Berita Bekasi Nomor Satu

Gejala Kasus Covid-19 di Kota Bekasi Lebih Ringan

ILUSTRASI: Petugas memindahkan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, ketika terjadi lonjakan kasus beberapa waktu lalu. Kasus Covid-19 saat ini diklaim jauh menurun. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus Covid-19 terus melandai, namun masyarakat diminta tetap menjaga pola hidup sehat dan sadar protokol kesehatan menyusul masih terjadinya penularan Covid-19 meski gejala cenderung lebih ringan.

Ketua Tim Dokter penanganan Covid-19 Kota Bekasi, Anthony D Tulak menyebut kasus Covid-19 menunjukkan angka penurunan dari sebelumnya. Meski diakuinya masih ada pasien Covid-19 yang dirawat di RS. Namun, jumlahnya saat ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya. “Jadi kasusnya memang turun jauh dan hampir sama seperti influenza, diare, DBD,” ungkapnya.

Ia juga menyebut gejala pasien yang terkonfirmasi Covid-19 saat ini relatif ringan. Meskipun tren kasus Covid-19 sudah menunjukkan perbaikan, kemunculan virus lain tetap harus diwaspadai.

Masyarakat Kota Bekasi diminta tetap waspada, terutama untuk tetap sadar dan memperhatikan protokol kesehatan. “Karena kalau tidak, mengenai ekonomi akan rusak, begitu juga dengan yang lainnya,” tambahnya.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, sejak awal pandemi Covid-19 total ada 182.163 kasus terkonfirmasi, 1.185 diantaranya meninggal dunia, 180.558 dinyatakan sembuh. Kasus terkonfirmasi satu hari pada tanggal 5 Oktober sebanyak 47 kasus, sehingga ada 420 kasus aktif di awal bulan Oktober ini.

Sementara Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman melihat bahwa akhir pandemi Covid-19 semakin dekat. Salah satu indikatornya adalah penurunan kasus secara global. “Bahwa akhir pandemi ini sudah semakin optimis kita capai, ya memang. Apalagi dengan modal capaian vaksinasi, imunitas yang terbangun khususnya di 3 atau 4 dosis yang sudah diraih secara nasional,” kata Dicky.

Tapi, Dicky menggaris bawahi bahwa Indonesia belum benar-benar sampai di garis finis akhir pandemi, sehingga dibutuhkan kekonsistenan untuk mencegah potensi timbulnya varian atau sub varian super yang bisa membalikkan keadaan. Akhir pandemi diprediksi paling cepat terjadi di akhir tahun ini, paling lambat pada pertengahan tahun 2023.

Secara epidemiologi, ada tiga indikator akhir, yakni jumlah kasus aktif dan kematian yang rendah, modal vaksinasi lengkap tiga dosis, kemudian perbaikan dari sisi kebijakan pemerintah.

“Termasuk juga melakukan perbaikan atas kebijakan-kebijakan yang selama ini ternyata berpotensi menurunkan kesehatan publik. Misalnya sanitasi diperbaiki, termasuk universal health coverage,” tambahnya.

Pasca berakhirnya pandemi Covid-19, para ahli sudah mencatat daftar ancaman pandemi berikutnya. Ia mencontohkan virus Ebola yang mulai muncul, belum lagi virus lain yang bersamaan menjadi perhatian para ahli kesehatan di masa pandemi Covid-19, seperti polio dan monkey pox atau cacar monyet.

“Saat ini para ahli global health security, termasuk saya didalamnya sudah mempunyai daftar ancaman pandemi berikut, atau virus ancaman pandemi berikut,” jelasnya.

Sebelumnya Presiden menyebut pandemi Covid-19 sudah mereda. Bahkan kemungkinan dalam waktu dekat Indonesia akan mendeklarasikan akhir pandemi.(sur)