bahwa kontur jalan menurun sepanjang 150 sampai 200 meter sebelum TL, truk tangki mendorong kendaraan lain yang tengah berhenti di TL. Kepolisian akan mendalami, termasuk melalui pemeriksaan supir.

“Baik fungsi rem akan kita lakukan pemeriksaan dari dinas perhubungan untuk mengecek betul laik dari pada fungsi remnya tersebut,” tambahnya.

Dalam peristiwa tersebut, juga merenggut Prajurit TNI-AL Pelda (Mar) Suparno. Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono mengatakan, Suparno dan istrinya diketahui bertugas di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur. Saat kecelakaan di dekat Gerbang Tol Jatikarya, Suparno dan istrinya dalam perjalanan pulang ke Jonggol usai berdinas.
“Suparno pulang sama istrinya. Suparno meninggal. Istrinya anggota PNS angkatan laut juga. Istrinya sampai saat ini masih dicari posisinya di mana,” kata Julius saat dihubungi, Senin (18/7).

Terpisah, Area Manager Communication Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan menyampaikan permintaan maaf dan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban. Ia mengatakan bahwa PT Pertamina Patra Niaga akan bertanggung jawab terhadap peristiwa yang menyebabkan belasan pengendara meninggal dunia tersebut.

“PT Pertamina Patra Niaga akan bertanggung jawab atas peristiwa kecelakaan yang terjadi dan mengupayakan penanganan maksimal pada seluruh korban,” katanya.

Lebih lanjut, Eko menyebut penyebab kecelakaan tengah dilakukan investigasi bekerjasama dengan pihak berwajib dalam hal ini kepolisian. Lepas kejadian ini, Pertamina juga memastikan pasokan BBM tidak mengalami kendala.

Menanggapi peristiwa kecelakaan maut ini, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Setijowarno mengatakan bahwa Indonesia darurat keselamatan lalu lintas. Dari hasil investigasi beberapa kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar kata Djoko, faktor dominan adalah human error.

Bahkan, korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia disebut melebihi fatalitas yang disebabkan oleh Covid-19.”Setiap jam yang meninggal dunia rata-rata tiga orang akibat kecelakaan lalu lintas, sementara Covid satu hari tiga meninggal dunia,” ungkapnya.

Kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan disebut merupakan peringkat pertama penyebab kematian kelompok usia anak-anak dan remaja. Sekitar 50 persen korban kecelakaan adalah pengguna jalan yang rentan seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor.

Berdasarkan data kepolisian, Djoko menyebut ada 147.798 sampai 197.560 korban kecelakaan lalu lintas dalam kurun waktu 2010 sampai 2020. Di waktu yang sama, korban meninggal dunia berkisar 23.529 sampai 32.657 jiwa.

Korban meninggal dunia didominasi usia produktif, yakni usia 15-34 tahun, disusul kategori usia 35-60 tahun.”Berdasar kejadian kecelakaan selama tahun 2020, didominasi oleh sepeda motor yaitu sebesar 81 persen, kendaraan beroda empat menempati posisi kedua sebesar 8 persen, kendaraan truk menempati posisi ketiga sebesar 7 persen, kendaraan sepeda menempati posisi keempat, kemudian sisanya, sebesar 2 persen merupakan kendaraan lainnya,” tukasnya.

Diketahui bahwa truk tangki yang mengalami kecelakaan berisi BBM, petugas dari Pemadam Kebakaran (Damkar) nampak menyiram air di sekitar truk, termasuk badan truk untuk mencegah timbulnya percikan api. Evakuasi terhadap kendaraan truk tangki akan dilakukan setelah BBM dipindahkan ke kendaraan truk tangki yang lain. (Sur)